WHEN CAPABILITY’S BEEN QUESTIONED

Apakah kecerdasan seseorang dikotak-kotakkan dalam ras?” – pertanyaan saya yang sudah sangat menohok siang ini. Muncul kembali dalam bentuk yang lebih halus – “Kenapa beberapa individu masih menganggap mereka lebih tinggi derajatnya dari individu lain?”. Pertanyaan non generalis, karena memang faham rasisme terus berusaha dibasmi dari muka bumi ini. Benar, tema artikel ini adalah rasisme. Tetapi, saya tidak akan menggunakan bahasa vulgar dalam mengungkapkan, dan bukan pula generalisasi suatu bangsa tertentu. Mari kita jadikan ini, renungan bersama.

united against individual racism

Sebagaimana saya mengalami sendiri tahun kemarin, dan saya menanggap itu adalah blunder individual, bukan mengarah ke sebuah bangsa atau ras (red. artikel facebook “Recto Verso” link http://www.facebook.com/note.php?note_id=48672744939). Hari ini, saya mendengar seorang kawan pelajar sebangsa, yang mengalami hal yang sama, bahkan menurut saya lebih dirugikan dari yang saya alami tahun lalu. Tidaklah perlu, saya bahas lebih detil, tetapi yang ingin saya garis bawahi adalah sebuah pertanyaan kenapa hal-hal seperti itu masih menjadi isu.

Bolehlah, kita berjuang setengah mati, jungkir-balik, tidak tidur semalaman hanya untuk menggali ilmu yang mungkin hanya penting menurut diri sendiri. Semua orang melakukan itu, tentunya dengan sebuah tujuan. Namun, perjuangan itu kadang kala dihambat oleh sesuatu yang sifatnya non-teknis, seperti kasus rasisme individual tersebut.

Saya sendiri masih berjuang untuk mengatasi perkara tersebut, yang menghantui saya sejak saya memulai tahun kedua saya di negara tricoloré ini. Lalu, saya mendengar kejadian itu di tempat lain dilakukan oleh individu yang berbeda. Sungguh, sesuatu yang patut disayangkan terjadi. Dia, yang menjadi korban, menceritakan kepada saya dengan besar hati, dan masih terdengar bersabar menghadapi ini semua. Namun, saya kemudian bertanya, kebetulan setelah menelaah “anger management” dalam artikel sebelumnya, apakah memang kapasitas seseorang itu dipertanyakan dari asal muasalnya.

Sungguh pemikiran yang sempit, lagi-lagi, yang datang dari mereka yang memiliki status pendidikan yang tinggi, atau bahkan bekerja di dunia akademis. Saya bukanlah ahli perkara seperti ini, karena pekerjaan saya sehari-hari hanyalah memegang pipet. Akan tetapi, tentunya sebagai seorang intelek, kita semua dapat berfikir dengan jernih untuk tidak menyempitkan sebuah kenyataan bahwa bahkan seseorang yang berasal dari sebuah hutan di Afrika, misalkan, pun, memiliki kapasitas otak yang sama. Dan, sungguh sangat sulit ternyata untuk menerima bahwa seseorang itu lebih baik dari kita, sehingga yang kita lakukan hanyalah menyudutkannya.

Saya, secara pribadi, sangat berharap hal-hal seperti ini tidak banyak terjadi di masa-masa yang akan datang. Nothing we could do, I guess, because it depends on the individual. But, if it happens, kinda sucks though.

Racism is man’s gravest threat to man – the maximum of hatred for a minimum of reason

~ Abraham J. Heschel (Jewish theologian and philosopher, 1907-1972)

In reality all are members of one human family — Humanity may be likened unto the vari-colored flowers of one garden. There is unity in diversity. Each sets off and enhances the other’s beauty.

~ Abdu’l-Baha, Divine Philosophy, p. 25

Riza-Arief Putranto, 14 Maret 2010. Be though my friend, may courage bring you happiness in the end.

4 thoughts on “WHEN CAPABILITY’S BEEN QUESTIONED

  1. Lebih suka komen di blog ini daripada di Facebook, soalnya di FB dah banyak yg komen nih sedangkan disini belum ada. Jadi suka komen di sini saja

    Selon moi, kita tidak bisa menghindar dari masalah tersebut. Seringnya kita menilai orang hanya dari fisik saja, bukan dari kemampuan atau kapasitas. Wajar sih Za, karena kita dengan mudah dapat menilai fisik seseorang. Beda dengan kemampuan atau kapasitas seseorang, susah menilainya tanpa kita mengenal dengan baik orang tersebut. Apalagi soal ras, susah menghilangkannya, kita kan seringnya menggeneralisasikan semuanya.

    • Ya, kurasa konteksnya agak berbeda dengan yang kubahas di artikel, tapi aku menangkap “pesan” dari komenmu. Intinya, untuk menunjukkan kapasitas seseorang, perlu adanya kesempatan yang diberikan padanya. Yah, dan itu semua adalah rasa menerima bahwa seseorang tersebut ternyata memiliki kapasitas dan tidak menyudutkannya, tanpa alasan hakiki.. like and dislike.. seperti pepatah yg kutuliskan di akhir artikel ^^ makasih sudah mampir dan meninggalkan komentar..

      • Iya nih setelah dibaca lagi ternyata komennya ga nyambung oi🙂 gatahu juga komen yang ini nyambung apa ga hehe..

        Sebenarnya kecerdasan tidak pernah dikotak-kotakan, namun dengan perkembangan jaman, manusia sendiri yang memberi garis pemisahnya. Merasa bahwa negaranya lebih pandai daripada negara lain. Atau dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Hal itu biasanya terjadi karena dia tidak pernah merasakan bagaimana diremehkan orang lain. Dan selalu berada di atas rata-rata. Pola pikir dan pola asuh dikeluarga lah yang membentuk karakter mereka menjadi seperti itu.

        Diremehkan orang lain bukan berati kita harus marah2, bisa aja dengan membuktikan pada orang yang meremehkan itu bahwa kita tidak seperti yang dikatakannya. Namun ya terkadang kita perlu juga si sekali-kali komplain🙂

  2. Ahaha.. komen yang bagus.. tapi konteksnya kurasa lebih ke perbedaan kultur dan sejarah antara dua benua ini. Satu adalah benua negara maju dan satu benua negara berkembang. Aku ga tau ya, bagaimana keluarga di negara maju mendidik anak2 mereka, tapi kayaknya ga ada alasan pasti kenapa seseorang merendahkan orang lain. Hukum sebab akibat mental disini. Misal kenapa seseorang benci orang lain? Ya kadang jawabannya sangat sederhana, ya benci saja.

    Makasih utk paragraf terakhir, masukan berharga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s