MENOLONG

Judul diatas dengan mudah dapat dibaca bukan? Juga dengan mudah dapat dimaknai. Tetapi sesungguhnya merupakan sebuah sikap yang terkadang rumit untuk dilakukan.

— Help ! Help ! Help ! —

Pertama, dari segi kodrati manusia. Dia adalah makhluk yang tidak dapat hidup sendiri. Dia membutuhkan uluran tangan dari sesamanya, dalam bentuk langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dapat digambarkan dalam hubungan horizontal afektif. Sebuah permohonan bantuan, misalkan, kepada seorang kawan. Lalu, secara tidak langsung, adalah hubungan horizontal non afektif. Hubungan ini dengan mudah dapat digambarkan ketika manusia bertransaksi di toko. Oleh karena itu dikatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Saya kira tidak terlepas siapapun dia.

Kedua, dari segi pandangan religi. Apapun agama yang dianut, hendaknya selalu mengajarkan manusia untuk berbuat kebaikan. Menolong manusia lain, adalah salah satu dari kebaikan tersebut. Dan dari sinilah landasan bagi mereka yang menolong sesama. Kemudian, dalam kehidupan tolong menolong membentuk jaringan yang semakin lama semakin rumit. Dan, dapat dimengerti bahwa terkadang meminta pertolongan tidak selalu berakhir mulus. Hal ini berlaku sama untuk sang penolong.

Dengan kata lain, belum tentu seseorang akan selalu dibantu atau mampu memberikan bantuan. Jika boleh saya kembali ke ajaran religi, terkadang ujian untuk menolong menjadi sebuah dilema. Ini adalah cerita yang saya alami secara pribadi.

Sebagaimana diketahui, saya sudah menyelesaikan tugas utama saya sebagai seorang pelajar. Orang bilang, saya sudah memiliki banyak waktu longgar. Walau pada kenyataannya tidak, seperti yang terlihat. Beberapa urusan administrasi terkait tempat tinggal baru saya, hingga pengurusan beberapa surat penting berbarengan dengan pekerjaan tambahan di laboratorium dimana saya bekerja yang harus saya ampu. Terlihat kecil tetapi cukup membuat otak saya berputar untuk mengakali waktu. Ditambah perkara motivasi saya yang sudah jauh menurun sejak klimaks gegap presentasi final Master saya.

Namun semua ini tidak lantas membuat rencana liburan musim panas saya bubar. Beberapa harus mengalami modifikasi tetapi tetap saya mencoba untuk menikmatinya. Dan, inilah saat ketika ujian menolong tersebut tiba. Ketika saya sedang duduk dan mengerjakan yang menjadi beban saya, terdengar suara pintu saya diketuk. Saya membuka pintu dan terlihat seorang gadis dengan wajah memelas memandang saya. Dia sehentak berkata bahwa dia memerlukan bantuan saya. Bantuan apakah itu?

Gadis tersebut berdiri seraya menahan tongkat. Dia nampaknya sedang terluka, ketika saya melihat kaki kanan yang dibalut gips. Bercak darah terlihat membasahi gips tersebut. Sembari saya melihat, dia terus bercerita bahwa makanan di kamarnya telah habis dan dia sangat membutuhkan seseorang berbelanja untuknya.

Saya sebenarnya, jujur, sedikit banyak berhati-hati. Kenapa? Sederhana saja, karena saya tidak kenal dia. Kebetulan saya sedang dikejar beberapa tenggat tugas terutama yang terkait dengan persiapan PhD saya. Sehingga saya jelaskan kepada dia, bahwa saya tidak memilliki waktu luang karena saya diwajibkan bekerja dari pagi hingga malam. Namun dia sepertinya tidak peduli dan terus berujar meminta saya berbelanja di tempat yang sudah dia tentukan.

Kebetulan lokasinya cukup jauh dari asrama mahasiswa dimana kami tinggal. Jika boleh saya kritik, cara dia memohon pertolongan pun jauh dari dikatakan sopan, karena terkesan memaksakan. Beberapa pertanyaan sempat terbersit dibenak saya. Apakah dia tidak memiliki teman dekat sehingga harus meminta saya yang notabene orang asing bagi dia? Kenapa dia begitu memaksakan dan seolah yakin bahwa saya “harus” membantunya? Ditambah, pikiran saya sedang bercabang-cabang, bagaimana ini? Haruskah saya menerima permintaan dia?

Lalu entah kenapa beberapa menit kemudian saya menghentikan berfikir, menggunakan nurani saya. Akhirnya saya menerima permintaan dia, walau saya agak takut juga. Saya berujar pada diri sendiri, ya sudahlah, semoga berpahala.

Sore besoknya, saya menyempatkan diri berbelanja untuk dia. Badan saya yang letih saya paksakan. Bersyukur pula, urusan saya dipermudah di laboratorium sehingga saya diizinkan untuk pulang lebih cepat. Saya bergumam bahwa gadis tersebut nampaknya beruntung. Indahnya, sore itu, hujan membasahi bumi dan membuat tanah sejuk. Musim panas yang sedari beberapa hari menunjukkan teriknya, dibasuh oleh hujan selama 1 jam.

Saya kembali pada dia dan memberikan kantong belanja tersebut. Bukannya mendapat ucapan terima kasih, saya malah diminta membuangkan sampah yang teronggok di kamarnya. Sungguh aneh gadis ini, saya berfikir demikian. Tetapi saya tidak ambil pusing, toh niat ini sudah ikhlas. Lagi-lagi ini adalah pengalaman bagi saya.

Pesan moral dari cerita saya adalah suatu saat logika tidak akan cukup untuk memberikan keputusan. Akan tetapi, setelah hati nurani berbicara, kembali logika yang akan melakukan evaluasi. Kemudian, hendaknya tetap berhati-hati kepada siapapun yang tidak kita kenal, walaupun tidak dapat dinilai dari penampilan.

—-

Riza-Arief Putranto, 29 Juni 2010. Sebuah cerita sederhana, ditengah terik mentari musim panas di Eropa.

2 thoughts on “MENOLONG

  1. Menolong terkadang memang tidak memerlukan berpikir lama. Hanya sebuah hati kecil yang akan mengerakkan kita, apakah mau menolong orang yg tidakdi kenal apa tidak.. Nice story om, thanks dah berbagi

    • Iya, senang berbagi. Hanya bisa cerita tentang pengalaman pribadi, hehe. Daripada bergosip tentang orang lain :)

      Semangat Trias…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s