SALTUM TIMUM, SALAH KOSTUM TIDAK UMUM

Nama Saltum Timum, bukanlah nama lazim. Bukan pula nama binomial sebuah spesies biologi sebagaimana Bapak Taksonomi, Carl Linneaus menciptakannya. Lalu apa itu Saltum Timum? Boleh dibilang, sebut saja “Salah Kostum Tidak Umum”. Saya memahami tentu kawan-kawan semua masih bingung dengan istilah tersebut. Berikut akan saya jabarkan sedikit demi sedikit, seuntai demi seuntai, sekalimat demi sekalimat.

Hmm, saya awali cerita ini dengan sebuah kata kunci yakni “prakiraan cuaca”. Mungkin, untuk mereka yang pernah atau sedang tinggal di Eropa pasti mengerti, bahwa prakiraan cuaca merupakan salah satu hal penting yang harus kita perhatikan sebelum keluar rumah dan melakukan kegiatan harian. Kenapa ? Sederhana saja, karena cuaca sering berubah per harinya, tentu saja dalam konteks wajar. Bukan berarti suhu udara akan berubah drastis, dari dingin menjadi panas. Minimal kita akan memperhatikan apakah akan hujan, bersalju, atau canicule (panas terik).

Saya teringat, pada awal masa tinggal saya di Montpellier, Perancis, saya masih sering mengabaikan itu. Yah, walaupun Montpellier termasuk kota yang “hangat”, tetapi perubahan kondisi angin tetap menjadi masalah. Alhasil, saya sering merasa kedinginan, atau not well-equiped, untuk menghadapi cuaca harian. Namun, setelah lama saya tinggal, mulailah menjadi sebuah kebiasaan untuk setiap malamnya, browsing mengenai cuaca esok hari atau sekedar melihatnya di televisi. Sehingga, saya mengerti harus mengenakan apa untuk esok harinya.

Mungkin terlihat sepele, namun jika kita mengenakan baju berlapis terlalu tebal, padahal cuaca panas, benar-benar tidak menyenangkan rasanya. Begitu pula sebaliknya, udara dingin dengan mudah menusuk dan menembus sweater-sweater yang kita pakai. Lalu, apa hubungannya semua ini dengan Saltum Timum?

Jadi, pada hari ini, saya berangkat bersama seorang kawan baru dari Thailand. Baru? Ya, dia adalah mahasiswa S3 yang baru saja sampai di Montpellier (red. baru dua hari). Bekerja di lab yang sama, dibawah bimbingan orang yang sama dengan saya. Kebetulan, kami bertemu pada pagi harinya di depan arrêt bus (red. halte bis). Saya teringat pada malam sebelumnya saya ingatkan padanya via email untuk melihat cuaca, karena udara mulai memanas di Montpellier, musim dingin sebentar lagi usai. Tujuannya sederhana saja, supaya dia tidak salah berkostum, jangan-jangan mengenakan mantel besar lengkap beserta syal dan tutup kepala.

“Rizaa, haiii… it is me Kawatcath !” — suara seorang gadis menyapaku. Aku tidak mengenalinya, setelah kupandang dengan seksama. “Aaah, it is you ! But why are you wearing all of that?” – ujar saya, melihatnya mengenakan kostum lengkap siaga 2 musim dingin (info singkat :  kostum siaga 2 musim dingin adalah mantel berat, besar, dari bulu angsa atau sejenisnya, lengkap dengan sarung tangan tahan dingin, penutup kepala dari wol, dan syal bulu angsa). Dengan kostum itu, dia berhasil membuat saya tidak mengenalinya.

Saya sendiri hanya mengenakan kaos dan sweater 1 lapis, ditutup dengan jaket tipis, mengingat suhu hanya sekitar 11°C pagi ini. Saya melihatnya sangat kesulitan bernafas dan nampak terengah-engah. “Can you breath with all of that you’re wearing?” – ujar saya sedikit cemas, taku kalau-kalau pingsan nanti. Bisa berabe ! “I think I can.. don’t worry, I’m just afraid that today is going to be cold..”, jawabnya polos. “But, I told you to look in the internet for weather channel right?” – timpal saya, dengan perlahan, melihat dia semakin lama semakin sukar bernafas. “Yes, but I don’t even think that it’ll be useful here.. because in Thai, we never do that..” – ujarnya kembali sembari terengah-engah.

Akhirnya, kami sampai di lab dengan selamat sentosa tanpa kurang satu apapun. Hanya saja, teman saya Kawatcath, terlihat seperti tengah berolah raga. Keringat mengalir deras membasahi wajahnya. Supervisor kami pun keluar dan bertanya, ada apakah gerangan. Bahkan dikira, kami habis berolahraga pagi. Setelah kujelaskan baik-baik, akhirnya supervisor saya menjelaskan padanya perlahan-lahan, mengenai pentingnya melihat prakiraan cuaca.

— duingin yaaa… huehuehue… —

Kawatcath pun akhirnya tertawa terbahak-bahak, ketika dia melihat dirinya di cermin toilet (ingat : ini adalah cermin yang menguak rahasia rambut belang brunette saya – silahkan baca artikel : BUGIAN, BULE SEBAGIAN). “I look like a clown..” – katanya. Dan, kami (saya dan supervisor saya) berujar bersama-sama “Yes you are.. a wet one..”.

Oh là là.. jadi, sekedar sebuah cerita ringan dan tips untuk kawan-kawan yang hendak menjalani hidup di Eropa atau negara manapun dengan empat musim. Silahkan perhatikan benar perubahan cuaca di kota kalian !

Riza-Arief Putranto, 26 Februari 2010. Yes, winter will be over sooooon…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s