CINTA ITU TIDAK HARUS BUTA ATAU TULI

Ketika berbicara cinta, sebagian besar orang setuju bahwa cinta itu buta. Cinta itu tidak mengenal harta dan tahta. Cinta itu tidak memiliki logika. Cinta itu tidak bisa diraba, tapi mampu membuat sang penderita tersenyum sendiri sepanjang hari.

Cinta itu tidak harus buta atau tuli. Hal tersebut berarti seseorang juga memakai logika untuk jatuh cinta. Dia melihat siapa sang pasangan, latar belakang dan sebagainya. Dia memikirkan bagaimana masa depan bersama sang pasangan.

Seorang teman percaya bahwa cinta itu tidak harus buta atau tuli. Dia melihat bagaimana pasangan dia bukanlah Angelina Jolie atau Brad Pitt, namun memilih untuk mencintainya. Dia mendukung tim sepakbola yang berbeda dengan pasangannya dan setiap akhir pekan bertengkar karena saling ejek namun tidak menghentikan rasa cinta itu.

Seorang teman lain juga percaya bahwa cinta itu tidak harus buta atau tuli. Dia percaya bahwa karena pernah kehilangan pasangan hidup bukan berarti dia harus membabi buta mencari pasangan baru. Dia tahu kapan harus memikirkan dan kapan harus tidak. Dia tidak perlu menunggu lama untuk akhirnya hidup memberikan dia pasangan baru.

Tetangga apartemen juga percaya bahwa cinta itu tidak harus buta atau tuli. Dia percaya bahwa dengan cerewet setiap hari, dia menunjukkan bahwa dia peduli dan bukan sebaliknya seperti bagaimana suaminya tuduhkan. Dia tahu bahwa kebiasaan buruk suami membuang sampah dari jendela akan mengganggu orang, maka dia melarang suaminya membeli makanan dengan bungkus plastik.

Sayangnya, saya masih punya kolega yang mengusung tema cinta itu buta dan tuli. Dengan mengungkapkan bahwa sahabat saya yang dia taksir dianggapnya sebagai “adik” saja, malah semakin menunjukkan bahwa cintanya buta. Kolega tersebut sering berperilaku emosional terhadap teman-teman sejawat namun tidak pada sahabat saya. Oh cintanya itu buta. Setiap hari kolega saya menanyakan bagaimana kabar sahabat saya yang ketika saya tanya balik dia menyangkal peduli. Ketika kolega itu mengungkapkan cinta kepada sahabat saya dan ditolak, dia tetap berharap. Oh cintanya itu buta (lagi).

Saya jadi mengerti kenapa lagu Peterpan atau Noah laku keras. Sebagian besar syairnya mengungkapkan tentang cinta yang buta dan tuli. Tinggal kita memilih memang. Orang bilang ketika sudah menikah, cinta itu akan mengalami transformasi menjadi bentuk lain. Dan, itu benar adanya. Sayangnya saya sukar mengungkapkan itu dengan kata-kata.

Cintamu terhadap sesuatu membuatmu buta dan tuli – H.R. Ahmad

Sumber gambar : www.today.ucla.edu

Riza-Arief Putranto, 21 Februari 2013.

About these ads

3 thoughts on “CINTA ITU TIDAK HARUS BUTA ATAU TULI

  1. Pendapat dan pemikiran Anda cukup bagus. Jika cinta itu bisa di pelajari, maka tidak ada salahnya kita belajar dan mengerti cinta itu. Cinta harus di sertai logika bukan hanya perasaan, cinta yang mengikutsertakan bermain nya logika membuat hubungan semakin ideal dan saling menguntungkan. Contohnya: Dalam suatu hubungan salah satu pihak selalu merasa dirugikan karena hanya memakai perasaan tanpa logika. Lebih baik belajar untuk dapat menjalin sebuah hubungan yang ideal sehingga kedua belah pihak tidak saling merasa dirugikan.

    Salam revolusi cinta,
    HitmanSystem.com
    Pusat Konsultasi & Edukasi Cinta Terpercaya di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s