DEKORASI KAMAR CITE, PERLU TIDAK ?

Kamar cité, seperti inilah kira-kira..

Lagi-lagi sebuah cerita mengenai pengalaman hidup di negeri Paman Sarkozy, semoga menggelitik, perih tapi menyenangkan. Ide cerita muncul di sebuah lokasi belanja bernama IKEA di daerah Grammont, Odysseum (masih di Montpellier ), ketika menemani seorang kawan berbelanja demi keperluan rumah tangga-nya.

 “Hoaaahem…” mulutku ternganga, seperti kuda nil yang kelaparan. Tentu saja, karena ini adalah bulan puasa. Aku berdiri disamping trolly yang penuh dengan barang-barang perabotan rumah tangga. Nope !  Itu bukan milikku. Disamping kiri, temanku yang baik hati dan tidak sombong tengah berkeliling, berkerut dahi dan memilih keperluan yang akan dibelinya. Dia ini termasuk anak yang penuh dengan perhitungan, dan untuk memutuskan membeli sesuatu pastinya dipikirkan secara matang. Maklum, cewek. Mataku mengarah ke jalur tengah dimana banyak orang-orang pribumi berlalu-lalang. Manusia-manusia berambut jagung tersebut sepertinya juga sedang sibuk, berkerut dahi dan berdiskusi bersama patner belanja mereka. Semua itu demi sebuah keputusan terbaik, beli atau tidak !

 Lalu, kenapa aku ada disini? Kenapa temanku itu berbelanja ? Sebuah pemikiran sederhana namun menggelitik terbersit di kepalaku yang kekurangan oksigen ini (ngantuk red). Semua kegiatan ini berlangsung, karena sebuah keinginan wajar, normal, dan habituel seorang anak manusia, yakni ingin mendekorasi kamar cité agar menjadi lebih nyaman dan membuat betah.

 Sebuah kamar berukuran kecil, terkenal dengan sebutan chambre universitaire, merupakan hak pelajar baik Master maupun Licence (setaraf Strata 1). Kamar berukuran 5×3 m2 tersebut dilengkapi dengan perabotan minimal, seperti tempat tidur untuk 1 orang, sebuah lemari pakaian, sebuah meja panjang, sebuah kulkas kecil dan wastafel lengkap dengan kaca besarnya. Tetapi, kamar dan fasilitas tersebut tentu akan berbeda di kota-kota lain di Perancis. Sebagian pelajar lain, yang memiliki rezeki berlebih, memilih tinggal di studio, yang notabene lebih besar dari chambre tersebut. Semua tergantung taste !

 Seringkali, saran rekan-rekan pelajar lain yang berujar “sebaiknya di Perancis, jangan membeli barang-barang terlalu banyak” untuk sebuah alasan klasik agar tidak memberatkan ketika nantinya kembali ke tanah air. Terdengar klise, akan tetapi ini benar adanya. Dikarenakan, di negara ini, semua diurus sendiri, jadi kegiatan pindah dan angkut-angkut terasa lumayan berat. Bayangkan, di Indonesia, kita mampu melakukan kegiatan atlit tersebut dengan cukup ringan. Hanya dengan merogoh kocek sebesar 20 ribu rupiah per orang, kita mampu menyewa tukang angkat barang untuk membantu. Disini, jangan harap bisa lakukan itu tanpa merogoh kocek lebih dalam lagi.

 Akan tetapi, kembali ke topik, bahwa manusia adalah makhluk afektif, rumit dan tidak dapat diprediksi. Maka memang dekorasi sebuah kamar dapat menentukan kenyamanan belajar, dan yang lebih penting lagi tinggal. Hal ini juga penting, mengingat, hiburan keluar untuk sekedar menikmati segelas kopi, atau bir, atau sebuah acara teatrikal terbilang cukup mahal. Memang tidak perlu sesering mungkin dalam berkegiatan keluar.

 Temanku tadi mencoba melengkapi apa-apa yang kurang di kamarnya, termasuk kami berdua membeli sebuah lilin aromatik (aroma terapi) supaya kamar kami harum, tanpa menggunakan spray deodorant ruangan. Sedangkan, aku sendiri, sedang sibuk memikirkan bagaimana memasang sebuah lukisan abstrak pemberian seseorang, tanpa merusak dinding kamar cite. Dikarenakan memang, disini, kami tidak diperkenankan melakukan kegiatan memaku dan dipaku (lebay…). Dendanya terbilang mahal jika sampai kamar kami rusak.

 Nah, sebuah pertanyaan klasik muncul kembali, namun kali ini dilengkapi kesimpulan untuk menjawab. Bagaimana kalau kita susun bersama deduksinya?

 Premis 1 : Pelajar harus menjaga mood dan rasa betah di dalam kamar salah satunya dengan dekorasi kamar cité.

Premis 2: Pelajar harus tetap mempertimbangkan budget agar hidup nyaman selama di Perancis.

 Pertanyaan yang diajukan : Dekorasi kamar cité, perlu tidak ?

 Aku bukan ahli bahasa, tetapi nampaknya kedua premis memang sudah tidak logis. Sekali lagi tetapi, apakah terkadang kita memerlukan sebuah alasan untuk melakukan sesuatu? Make ourself happy ! Itu yang terpenting…

 —

 Riza-Arief Putranto, 3 September 2009. Pulang berbelanja, lelah.

7 thoughts on “DEKORASI KAMAR CITE, PERLU TIDAK ?

  1. Za, kamar cité nya berarti kecil sekali dong , trus kamar mandi and dapurnya di luar dan dipakai bareng2 gitu?.. Ehm kalau ukuran cité nya segitu, susah juga si dekornya, hbs ga bisa diubah letak perabotnya.. paling juga hanya bisa ditambah pernak-pernik lucu aja. Wah ini mah tipe cité minimalis deh🙂

  2. Ya, intinya sih yang penting dapet kamar utk tidur. Menurutku sih cukup nyaman kok, lagipula kenapa juga harus boros2.. hehe..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s