LAHIRNYA GENERASI INTELEK DARI SEBUAH PROGRAM BEASISWA

Sebuah tulisan di rubrik opini pembaca Koran Kompas, tertanggal 20 Agustus 2009, yang ditulis oleh Doni Koesoema, mengangkat sebuah tema mengenai “Usaha melahirkan generasi peneliti di bumi pertiwi”. Penulis adalah seorang alumnus Boston College Lynch, School of Education, Amerika Serikat. Dalam tulisannya, beliau memaparkan mengenai minimnya akademisi dalam negeri yang menulis jurnal ilmiah, baik setaraf nasional maupun internasional.  Penulis menganalisa gejala tersebut sebagai akibat dari sebuah proses pendidikan yang tidak dikelola secara berkesinambungan, dari pendidikan dasar hingga tinggi. Alasan akan ketidakberadaan budaya atau lebih pantas disebut tradisi publikasi hasil riset, ternyata bukan merupakan penyebab utama mandegnya seni keilmuan negeri tercinta. Dalam tulisan tersebut, inti permasalahan yang diungkapkan adalah sistem dalam kurikulum nasional beserta evaluasi yang tidak memberikan tempat untuk lahirnya generasi peneliti. Boleh dibilang kultur pendidikan kita, jauh dari kerangka sebuah penelitian.

 

Aku sendiri, mencoba memahami kalimat-kalimat tersebut. Bukanlah sebuah kritik pedas, bukanlah sebuah sindiran, melainkan sebuah ketukan hati, untuk membangunkan kita semua, para pelajar muda. Boleh dikatakan jiwa peneliti lahir dari tanda interogasi dalam artian “rasa kagum yang melahirkan tanya”, sebagaimana diungkapkan Doni Koesoema. Aku setuju dengan pernyataan ini. Jika kita menilik dari pendidikan di Indonesia, menurut pengalaman pribadi, terdapat, memang, kesenjangan antara apa-apa saja yang dipelajari selama pendidikan dasar hingga tinggi, dengan pekerjaan. Namun, pada dasarnya, di negara kita, dunia pelajar dan mahasiswa seolah seperti dunia yang berbeda bilamana dibandingkan dengan dunia kerja. Dua dunia ini seolah seperti terpisah oleh jurang yang sangat dalam. Artinya, ketika memulai dunia kerja, manusia yang memang sebuah “learning creature”, memulai lagi pembelajaran untuk menyesuaikan kondisi dimana dia ditempatkan, diposisikan, bahkan dipekerjakan. Setidaknya, itu yang kuperhatikan. Namun, kasus ini nampaknya tidak dapat digeneralisasi, dalam opini masyarakat yang tentu saja beragam.

 

Namun, ketika duduk dan berfikir, mataku kembali mengarah ke sebuah rubrik yang tak kalah menarik, yang berjudul “Oase pendidikan bernama beasiswa”. Jujur, selama ini, aku belum pernah membayangkan bahwa beasiswa merupakan sebuah oase. Aku dahulu hanya berfikir bahwa pekerjaanku-lah yang menuntutku untuk berilmu tinggi, mendorongku untuk meraih gelar tertentu, demi karir. Opini tersebut benar, namun ternyata tidak hanya itu saja. Menilik dari diskusi bersama beberapa kawan baik penerima beasiswa, apapun motivasi yang diusung masing-masing individu (menabung, jalan-jalan ke luar negeri, menjalin networking, berteman, membuka wawasan, karir, berpetualang, mencari suasana baru), ternyata dapat ditarik sebuah benang merah dari semua alasan dan motivasi tersebut.

 

Beasiswa, yang menurut seorang kawan di Australia “mahal” harganya, karena tidak semua orang mampu meraihnya, ternyata tidak hanya menjadi jalan untuk pergi ke luar negeri, mengenyang pendidikan kualitas tinggi, namun juga menjadi sebuah media untuk mengasah calon-calon pemimpin negara generasi mendatang. Sifat “mahal” beasiswa ini, menjadikan para penerima beasiswa adalah duta-duta bangsa, yang mengusung nama negara, mewakili Garuda, dan berkesempatan untuk mengenyang sebuah budaya. Budaya yang disebutkan Doni Koesoema, budaya mempubliksikan hasil riset yang didukung oleh sebuah sistem pendidikan yang kritis. Harapan kedepannya adalah munculnya generasi-generasi periset baru, yang mampu mendobrak dan menjamurnya budaya riset yang baik.

 

Melahirkan peneliti, kita semua setuju, membutuhkan kerja keras dari semua pihak. Lalu, kenapa kita membutuhkan dunia penelitian ? Jawabannya sederhana, karena inovasi dan bergeraknya ekonomi dimulai dari penelitian. Inovasi yang merubah cara hidup sebuah kelompok atau bangsa, yang membawa mereka ke arah yang lebih baik. Rasanya pemahaman ini telah dimengerti banyak pihak, hanya saja dalam praktiknya tidak selalu semudah itu. Jadi, marilah kita semua dalam posisi masing-masing berusaha untuk memberikan sumbangsih dan peran untuk kemajuan bangsa dan negara.

Tulisan ini dipersembahkan sebagai “hadiah” Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-64, dari sebuah kamar kecil, di Montpellier, Perancis. Riza-Arief Putranto. 28 Agustus 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s