ANGER MANAGEMENT

Ini, adalah sebuah pengalaman yang unik sekaligus aneh menurut saya. Jum’at pagi ini saya terbangun dengan kondisi badan tidak menyenangkan. Sekujur tubuh saya demam, dan saya merasakan rasa haus tak tertahankan. Saya kemudian menghubungi supervisor saya dan memohon izin untuk absen setelah beberapa menit sebelumnya, saya membuat janji dengan dokter. Ya, saya hanya ingin memastikan saja, toh pengobatan dokter merupakan bagian dari beasiswa saya. Keuntungan yang bisa saya petik.

Rumah sakit dimana dokter tersebut praktik, Hôpital Lapéyronie, hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari Cité dimana saya tinggal. Setelah saya selesai mendapatkan giliran dan disuntik cairan rehidratasi, saya menunggu skrip dari dokter yang menyatakan saya boleh bekerja Senin esok harinya (red. Di Perancis, skrip dokter sangat penting, yang menyatakan kita boleh atau tidak boleh bekerja).

— mirip dengan muka si Jojo nih —

Dan, dari sinilah, subtilitas cerita ini dipertanyakan.

Saya duduk di sebelah seorang pasien, sebut saja bernama “Jojo”. Dia adalah seorang pasien “khusus”, saya sebut begitu, yang mengikuti sebuah terapi di rumah sakit tetangga dari Hôpital Lapéyronie. Hôpital de la Colombière, adalah namanya, sebuah rumah sakit khusus diperuntukkan pasien sakit jiwa. Yep, you’ve heard me guys, rumah sakit jiwa.

Tetapi, Jojo bukanlah pasien sakit jiwa. Dia hanyalah seorang pasien untuk program terapi “Anger Management” yang disediakan pengelola rumah sakit. Yah, namanya juga rumah sakit jiwa, tentunya menyediakan terapi khusus kejiwaan. Singkat kata, Jojo menderita apa yang disebut “impulsive anger”*

*Kemarahan itu dibagi menjadi dua, yakni “expulsive anger” dan “impulsive anger”. Expulsive anger adalah kemarahan yang ekspresif. Seseorang dengan tipe ini, adalah mereka yang memasuki sebuah supermarket dan berteriak-teriak kepada kasir karena tidak mendapatkan kembalian, dalam sebuah gambaran. Lalu, impulsive anger adalah mereka yang menyimpan kemarahan tersebut, diam selama beberapa hari atau bulan, dan kembali ke supermarket tersebut dan membunuh semua orang. Bisa dibayangkan, impulsive lebih berbahaya dari expulsive.

Saya baru mengerti mengenai tipe-tipe kemarahan ini setelah berada kembali di depan laptop saja di kamar. Jojo bercerita saat dia mengamuk di sebuah toko di Centre Ville, dan ditangkap polisi. Setidaknya, saya mendapatkan gambaran betapa memang “don’t judge book by its cover”. Saya tidak menyangka melihat Jojo yang begitu tenang dan imut, ternyata memendam kemarahan begitu besar. Tentu saja, saya mempertanyakan mengenai kewarasan Jojo, karena, hey, mengamuk di sebuah toko? That doesn’t sound normal right? Tapi, saya faham sekali, jika menilik masalah solitude (kesendirian) di Eropa, bukan hal yang mudah untuk diatasi.

Pengalaman saya pagi ini, membuat saya tertarik untuk menggali lebih dalam informasi mengenai anger management. Bukan berarti saya memiliki masalah yang sama, hanya saja, seperti halnya kesabaran, kemarahan pun memiliki batas. Jikalau batas tersebut terlampaui tentu tidak “menyehatkan” seperti sebagian besar orang bilang. Dalam pencarian saya, saya tertarik dengan sebuah kalimat dari sebuah artikel yaitu “bahwa seseorang yang tenang, dan sangat penyabar, justru lebih berbahaya dibandingkan mereka yang eksplosif (red. dalam batas tertentu)”.

Marah belum tentu menjadi hal buruk, dan sebaliknya bersabar belum tentu merupakan jalan keluar terbaik untuk sebuah masalah. Sepertinya perkara psikologis manusia ini menuntut kecerdikan sang pemilik otak untuk pandai dalam mengolah fakta emosional.

Yap, yap, sebuah pengalaman yang membuat saya berfikir…

Riza-Arief Putranto, 12 Maret 2010. Rehidratasi dengan berfikir…

10 thoughts on “ANGER MANAGEMENT

  1. Yup, semuanya itu pasti ada batasnya kali Za.. Ga hanya kesabaran dan kemarahan, tapi semua bidang pasti ada batasnya. Makanya itu kita tidak boleh terlalu senang, ataupun terlalu sedih atau terlalu sabar atau terlalu marah..pelampisan itu perlu untuk menyalurkan energi negatif yang ada pada diri kita..

  2. Hayah..bijak apanya tho.. ni karena kebanyakan belajar jadinya ya keluarlah komen yang aneh2🙂 Za, ngapain mengacungkan 2 kepalan tangan? mau berantem ya hehe

  3. Oalah gaya cina tho.. lha gimana lagi ujian dah mau dekat ni, jadinya harus banyak belajar tho.. stress mah dah makanan sehari-hari kali (pengganti nasi hehe)

    • jangan stres2.. malah ga bisa konsen pas ujian nanti.. nikmati saja nasi goreng paseban, uenaak ^^

  4. Waduh telat kasih tau-nya Za, dah keburu stress nih🙂.. Iya semoga pas ujian bisa konsen jadi bisa menjawab semua pertanyaan jurynya. Nasi goreng paseban sebelah mana Za yang enak?

    • itu lho, deket masjid kalo blm digusur, hehehe ^^ coba aja cari, cobain satu2, pasti ketahuan mana yg enak mana yg engga, wekeke… semangat utk ujian besok senin..

    • yoaaa.. lumayan lah, walo agak mahal sih utk ukuranku, dibanding nasi goreng depan rumah di jogja.. hehe.. tp ça va lah utk jakarta ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s