KENAPA AKHIR-AKHIR INI SAYA DIBILANG MIRIP ALEX KOMANG

Mungkin bahasan singkat namun ringan ini, saya mulai dengan penjelasan biografi sang tokoh “Alex Komang” itu sendiri. Siapakah Alex Komang itu ? Apakah kalian mengenalnya ? Rasanya tidak banyak kawula mengenalnya, kecuali mereka fans, atau berkecimpung di dunia perfilman dan pertokohan. Tapi, boleh dibilang sang tokoh adalah seseorang yang cukup dikenal di Indonesia.

Preambule

— Ini nih, si Mas Alex itu —

Alex Komang bernama asli Syaiful Nuha, yang dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 17 September 1961. Beliau adalah seorang aktor senior Indonesia yang telah membintangi beberapa film nasional. Melalui sebuah film berjudul “Doea Tanda Mata” arahan sutradara Teguh Karya, Alex berhasil meraih penghargaan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1985 sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik.

Beberapa filmnya yang terkenal di Indonesia adalah “Doea Tanda Mata” (1985), “Secangkir Kopi Pahit” (1985), “Ibunda” (1986), “Mementos” (1986), “Pacar Ketinggalan Kereta” (1989), “Ca Bau Kan” (2002), “Puteri Gunung Ledang” (2004), “Long Road To Heaven” (2007), “Medley” (2007), “Sumpah Pocong Di Sekolah” (2008), “Chika” (2008), “Laskar Pelangi” (2008), “Anak Setan” (2009), “Romeo Juliet” (2009), “Rasa” (2009) dan “Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji” (2009).

Mas Alex, begitu saya memanggilnya (hasyah, gaya bener, padahal saya kenal saja tidak, yah tak mengapa lah, toh habis Mas Alex ini, saya yang akan dibahas oleh saya sendiri..), selalu tampil total dalam setiap lakon yang diperaninya. Istilah, orang –orang yang senang dengan hal-hal yang besar –besar : “tampil maksimal” (memang terkesan ada rasa puas diujung kata “maksimal”). Saya sendiri termasuk pengagum Mas Alex, dan beberapa aktor lain yang bermain selalu bagus dalam film-film mereka.

Semua orang yang mengenal Mas Alex, tentu tahu bahwa beliau adalah salah satu murid dari Teguh Karya yang dikenal melalu “Teater Populer”. Bagi mereka yang menyukai teatrikal tentu sudah tidak asing lagi. Bagi yang belum mengenal, hmm, baiklah akan saya jelaskan sedikit. Jadi, Teater Populer adalah sebuah kelompok teater Indonesia yang menonjol prestasinya di dunia film. Dari Wikipedia, saya mencari informasi, bahwa kelompok teater ini diresmikan pada hari Senin, 14 Oktober 1968 di Bali Room Hotel Indonesia, Jakarta. Teater ini tentu saja dipimpin oleh Teguh Karya, semula bernama “Teater Populer Hotel Indonesia”, yang beranggotakan 12 orang, yang berasal dari Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), mahasiswa dan para teaterawan independen.

Diantara para nama yang kemudian berhasil mencuat menjadi aktor/tokoh besar di dunia teater/perfilman, Mas Alex adalah satu diantara mereka. Yang lain, seperti Slamet Rahardjo Djarot, Christine Hakim, Franky Rorimpandey, George Kamarullah, Henky Solaiman, Benny Benhardi, Niniek L. Karim, Sylvia Widiantno, Dewi Matindas, dan lain-lain, merupakan mereka yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita.

Isi

Saya rasa pengantar saya cukup jelas ya, jadi mari kita langsung sambung saja ke cerita utama. Kenapa saya akhir-akhir ini dibilang mirip dengan Alex Komang? Kalian semua tentu akan bertanya-tanya, “Padahal Riza dan Mas Alex ga ada mirip-miripnya sama sekali” atau “Mirip dari mana ya? Dari Hong Kong?”. Tapi percaya atau tidak, sudah sekitar 6 orang yang berujar hal yang sama pada saya. “Riza, kok mirip dengan Alex Komang sih?” “Eh iya lho, tinggal pertebal saja jenggot dan kumismu?”.

