‘Kamu adalah kepompong. Kamu akan menjadi kupu-kupu nantinya’, ujar Robert Duval (nama samaran). Dua kalimat tersebut adalah kalimat pembuka yang beliau ungkapkan kepada saya, ketika kami berdua bertemu dalam rangka wawancara pasca komite tesis (entretien pos-comité de thèse).
Matahari masih enggan muncul dari peraduannya, ketika saya memulai hari bersama Robert Duval. Seorang peneliti senior dan ahli dalam penelitian Kelapa Sawit di dunia yang kebetulan menjadi wakil Universitas dimana saya menjalani studi S3. Kami membuat rendez-vous (RV) pukul 07h00 di depan lembaga riset bernama IRD (Institut de Recherche pour le Développement).
Saya tiba di lokasi RV kami 15 menit sebelum waktunya. Dan saya menghabiskan waktu dengan berimajinasi tentang tipe percakapan yang akan saya hadapi. Terus terang saya grogi dan tidak tahu harus menjelaskan apa-apa.




