Aigues-Mortes & Grande Motte

Pada kesempatan yang berbahagia ini, (ups, sepertinya salah memulai tulisan blog deh). Itu tadi bukan kalimat yang tepat untuk memulai. Ini saja.. ehm, ehm..

Setahun kemarin, hidup tampaknya terlalu sempit untukku. Ya, karena hampir selama itu pula, aku terkurung di dalam bilik kecil tempatku merenung, menangis, dan tertawa. Tahun ini, aku berjanji pada diriku sendiri untuk lebih banyak menyeimbangkan segala sesuatu, mulai dari kehidupan di kamar hingga studi di Universitas. Tidak lupa, bahwa aku adalah “tamu” di tanah Napoleon ini. Sehingga berjalan-jalan sedikit tidaklah terlalu berlebihan.

Jadi,

Akhir pekan ini, sebagai liburan dan “santai-santai” terakhir sebelum kembali pada kesibukan dan kebingungan di dunia mahasiswa, aku menyempatkan pergi ke beberapa tempat bersama teman-teman yang berbahagia (haha, pendapat ini aku tambahkan sendiri kok..). Singkat kata, aku pergi ke Aigues-Mortes, Grande Motte, dan Palavas Les Flots. Ketiga tempat tersebut, boleh dikata memiliki karakter yang berbeda tetapi tidak jauh berbeda. Aku membuat kalian pusing bukan, dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas.

Begini,

Kunjungan pertama, pada pagi hari, sekitar pukul 09h20 dari depan Cité Universitaire du Triolet, kami (bertiga, dalam 1 mobil berjuluk “bajaj sakti”.. jangan tanya artinya, aku sendiri belum begitu mengerti ketika dijelaskan oleh pemiliknya) langsung menuju ke Aigues-Mortes, terletak 20-an km dari Montpellier ke arah tenggara, di daerah yang dinamakan La Petite Camargue (Note: blog ini tidak akan jadi seperti brosur touristic, heeff). Disana, terbentang sebuah kastil tua, yang didirikan pada awal abad ke-18. Berumur 200-an tahun dan masih megah berdiri. Di dalamnya, terdapat kota kecil (boleh dikatakan kehidupan, ingat bagaimana film-film Robin Hood, atau Joan of Arc, menceritakan zaman kegelapan, dimana banyak kepala dipenggal, huuf, kebanyakan nonton film nih..) yang menarik. Mereka hidup dari berjualan souvenir atau membuka restoran untuk tamu-tamu (lebih tepat disebut turis-turis) yang mampir ke Aigues-Mortes. Pendapat pribadiku mengatakan, setelah beberapa kali, sempat ke kota ini, pada 3 musim yang berbeda (musim dingin, musim panas, dan hari ini, musim gugur) kota ini memang memiliki cara tersendiri untuk hidup.

Putranto0016Ketika memasuki gerbang utamanya, kita akan disuguhi oleh berlimpahnya toko-toko, seperti kusebutkan diatas, dan diujung jalan yang terbagi tiga tersebut, berdiri sebuah patung Saint Louis, yang disebut-sebut sebagai Louis XIX (semoga aku tidak salah, mohon koreksi). Patung yang terbuat dari besi tersebut seolah menyapa tamu yang datang. Di monument yang didirikan khusus untuk menghormati beliau, aku sempat membaca beberapa kalimat (dalam bahasa Perancis) bertuliskan, “..untuk menghormati mereka yang pemberani…”. Semakin terasa gelora didada, seolah ikut pertempuran kala itu, abad pertengahan.

patung Saint Louis… megah bukan?

Benteng kecil (mungkin kecil dalam ukuran opini saja, perasaanku saja) tersebut kami kelilingi selama beberapa menit (setengah jam minimum udah pake ngebut, soalnya bulan puasa). Dari situ, kami menikmati pemandangan kota Aigues-Mortes dari atas. Aigues-Mortes sendiri berarti “Air mati”, dan merupakan daerah produsen garam. Oleh karena itu, ada sebuah tower (menara) kecil yang dinamakan “La Tour de Sel” (Menara Garam). Aku sendiri bertanya-tanya mengenai nama tersebut, tetapi setelah usut demi usut, ketika aku memandang keluar, aku melihat tumpukan garam nun jauh disana yang diproduksi oleh pengusaha lokal. Tapi sepertinya, tidak ada hubungannya. Mungkin zaman dulu, menara tersebut menghadap tepat ke danau kecil yang asin.

