CATATAN AWAL TAHUN KEDUA

Blog ini diawali dengan sebuah tulisan yang berkriteria lumayan serius. Kali ini, penulis mencoba untuk membawa kembali cerita-cerita khas dari Montpellier, kota tercinta di Perancis. Enjoy !

Setelah 10 hari, sejak kedatangan di Montpellier, terus mencoba mencari wangsit dan keinginan untuk kembali menulis, meskipun hanya catatan selembar kecil, akhirnya, ide itu datang juga. Sebuah cerita seperti biasa, menggambarkan suasana awal tahun di Montpellier.

Montpellier, kota pelajar di selatan Perancis ini, mengulang sebuah kalimat yang kugunakan tahun lalu untuk memulai sebuah tulisan, adalah kota yang terkenal dengan matahari bersinar sepanjang tahun. Meskipun boleh dikatakan ketika musim dingin tiba, kota ini praktis dibasahi oleh hujan dan didinginkan oleh hembusan angin mediterania yang sanggup mematahkan payung murah seharga 17 euros (padahal bila dihitung-hitung menggunakan rupiah, payung itu termasuk mahal lho). Cuaca di Montpellier sedang bersahabat pada awal bulan September ini, cukup melegakan bagi kami, pelajar Muslim yang menjalankan ibadah puasa. Hanya saja, harus pintar-pintar mensiasati kegiatan bila tidak ingin dehidrasi berlebihan.

Selama 10 hari terakhir, tinggal di kamar dan membaca sebagian besar buku-buku kuliah tahun kemarin, sekedar untuk refreshing bahasa Perancis, merupakan kegiatan yang cukup membosankan. Selama musim panas tidak banyak kegiatan berarti, perkantoran tutup begitu pula dengan Universitas. Semua orang pergi berlibur. Tetapi, terhitung 1 September ini, suasana berubah drastis di Montpellier. Kota ini seperti  “hidup” kembali. Mulai terlihat banyak pelajar yang datang dari seluruh dunia, menarik-narik bagasi berat mereka, lalu menaiki tangga “melelahkan” di Cité Universitaire du Triolet, dimana aku tinggal. Begitu pula dengan pendaftaran universitas yang ternyata sangat melelahkan.

Yup, kalimat terakhir itulah catatan terpenting ku pada awal tahun ini. Tidak pelak, ratusan mahasiswa bertumpah ruah di sebuah ruangan kantor yang tidak begitu besar, tanpa pendingin ruangan. Berkeringat, tentu saja. Rencana ngantri yang dimulai pukul 11h30 dan berakhir pada pukul 16h00 dengan secarik kertas bertuliskan “890”. Ketika pukul 16h00 berdentang, tanda bagian penerimaan pendaftaran tutup, nomor antrian masih berada di “760”. Menghela nafas, aku membalikkan badan, penuh keringat punggung ini, dan berujar agar sabar. Ya, ujian puasa kita ternyata tidak hanya dari segi menahan lapar, tapi benar-benar menahan semuanya.

Bete, kata anak-anak muda Indonesia. Padahal, aku sendiri tidak mengerti dengan kata “bete” yang katanya diambil dari bahasa Inggris “bad mood”. Aku selalu bertanya darimana asal “te” tersebut. Nevermind ! Alhasil, aku “kabur” ke Centre Ville, selama waktu menunggu tersebut (masih sempat-sempatnya), dan ketika kembali pun masih belum tiba giliranku. Di Centre Ville, aku bertemu beberapa kawan di Universitas tahun lalu, yang masih bertahan di kota “kejam” (baca posting-posting terdahulu di Facebook) ini. Suasana tentu saja langsung cair, tidak seperti tahun lalu yang masih takut dalam menggunakan bahasa Perancis. Obrolan ringan tersebut cukup membuatku senang.

Sore hari, duduk di depan Théâtre de Comédie, bersama Mas Gan Gan dan Mas Irdham (kebetulan baru datang dari Jerman), membuat soreku berbeda juga. Berbeda, karena juga sebelumnya aku berebut membeli obat cuci muka dan parfum Axe seharga total 10 euros (Parfum Axe di Indonesia hanya seharga 30 ribu-an yah?). Tidak lagi terbelenggu oleh buku-buku yang sepertinya membuatku bermutasi secara spontan (aku sendiri tidak mengerti apa makna kalimat ini). Berbincang sebentar mengenai pengalaman kami, akhirnya aku kembali ke kamarku yang masih penuh dengan buku-buku berserakan di tempat tidur. Karena kelelahan seharian, memiliki kegiatan yang tidak jelas, akhirnya aku tertidur hingga lewat waktu buka puasa.

Selesai berbuka puasa, rasa bête tersebut datang kembali. Kali ini menyerang dengan lebih dashat, entah kenapa. Ditambah, masih kepikiran perkara gempa di Indonesia (trauma gempa Jogja). Yah, akhirnya kembali kaki ini kulangkahkan keluar, menemui Ibu Pelindung Pelajar di Montpellier (Ibu Wati, love you mom..) hanya untuk mengambil sebuah sepeda milik anaknya yang dihibahkan padaku. Seperti anak kecil yang keranjingan permen, aku kayuh sepeda tersebut berputar-putar dalam hujan yang membasahi semua bajuku. Maklum, ban belakangnya tidak ditutup pelindung jadi air jalanan mengotori sweater kesayanganku. Tapi, aku tidak peduli, kukayuh terus sepeda itu, hingga kelelahan dan akhirnya aku kembali ke kamar tercinta. Melihat mukaku belepotan di depan cermin akhirnya aku tertawa terbahak-bahak, dan hilanglah yang bernama bete tersebut.

Satu hal yang kuambil hikmah dari catatan awal tahun ini, adalah “perjalanan masih panjang”, dan bahwa “bersepeda mampu menghilangkan ke-bete-an”. Yup ! Bienvenue encore à Montpellier.. (Selamat datang kembali ke Montpellier).

Riza-Arief Putranto, 2 September 2009. Bete pertama di Montpellier.

2 thoughts on “CATATAN AWAL TAHUN KEDUA

  1. yup, sedang memulai untuk masukin ke blog yang baru dan lebih bagus rapi gitu.. memenuhi keinginan beberapa orang juga.. btw, kalo disini, urusan masing2 ah angkat2 koper.. hehe :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s