Ide itu, mensinonimkan saya dengan Mas Alex, pertama muncul dari seseorang nun jauh disana, di Indonesia, sementara saya di Perancis, seorang kakak (nantinya) dari seorang adik (haha..) sebulan yang lalu. Saya sendiri pada awalnya menduga-duga juga sebenarnya, dari sisi mananya ya saya mirip Mas Alex. Kehidupan saya pun berputar lagi, hingga kira-kira saya bertemu dengan seorang blasteran Perancis Indonesia, seorang kawan lama (maaf no name mentioned), yang memberikan opini yang sama. Hanya saja permintaannya mengenai menumbuhkan kumis dan jenggot lebih lebat itu saya tolak mentah-mentah.

Lalu satu hal yang tidak saya sangka, seorang gadis Inggris, yang kebetulan bekerja di laboratorium yang sama dengan saya (red. dia bisa berbahasa Indonesia), berkata kepada saya “Riza, you’re so mirip Pak Alex Komang, that actor, l’acteur..” (begitulah gaya Madmoiselle CRN berbicara, maklum Ayah dari Inggris, Ibu dari Indonesia). Saya, balik bertanya padanya bagaimana gadis muda seperti dia bisa kenal seorang Alex Komang yang notabene termasuk generasi “lama” di Indonesia, sementara saya yakin gadis ini lahir kira-kira tahun 90-an. “C’est très mudah Riza, karena saya habite (bahasa perancis “tinggal”) close dengan his house di Indonesia”.

*Note singkat : sebenernya lama-lama tak sumpel juga tuh mulut nih anak, menggunakan tiga bahasa sekaligus, what a keanehan vraiment gitu looh.. (haha, ups maaf, saya ketularan)* Tapi apa daya, saya tidak sekejam itu.

— Ini dia nih, si Alex “palsu” —

Ya sudah singkat kata, ada 3 orang lain, Indonesia tentu saja, yang berturut-turut mengungkapkan hal yang sama. Kemudian, saya berfikir, hmm, semua ini tentu bukanlah sebuah kebetulan belaka. Saya mencoba melakukan eksperimen kemudian. Saya print foto Mas Alex dengan ukuran 4R kemudan saya sandingkan dengan foto saya (ukuran 4R juga) dan mulai melihat dan mencari perbedaan (hayah, kok kaya kuis yang di Koran itu ya, find the errors..). Setelah 1 jam saya membanding-bandingkan, memang saya simpulkan sendiri tidak mirip kok.

Menurut kawan saya yang jago statistik dan rancang eksperimental, 6 sampel belumlah cukup untuk memberikan sebuah hasil analisis statistik signifikan. Apa lagi katanya, kalo perlakuannya harus diulang sebanyak minimal 3x. Saya yang memegang baguette kala itu, langsung saya sumpalkan mulutnya, seraya berujar “Arrête de me faire confus hein..” (terj : berhenti membuat saya pening.. ).

Jadi hingga sekarang saya sendiri tidak tahu jawabannya. Oleh karena itu saya memohon pendapat kalian semua. Miripkah saya dengan Mas Alex ?

Riza-Arief Putranto, 29 Januari 2010. Dalam dilema kewajahan.

7 thoughts on “KENAPA AKHIR-AKHIR INI SAYA DIBILANG MIRIP ALEX KOMANG

  1. Ga ono miripe om hehe.. kalau lihat dari fotonya lho, secara aku belum pernah ketemu om ma mas Alex komang juga sih hehe.. Ga usah pening om, biarin aja lah orang bilang om kaya mas Alex komang. Disyukuri kali, kan mas Alex cakep bin ganteng tuh hehehe

  2. mmm, setelah dilihat dari berbagai sudut, tetap pada kesimpulan yang sama: Tidak Mirip😀 lha terus sebenarnya kenapa dibilang mirip? mungkin ada sudut tertentu yang terlewatkan oleh kedua foto itu.. lha aku belum ketemu kedua2nya di dunia nyata, hehe

  3. Pingback: MARI BERMAIN TEBAK LAGU | Jiwitlah daku kau kutabok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s