HIDUP ITU KOMPLIT

Seorang bijak berujar, bahwa sebuah kematangan usia membuat seseorang menimba banyak petuah dari pengalaman hidupnya. Dan, seseorang yang kukenal, memiliki pengalaman-pengalaman ini. Dahulu, dia selalu berfikir bahwa karir adalah segalanya, dan bahwa seseorang memiliki sebuah pilihan untuk menekuni (red.gila) dalam karir atau tidak. “Ada apa selain karir?” ujarnya kala itu. Sebagian umum setuju bahwa diantara karir, terdapat keluarga dan satu hal yang selalu menjadi subyek judul lagu atau puisi yaitu “cinta”.

Keluarga sendiri merupakan hal tak tergantikan yang harus selalu menjadi perhatian. Dari sanalah, sebuah pribadi itu terbentuk dan dari situlah sebuah karakter tersusun. Pengalaman hidup dari sebuah keluargalah yang mengarahkan seseorang pada sebuah “keberhasilan”. Lalu? Yang terakhir, yaitu cinta? Tidak ada kata lain yang tepat menggambarkan cinta selain kata “sesuatu yang abstrak”. Aku sendiri tidak akan mampu menjelaskan itu, hanya saja yang kuketahui, ini adalah dorongan terbesar sukses seseorang dalam kehidupan.

Kembali ke seseorang yang kukenal tersebut. Selama sekian tahun, dia selalu menempatkan karir diatas segalanya, tanpa mengesampingkan keluarga tentunya. Yang kutahu waktu itu adalah hidupnya yang kuanggap tidak kekurangan satu apapun (red.materi). Tetapi, ternyata dia menginginkan atau lebih tepatnya memimpikan sebuah “cinta yang sempurna”. Kenapa aku menyebutnya demikian? Cinta yang sempurna adalah sebuah cinta (sekali lagi, cinta itu abstrak, tidak terdefinisi)  yang melengkapi hidup seseorang. Dengan melengkapi yang terakhir ini, aku menyebutkan bahwa hidup itu komplit.

Dia, yang sedari tadi kubahas, baru saja menemukan “kesempurnaan” itu. Aku bahagia untuknya. Wajahnya yang berseri-seri dan jiwa yang terlihat tenang, membuatku yakin bahwa cinta yang sempurna itu ada. Dalam hal ini, sebuah cinta yang sempurna, bukanlah sesuatu yang secara fisik terlihat, tetapi lebih pada perasaan (mohon maaf tidak mampu untuk menjelaskan lebih jauh, mengingat, aku juga sedang belajar dan berusaha memahami, dari pengalaman seseorang yang kukenal tersebut).

Tampaknya, cerita sedih seseorang yang kukenal itu telah berakhir. Entah kenapa, aku seolah merasakan kebahagiaan yang terpancar dari gerakan-gerakan tubuh, dan kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya yang tak henti-hentinya tersenyum. Lalu, sedikit refleksi, aku telah belajar sesuatu dari seseorang yang kukenal ini. Yang kupelajari lebih dalam, kebahagiaannya juga “menyempurnakan” kehausanku akan belajar dari kehidupan.

Sekali lagi, hidup itu komplit !

Riza-Arief Putranto, 27 Desember 2009. Dalam perjalanan pulang ke Montpellier.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s