I KNOW YOUR FATHER

Saya tidak mengerti sebenarnya, bagaimana harus memulai cerita ini. Setelah beberapa hari, saya tidak memiliki ide untuk menulis, saya diharuskan menghadiri undangan dari KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Paris akhir pekan ini. “Yah, mungkin akan datang ide itu kepada saya jika saya keluar dari Montpellier..” – kalimat tersebut ngarang abiss (kata anak-anak muda zaman sekarang), karena memang saya juga tidak terpikir akan mengalami sebuah kejadian.

Apakah kejadian itu ? (Tentunya para pembaca sudah berdebar-debar ya, menunggu kejadian apakah yang akan saya ceritakan – lagi-lagi saya agak berlebihan, karena memang jantung selalu berdebar kan selama kita hidup).

Begini,

Akhir pekan ini saya ditugaskan untuk mengikuti sebuah acara di KBRI Paris, yang berjarak 3,5 jam TGV (kereta supercepat kebanggaan Perancis) dari Montpellier. Jarak darat yang ditempuh adalah 745 km (menurut sumber Wikipédia), ekuivalen dengan jarak Solo-Jakarta yang ditempuh via Semarang.

Seperti biasa, saya menginap di rumah seorang kawan yang saya kenal baik, sejak kami masih kursus bahasa Perancis di CCF Jakarta pada tahun 2008. Setelah acara resmi dari KBRI selesai, kami dan tentu saja dengan kawan-kawan PPI Paris (Persatuan Pelajar Indonesia) ingin menghabiskan malam minggu beramai-ramai. Tanya demi tanya, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam saja, di sebuah restoran Vietnam (biasanya mereka mangkal) di 13ème arrondissement (Arrondissement yang terkenal dengan menjamurnya restoran asia dengan harga tidak terlalu mahal).

Sepanjang perjalanan, kami “benar-benar berisik”, maklumlah jika anak-anak BGF (Boursier du Gouvernement Français) berkumpul pastilah ramai. Berbagi tawa, dan keceriaan sedikit banyak membuat kami lupa, tentunya, akan kesulitan masing-masing. Wajarlah, bulan-bulan ini adalah momennya mémoire dan thesis, tentunya tidak mudah.

Singkat cerita, selesai makan malam, beberapa dari kami berpisah untuk melanjutkan petualang malam dan sebagian lain memilih untuk pulang. Kami yang melanjutkan perjalanan ke barat mencari kitab suci, ups, maaf kalimat saya keterusan. Saya ulang, kami yang memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalannya adalah saya, saudara Iccank Suricank Barakunjang, saudara Ali Cahaya Zaman (sst, beliau ini Ketua PPI Perancis tahun berjalan lho.. harus hormat GRAAKK !), saudara Ande Ande Lumut Sanusi (orang paling kocak dan koplak yang pernah saya temui seumur hidup, dialah yang meramaikan malam sepanjang perjalanan kami), dan terakhir saudara Adhi “The Afro” Maskawan (Afro disini berarti “keriting”, sesuai dengan rambutnya yang asoy) yang bertindak sebagai jurkam (alias juru kamera).

Sepanjang perjalanan dari 13ème arrondissement, menuju tujuan akhir “Le Pantheon” di Université Paris 1 Sorbonne, kami tak henti-hentinya becanda, tertawa, bahkan terkesan gila-gilaan (jika anda punya theme song “Gila-Gilaan” dari The Changcuters, mohon sembari didengarkan ketika membaca artikel ini). Sampe pada suatu ketika, kami diberhentikan oleh seorang bapak tua, berperawakan pendek, berjenggot panjang yang mengajak kami berbicara. Kami tidak menggubris sang bapak, seperti biasa, karena kami tau dia pastinya SDF (red. Sans Domicile Fixe, yang dalam bahasa Indonesia diartikan “gelandangan”), kecuali salah satu dari kami. Siapakah dia? Benar sekali, jika anda menebak saudara Adhi Maskawan. Mas Adhi yang baik hati ini memang selalu mendengarkan kesulitan orang, dan dialah yang menjadi “korban” si SDF.

Si Bapak terus mencoba menebak-nebak kewarganegaraan kami, kepada Adhi. “Vietnam? Thailand? Nepal? Madagascar? Malaysia?” sampe suatu ketika dia benar menyebutkan “Indonesia?”. Adhi pun mengangguk ketika sang bapak benar menyebutkan negara dari mana kami berasal. Perbincangan selanjutnya tambah aneh menurut saya, saya kebetulan tetap berada di dekat Adhi, berjaga-jaga jika si bapak hanya berpura-pura mabuk dan berniat jahat kepada Adhi yang sangat tampan malam itu (red. pujian supaya Adhi tidak marah).

I came from Lyon.. walk walk..” – ujar si bapak, “No home, no home…”.

So you’re Indonesia? I know your father, I have been in Chakarta..”  — begitulah bagaimana si bapak menjelaskan kepada Adhi, dan menyebutkan kata “Jakarta”.

— contoh SDF di Perancis —

Adhi tidak tahu harus menjawab apa, agak miris mukanya waktu itu ketika mengetahui bahwa ayahnya sangat terkenal ternyata, atau ups ups, mungkin sebaliknya, apakah karena dia tau bahwa si bapak bohong padanya. Mana mungkin dia mengenal ayahnya, ketika dia tinggal di Indonesia sementara mengenal Adhi saja tidak.

Setelah Adhi memberikan beberapa centimes, akhirnya si bapak meninggalkan kami, dan berakhir dengan gelak tawa dari Adhi. Saya meneruskan cerita tadi kepada yang lain, dan kami tertawa terbahak-bahak bersama di ujung Avenue d’Italie.

“Oooh, betapa malam yang aneh…” Modus para SDF semakin canggih saja, itu yang terlintas di benak saya.

Riza-Arief Putranto, 7 Maret 2010. Setelah Paris, kembali ke Montpellier.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s