Putranto0107

— yang putih-putih setinggi rumah itu adalah tumpukan garam.. denger-denger, garamnya asin.. (hayah)

Kemudian,

Ketika menaiki, menara yang terkenal, bernama “La Tour Constance”, ruangan sempit dan sedikit gelap tersebut membuat perjalanan ke abad pertengahan ini menarik. Setibanya diatas, angin yang menyapa wajah kita beserta terik matahari yang menyengat tidak kami hiraukan. Rasanya, kami lebih menyukai untuk mencoba melihat kota Aigues-Mortes dari ketinggian sekitar 25 meter. Menara tersebut dahulu lebih dikenal sebagai penjara untuk tawanan kota. Aku menyadari kenapa bentuknya seperti kubah di LP Wirogunan (Jogjakarta, Indonesia), dengan sebuah lonceng besar diatasnya. Setelah diamat-amati, memang, mirip sekali dengan penjara. Tak lupa, kami sempatkan untuk berpose ria disini, tidak peduli apakah posenya sangat norak atau tidak, cukuplah bersenang-senang pagi ini. Kami melanjutkan perjalanan..

Putranto0059la Tour Constance… lumayan besar lah…

Pemberhentian berikutnya adalah La Grande Motte.. (to be continued)

Tetapi,

Sebelum sampai kesana, berikut adalah foto-foto dari Aigues-Mortes (dapat juga dilihat di facebook) :

Putranto0009tahun berdiri bangunan ini (sebuah gereja) terpampang jelas di atas, menunjukkan betapa tua-nya sejarah terukir di bangunan tersebut.

Putranto0026— pintu gerbang samping benteng Aigues-Mortes

Putranto0021

lubang disisi samping dalam benteng untuk panah, bisa dibayangkan pertahanan benteng zaman dahulu.

Putranto0034

penampakan benteng dari luar

Putranto0086

penampakan La Tour Constance dari sebuah taman dibawahnya.

Putranto0093

—di dalam sebuah ruangan di La Tour Constance, cahaya menerobos masuk melalui jendela kuno.

Putranto0050

air yang bermuara ke laut, sumber garam dan keindahan kota.

Putranto0103— pemandangan di dalam kota, terstruktur rapi, bila membayangkan semua ini, dirancang pada tahun 1700-an.

Riza-Arief Putranto, 13 September 2009.

9 thoughts on “Aigues-Mortes & Grande Motte

  1. Asyik.. jadi komentator pertama lagi🙂 Za, dimana-mana garam tu ya asin lah.. emangnya ada garam yang ga asin.

    Riza nanggis? serius Za, tahun kemarin kamu nanggis.. ck ck ck bukannya harusnya nanggisnya tu sekarang hehehe *ngabur ah sebelum riza ngomel2 hehehe *

    • ada lho garam ga asin.. hehe.. garam yg dikasih gula, jd oralit :p nanggis? apa itu? nama buah? .. btw knp nanggis-nya skr?🙂 *minta ditimpuk*

      • lha kalau nama buah namanya manggis dodol🙂..ye bukan minta ditimpuk Za, tapi minta ditraktir aja deh🙂 pusing nih.. besuk ujian dossier 1 ma Mlle. Sufni

  2. Manatap mon, biar tambah keren, publikasiin blog lu mon, caranya

    Ada cara yang lebih mudah supaya blog kita bisa terdaftar langsung di 40 (empatpuluh) mesin cari / search engine dalam waktu bersamaan. Yakni dengan cara memanfaatkan layanan gratis submitexpress.com yang memakai tools khusus agar alamat URL blog yang kita daftarkan lewat situs ini dapat sekaligus terdaftar ke 40 search engine baik yang besar seperti Google, Yahoo dan MSN maupun yang kecil-kecil. Ikuti langkah praktis berikut:http://submitexpress.com
    2. Isi alamat blog Anda di kotak yang tersedia di bawah tulisan FREE SUBMISSION. Jangan lupa pakai http://… Contoh, http://fatihsyuhud.com atau http://afatih.wordpress.com
    3. Klik Continue
    4. Isi Email Anda di kotak yang tersedia.
    4. Setelah mengisi kode rahasia yang ada di bagian bawah, klik “submit”
    5. Selesai.

    Blog juga bisa dipublikasikan di

    Technorati.com; Blog-indonesia.com; lintasberita.com; dixx.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s