FILOSOFI BONSAI

Lagi-lagi, sebuah ide yang muncul diantara migrain dan insomnia. Sebuah buku saya reguk untuk mencoba menggiring saya menuju keterlelapan. Sayangnya, alih-alih mengantuk, saya malah tidak bisa tertidur karena sangat tertarik dengan tema yang diusung. Dan, lagi-lagi, saya mencoba membaginya kepada kawan-kawan semua.

Semua ini tentang sebuah filosofi, yang mana disebut “filosofi bonsai”. Kenapa demikian namanya? Yah, saya mengarang sendiri sebenarnya, dengan mengacu kepada sebuah buku cara menanam bonsai yang diberikan kawan saya (red. dia membawa buku tersebut dari Indonesia). Bolehlah saya bercerita sedikit mengenai kawan saya. Dia, asli keturunan Perancis, yang sering bepergian ke Indonesia dalam rangka penelitian dan kunjungan-kunjungan. Saya mengenal salah satu hobinya yang mampu memisahkan dia dari laptopnya (red. dia bekerja tanpa hentinya di depan laptop), yakni merawat bonsai.

— oooh bonsaiku sayang, bonsaiku malang.. —

Bonsai sendiri sebenarnya tak ubahnya seperti miniatur tanaman yang ditanam di dalam pot. Biasanya, tanaman sejenis ahorna (pohon perindang) merupakan bahan yang cocok untuk dikreasi menjadi bonsai. Saya tidak akan menjelaskan langkah-langkah membuat bonsai, bisa di unduh disini, tetapi lebih kepada bagaimana kita memperlakukan tanaman itu sehingga menjadi bonsai.

Mereka, bilang, bahwa tanaman bonsai itu indah. Saya melihatnya, tidak demikian, tanaman bonsai yang indah tersebut adalah suatu bentuk adaptasi yang dalam bahasa fisiologi tanaman dikenal dengan “plastisitas”. Yakni, sebuah usaha tanaman itu sendiri untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan, baik itu secara fisik, mekanik, biologi atau kimia. Yang saya tekankan disini adalah secara fisik dan mekanik.

Sebagaimana diketahui, untuk membuat tanaman bonsai tumbuh sesuai yang kita inginkan, kita membatasi arah pertumbuhan dan gerak tanaman tersebut. Bagaimana caranya ? Yakni, dengan memasang kawat sejak tanaman tersebut dipindahkan ke dalam pot, sehingga ranting tersebut tumbuh sesuai dengan yang kita sebut “indah”. Dari sini, saya memahami satu hal, bahwa ketika tanaman bonsai tersebut “dikekang” pertumbuhannya, atau bahkan diberikan inhibitor nutrisi agar tidak tumbuh cepat, tanaman bonsai memberikan respon melalui plastisitasnya dengan tumbuh kerdil.

Mari kita analogikan dengan manusia. Manusia sendiri secara harfiah, tidak mungkin dikekang. Ketika itu terjadi, maka secara umum mereka akan memberontak. Saya membaca, “ketika sebuah ranting bonsai yang ditarik kencang ke bawah oleh kawat, akan memberikan hempasan ranting yang kuat, manakala kawat tersebut dipotong”. Kalimat tersebut boleh diartikan, bahwa “kekangan yang semakin kuat akan memberikan penolakan yang semakin kuat pula”.

Dan, lebih sempit lagi, saya menganalogikan, ketika saya diberikan kebebasan berfikir oleh supervisor saya, ternyata itu bukanlah untuk membuat saya tenggelam dalam kebingungan. Akan tetapi, lebih kepada sebuah usaha untuk tidak membiarkan diri saya terkekang dalam kemampatan ide, seperti bagaimana bonsai-bonsai tersebut.

“Jika anda tidak pernah merasa bingung dan terjepit, maka anda bukanlah orang yang sering berfikir…”

Riza-Arief Putranto, 23 Februari 2010. Tulisan ini didedikasikan kepada mereka yang sedang berjuang melawan kebuntuan otak, kemalasan bekerja, kebingungan, dan kehilangan semangat !

3 thoughts on “FILOSOFI BONSAI

  1. Pingback: Blog Review : 2010 | Jiwitlah daku kau kutabok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s