DENGAN TIDAK MENYATAKAN CINTA, BUKAN BERARTI TAK CINTA.

Wujud kesukaan atau kesenangan itu bermacam-macam. Itu yang dapat saya fahami dan artikan dari sebuah pernyataan dalam judul diatas. Saya mungkin mengawalinya salah, dan kalian akan bertanya-tanya di dalam hati, tentang apakah sebenarnya hal yang saya bicarakan ini? Baiklah, saya rasa saya akan mencernanya dalam sebuah bentuk tulisan yang sederhana.

Beberapa hari belakangan, memang bukan momen yang mudah untuk saya. Sebagaimana juga diketahui, bahwa saya menulis sebuah artikel berjudul PEKERJAAN SEORANG ILMUWAN, yang dapat diartikan dalam banyak hal. Ada pula sebuah opini dari seorang kawan yang selalu saya ingat di dalam kepala. Dia berbicara mengenai cinta. Tetapi, bukan cinta sebagaimana kalian bayangkan. Cinta yang dimaksud disini adalah dalam bentuk yang lebih umum, mencintai pekerjaan, misalnya.


— harus menyatakan? —

Ya, saya disodorkan sebuah pernyataan mengenai kecintaan saya terhadap pekerjaan saya. Dia sepertinya ingin mengeluhkan keluhan saya. Dia meragukan kecintaan saya terhadap pekerjaan saya. Namun, saya maklum, dan sadar bahwa apa-apa yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk orang lain. Dan, apa-apa yang menurut kita wajar (keluhan contohnya) belum tentu wajar bagi orang lain.

Bagi saya, sebuah keluhan, dapat berarti banyak hal. Tetapi, yang lebih tepat dalam kondisi yang saya alami adalah rasa was-was. Ya, sebuah keluhan adalah jawaban tubuh atas batas logika dan batas kemampuan. Bahasa saya mungkin terkesan sedikit rumit. Secara sederhana, dapat diartikan, bahwa ketika kita mengeluh, itu semata-mata karena logika (yang dipikirkan otak) tidak singkron dengan analisis kemampuan kita untuk menyelesaikan sebuah permasalahan misalnya. Sehingga, keluarlah respon tubuh, berupa penolakan, gerutu, cemberut dan lain sebagainya. Dan, itu wajar adanya.

Memang benar, saya tidak pernah menyebutkan apakah saya mencintai pekerjaan saya. Saya lebih suka berujar saya mencintai istri saya atau keluarga saya. Rasanya aneh mengucapkan cinta pada sebuah benda abstrak bernama pekerjaan. Kembali ke teman saya, saya akan menjawab padanya sebuah kalimat tanya “Apakah dengan tidak menyatakan cinta, berarti saya tidak mencintai pekerjaan saya?”. Sebuah pertanyaan retorik. Semua orang faham, jawabannya tentu saja “tidak, belum tentu”.

Saya memiliki cara lain untuk mengekspresikan cinta saya terhadap pekerjaan saya, sebagaimana halnya orang lain akan berekspresi berbeda terhadap kecintaan mereka pada pekerjaan masing-masing. Menurut saya, sebuah cinta, tidak melulu harus diucapkan, tidak melulu untuk tidak diperbolehkan mengeluh, dan tidak melulu untuk merasa senang atasnya. Tetapi lebih ke bagaimana tubuh nyaman, menerima konsep itu dan mengintegrasikannya di dalam pribadi masing-masing.

Riza-Arief Putranto, 27 Januari 2010. Lagi ngeyel.

2 thoughts on “DENGAN TIDAK MENYATAKAN CINTA, BUKAN BERARTI TAK CINTA.

  1. ketika menyatakan cinta sebenernya belom tentu kita cinta.. dan bila tdk menyatakan cinta, belom tentu juga kita cinta. sy lbh memilih dan menyatakan cinta dengan sikap..,termasuk dlm bekerja, cukup dengan ikhlas, kerja keras, dpt hasil yg maksimal dan mampu mengaplikasikannya serta bs bermanfaat bagi byk org. Kyknya dah cukup membuktikan klo kt cinta sm pekerjaan yg sdg kt jalani🙂

    • wow sebuah opini yg bagus.. benar sekali yg diungkapkan.. mari kita jalani seperti itu saja, sukses selalu… ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s