Kita menciptakan warisan digital untuk diri sendiri setiap harinya, bahkan secara mengejutkan setiap menit. Lebih dari jutaan pengguna akun jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya online setiap saat. Semua informasi tentang pribadi yang tersimpan dan terekam secara online adalah catatan dari hubungan sosial dengan orang lain, ketertarikan & hobi, serta kepercayaan. Itulah siapa kita yang sesungguhnya. Seorang kepala pelayanan perangkat lunak untuk sebuah merek telpon genggam di San Francisco, Hans-Peter Brondmo, menyebut itu semua koleksi data dari ‘jiwa digital’.
Terima kasih kepada sistem penyimpanan dan easy copying, jiwa digital kita berpotensi untuk sesungguhnya abadi. Tetapi apakah benar bahwa segala sesuatu yang kita lakukan secara online berupa komentar-komentar, status, foto-foto memalukan disimpan untuk anak cucu ? Hal ini tentu menjadi pilihan. Kaum ‘preservationist’ percaya bahwa kita memiliki kewajiban kepada anak cucu (berupa menyimpan segala informasi terkait pribadi). Di sisi lain, kaum ‘deletionist’ memahami bahwa beberapa hal seharusnya dilupakan dan dijauhkan dari konsumsi publik.




