BYE BYE SARDIN.

Selalu menjadi pertanyaan, mereka yang mengenyam pendidikan atau tinggal di negeri lain, selama beberapa waktu. Yakni, sebuah pertanyaan mengenai makanan. Sebagaimana kita tahu, manusia memerlukan makanan sebagai sumber energi aktivitasnya sehari-hari. Mereka yang tinggal di luar negeri, beberapa, akan mencoba membiasakan diri dengan makanan asing yang mungkin memiliki rasa berbeda dengan lidah mereka. Beberapa yang lain mencoba untuk mencari alternatif lain, dengan membeli makanan dari ras yang mirip. Misalkan, orang Indonesia yang mencari rasa gurih dari masakan Cina. Mereka akan membelinya dari restoran Cina. Alternatif lain adalah, memasak.

Alternatif terakhir tersebut sering kali dijauhi beberapa rekan-rekan (mereka yang bersaksi dan bercerita, hehe), bahwa memasak itu menghabiskan waktu. Tentu sangat dimengerti betapa kesibukan sebagai pelajar di negeri asing ini memang melelahkan. Rasa malas untuk memotong bawang, menggoreng dan menumis adalah wajar. Namun, jika dipikirkan lagi, memasak merupakan kegiatan yang menyenangkan.

Keperluan dapurku.. hehe, ayam gorengnya enak tuh

Jujur, aku bukanlah seseorang yang bisa, pandai dan gemar memasak sebelumnya. Maklum, budaya di keluarga tidak mengizinkan seorang lelaki untuk berada di dapur, sehingga hingga usiaku hampir bedhol desa ini aku almost tidak bisa memasak. Alhasil, setahun pertamaku di negeri Bonaparte ini, kuhabiskan dengan melahap berbagai macam sardin selama hampir satu tahun. Sebagai anak biologi, aku sadar betul resiko memakan sardin. Kata mereka (teman-teman) sih tidak baik untuk kesehatan, tetapi setahun kemarin, asal perut bapak kenyang, semuanya aman-aman saja.

— Keperluan dapurku, hmm, ayam gorengnya enak tuh.

Tetapi, tahun ini, semua harus berubah. Itu pendapatku, kira-kira 10 hari yang lalu. Aku beranikan diri untuk mencoba-coba memasak, mencampur bumbu, menghabiskan banyak sayuran untuk dipotong. Bahkan situs Youtube pun menjadi favorit. Aku mencoba untuk mencari video yang menyajikan cara memasak segala jenis masakan Indonesia. Setelah sering kupelajari ternyata memasak itu menarik. Aku menemukan bahwa, dengan memasak, apalagi jika berhasil (enak gitu), membuat hati nyaman. Mungkin terdengar aneh dan kekanak-kanakan tapi memang begitulah adanya.

Sardin-sardinku yang malang...Dari perjalananku mencari kitab suci ini, halah, seperti Sun Go Kong saja. Maksudku, dari kesempatan yang diberikan Pemerintah Perancis kepadaku untuk mengenyam beasiswa disini, aku belajar banyak hal selama setahun kemarin. Dan, tahun ini tentu lebih banyak lagi hal yang kupelajari. Satu hal, adalah, kesendirian kita (yang terkadang menjadi masalah, untuk mereka yang tidak terbiasa sendiri) ternyata “memaksa” kita untuk berbuat/mencoba suatu hal yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya. Dan, sikap mandiri kita menjadi berlipat-lipat besarnya.

— Sardin-sardin yang teronggok nganggur, tapi mejeng ketika difoto.

Akhirnya lewat sebuah tulisan ini, aku berkesempatan untuk mengucapkan “bye bye sardin”. Mungkin bakal merindukan sardin-sardin itu yang teronggok menganggur di dapur kamarku. Biarlah saja, sementara ini, sedang ingin bereksplorasi pada kekayaan kuliner Indonesia. SELAMAT MAKAN !

Riza-Arief Putranto, 10 September 2009. Masak dan memasak…

4 thoughts on “BYE BYE SARDIN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s