Aigues-Mortes, Grande Motte, dan Palavas Les Flots (Edisi 1) September 13, 2009
Posted by rizaputranto12 in Cerita.9 comments
—
Pada kesempatan yang berbahagia ini, (ups, sepertinya salah memulai tulisan blog deh). Itu tadi bukan kalimat yang tepat untuk memulai. Ini saja.. ehm, ehm..
Setahun kemarin, hidup tampaknya terlalu sempit untukku. Ya, karena hampir selama itu pula, aku terkurung di dalam bilik kecil tempatku merenung, menangis, dan tertawa. Tahun ini, aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih banyak menyeimbangkan segala sesuatu, mulai dari kehidupan di kamar hingga studi di Universitas. Tidak lupa, bahwa aku adalah “tamu” di tanah Napoleon ini. Sehingga berjalan-jalan sedikit tidaklah terlalu berlebihan.
Jadi,
Akhir pekan ini, sebagai liburan dan “santai-santai” terakhir sebelum kembali pada kesibukan dan kebingungan di dunia mahasiswa, aku menyempatkan pergi ke beberapa tempat bersama teman-teman yang berbahagia (haha, pendapat ini aku tambahkan sendiri kok..). Singkat kata, aku pergi ke Aigues-Mortes, Grande Motte, dan Palavas Les Flots. Ketiga tempat tersebut, boleh dikata memiliki karakter yang berbeda tetapi tidak jauh berbeda. Aku membuat kalian pusing bukan, dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas.
Begini,
Kunjungan pertama, pada pagi hari, sekitar pukul 09h20 dari depan Cité Universitaire du Triolet, kami (bertiga, dalam 1 mobil berjuluk “bajaj sakti”.. jangan tanya artinya, aku sendiri belum begitu mengerti ketika dijelaskan oleh pemiliknya) langsung menuju ke Aigues-Mortes, terletak 20-an km dari Montpellier ke arah tenggara, di daerah yang dinamakan La Petite Camargue (Note: blog ini tidak akan jadi seperti brosur touristic, heeff). Disana, terbentang sebuah kastil tua, yang didirikan pada awal abad ke-18. Berumur 200-an tahun dan masih megah berdiri. Di dalamnya, terdapat kota kecil (boleh dikatakan kehidupan, ingat bagaimana film-film Robin Hood, atau Joan of Arc, menceritakan zaman kegelapan, dimana banyak kepala dipenggal, huuf, kebanyakan nonton film nih..) yang menarik. Mereka hidup dari berjualan souvenir atau membuka restoran untuk tamu-tamu (lebih tepat disebut turis-turis) yang mampir ke Aigues-Mortes. Pendapat pribadiku mengatakan, setelah beberapa kali, sempat ke kota ini, pada 3 musim yang berbeda (musim dingin, musim panas, dan hari ini, musim gugur) kota ini memang memiliki cara tersendiri untuk hidup.
BYE BYE SARDIN. September 10, 2009
Posted by rizaputranto12 in Cerita.2 comments
—
Selalu menjadi pertanyaan, mereka yang mengenyam pendidikan atau tinggal di negeri lain, selama beberapa waktu. Yakni, sebuah pertanyaan mengenai makanan. Sebagaimana kita tahu, manusia memerlukan makanan sebagai sumber energi aktivitasnya sehari-hari. Mereka yang tinggal di luar negeri, beberapa, akan mencoba membiasakan diri dengan makanan asing yang mungkin memiliki rasa berbeda dengan lidah mereka. Beberapa yang lain mencoba untuk mencari alternatif lain, dengan membeli makanan dari ras yang mirip. Misalkan, orang Indonesia yang mencari rasa gurih dari masakan Cina. Mereka akan membelinya dari restoran Cina. Alternatif lain adalah, memasak.
Alternatif terakhir tersebut sering kali dijauhi beberapa rekan-rekan (mereka yang bersaksi dan bercerita, hehe), bahwa memasak itu menghabiskan waktu. Tentu sangat dimengerti betapa kesibukan sebagai pelajar di negeri asing ini memang melelahkan. Rasa malas untuk memotong bawang, menggoreng dan menumis adalah wajar. Namun, jika dipikirkan lagi, memasak merupakan kegiatan yang menyenangkan.

Jujur, aku bukanlah seseorang yang bisa, pandai dan gemar memasak sebelumnya. Maklum, budaya di keluarga tidak mengizinkan seorang lelaki untuk berada di dapur, sehingga hingga usiaku hampir bedhol desa ini aku almost tidak bisa memasak. Alhasil, setahun pertamaku di negeri Bonaparte ini, kuhabiskan dengan melahap berbagai macam sardin selama hampir satu tahun. Sebagai anak biologi, aku sadar betul resiko memakan sardin. Kata mereka (teman-teman) sih tidak baik untuk kesehatan, tetapi setahun kemarin, asal perut bapak kenyang, semuanya aman-aman saja.
— Keperluan dapurku, hmm, ayam gorengnya enak tuh.
KUNCI INGGRIS. September 6, 2009
Posted by rizaputranto12 in Cerita.5 comments
—
Setelah beberapa hari menggunakan sepeda kemana-mana, ternyata ada satu hal yang kurang. Yaitu, sadel sepedaku terlalu rendah. Jadi, dikarenakan aku tinggi, maka lututku selalu tertekuk ketika mengayuh. Tentu saja hal tersebut membuat pegal. Setelah berfikir, akhir pekan ini, aku memutuskan untuk pergi ke Pasar Kaget ala Perancis, di Mosson, dekat Stade de Mosson di Montpellier. Dengan tujuan apa? Yaitu, membeli kunci inggris untuk memperbaiki sadel sepeda.
Kunci Inggris, adalah sebuah perkakas, dalam bahasa Inggris disebut wrench, yang multifungsi. Desain ergonomis dengan kepala penjepit yang dapat disesuaikan membuat kunci ini sangat terkenal di kalangan para pegawai bengkel.
Setelah berputar-putar pasar Mosson selama hampir 1 jam, kubeli sebuah kunci Inggris dari seorang pedagang dengan harga 3 euros. Mungkin ini, adalah kunci Inggris termahal yang pernah kubeli, bila dibandingkan dengan ukuran rupiah.
Satu hal yang menggelitik, adalah, bahwa sebelumnya aku berfikir tidak (more…)
MONTPELLIER, ICI, L’ANNEE PRECEDENTE September 5, 2009
Posted by rizaputranto12 in Cerita.4 comments
—
(Montpellier, disini, setahun kemarin)
Montpellier, 5 September 2008.
Keadaan kota ini terasa asing. Mulutku terkatup rapat, dan hatiku berdegup kencang. Ini adalah kali pertama, aku menginjakkan kaki di Negeri Paman Bonaparte. Aku berada di Rue Foch, yang terletak di Centre Ville (pusat kota) menghadap ke arah Arc de Triomphe (seperti yang terdapat di Paris). Di tengah jalan ini, aku melihat ke depan, dan terkesima dengan arsitektur bangunan kota ini yang kuno, kokoh dan indah. Bersama dua rekan pelajar Indonesia, kami menjelajahi daerah Jardin de Peyrou selayaknya para pujangga desa mencoba menyanyikan syair di kota besar.

Montpellier, 5 September 2009.
Aku merasa mengenal kota ini. Kulangkahkan kakiku menuju titik temu, dimana setahun kemarin, aku “si anak desa”, mencoba untuk menguji nyali di negeri orang. Aku tersenyum. Teringat bahwa setahun kemarin keadaan berbeda. Kali ini, aku kembali ke tempat yang sama pada hari yang sama. Hanya untuk mengingatkan diriku bahwa perjalanan belum usai. Etape kedua, telah disiapkan, jalur telah diamankan dan bendera siap dikibarkan. Kuarahkan kameraku kepada saksi-saksi bisu. Dan, mereka memberikan jawaban melalui gambar-gambar yang tertangkap.

DEKORASI KAMAR CITE, PERLU TIDAK ? September 3, 2009
Posted by rizaputranto12 in Cerita.7 comments
—
Lagi-lagi sebuah cerita mengenai pengalaman hidup di negeri Paman Sarkozy, semoga menggelitik, perih tapi menyenangkan. Ide cerita muncul di sebuah lokasi belanja bernama IKEA di daerah Grammont, Odysseum (masih di Montpellier ), ketika menemani seorang kawan berbelanja demi keperluan rumah tangga-nya.
“Hoaaahem…” mulutku ternganga, seperti kuda nil yang kelaparan. Tentu saja, karena ini adalah bulan puasa. Aku berdiri disamping trolly yang penuh dengan barang-barang perabotan rumah tangga. Nope ! Itu bukan milikku. Disamping kiri, temanku yang baik hati dan tidak sombong tengah berkeliling, berkerut dahi dan memilih keperluan yang akan dibelinya. Dia ini termasuk anak yang penuh dengan perhitungan, dan untuk memutuskan membeli sesuatu pastinya dipikirkan secara matang. Maklum, cewek. Mataku mengarah ke jalur tengah dimana banyak orang-orang pribumi berlalu-lalang. Manusia-manusia berambut jagung tersebut sepertinya juga sedang sibuk, berkerut dahi dan berdiskusi bersama patner belanja mereka. Semua itu demi sebuah keputusan terbaik, beli atau tidak !