LOST IN LANGUAGE

Percayakah kalian jika saya mengatakan bahwa saya mengalami kesulitan menulis dalam bahasa ibu saya ? Tentunya agak sukar dipercaya bukan? Tetapi inilah yang terjadi pada diri saya. Sedikit banyak membuat saya sendiri mempertanyakan sejauh mana kosa kata bahasa Indonesia saya masih valid. Sepertinya, saya kudu melakukan cek “Kamus Bahasa Indonesia – Perancis – Inggris – Jepang” yang tertanam di otak saya.

Singkat kata, pagi ini, saya diminta oleh supervisor saya menerjemahkan beberapa dokumen penting dalam bahasa Indonesia, terkait misi supervisor saya ke Indonesia. Saya yang masih dalam kondisi lapar, banyak pikiran, persiapan pekerjaan lab, langsung mengiyakan tanpa terlebih dahulu melakukan konfirmasi. Alhasil, beberapa menit kemudian saya mendapatkan diri saya bertanya dan menganga “haaa.. tadi dia minta aku ngapain yah?”

— otak sebagai kamus berjalan —

Tetapi setelah mencoba untuk tenang sedikit, saya akhirnya mengerti keinginan supervisor saya. Dengan cepat saya ambil laptop saya yang masih teronggok di sudut ruangan, dan mengerjakan dokumen tersebut. Tak berapa lama, saya mulai tenggelam dalam “dunia kata-kata” di otak saya, mencoba mengalihkan dari satu terminologi ke terminologi lain dalam dua bahasa yang berbeda (red. dari bahasa Perancis ke bahasa Inggris dan Indonesia).

Hingga tibalah saya pada giliran terjemahan dalam bahasa Indonesia. Saya terpaku di depan kursor Microsoft Word saya, yang berkedip-kedip, dan sepertinya berasa semakin cepat saja. Haha, mungkin menunggu saya segera mengetikkan huruf pertama. Ya, saya stagnan. Saya tidak sanggup memulai menulis. Kenapa? Sederhana saja, saya tidak menemukan terminologi yang saya cari di otak saya (red. Kamus Bahasa Indonesia – Perancis di sudut lobus anterior). Saya tidak sanggup memfokuskan diri, tidak sanggup untuk berfikir. Benar-benar tertahan !

Saya bertanya pada diri sendiri, bagaimana ini bisa terjadi? Apakah karena saya setiap hari berdiskusi dengan teman-teman dalam bahasa Jawa ? Ups, maksud saya, bahasa Perancis dan Inggris. Ataukah karena memang tidak ada ekuivalen kata-kata yang saya cari dalam dua bahasa dunia tersebut di dalam bahasa ibu kita ? Saya tidak tahu, bisa jadi bisa juga tidak. Bisa juga, karena saya sudah lama tidak bertemu dengan manusia Indonesia yang berbahasa Indonesia di ranah Montpellier ini (haha, bagian agak berlebihan nampaknya).

Setelah berdebat sedikit dengan supervisor saya, akhirnya dia mengizinkan saya tidak menerjemahkan dokumen –dokumen tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Tetapi, hal ini membuat saya sedikit resah. Karena bagaimana tidak, saya akan membutuhkan terminologi-terminologi tersebut ketika saya diwajibkan menulis dalam bahasa Indonesia.**

Dan, karena saya termasuk orang yang sedikit senewen oleh perkara lumayan sepele seperti ini. Saya mencoba memastikan diri, menguji kapasitas bahasa Indonesia saya, non-terminologis, hanya sebuah tes, dengan mencoba menulis cerita singkat ini. Dan, lumayan menghilangkan rasa gelisah gelundah saya.

Jika ada diantara teman-teman yang memiliki format kamus lebih baik di otak kalian, bolehlah saya copy paste ya? Saya pinjamkan HD external saya?

**yang dimaksud disini adalah menulis sebuah dokumen spesifik.

Riza-Arief Putranto, 18 Maret 2010.

5 thoughts on “LOST IN LANGUAGE

  1. Kadang memang susah mengartikan bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya, karena memang ga ada padanannya. Terkadang kita harus menjelaskan dengan kata2 lain (alias muter2 dulu baru deh bisa mendapatkan persamaannya artinya). Apalagi kata2 ilmiah, wuih susahnya minta ampun🙂

    Salut deh, kamu masih bisa menggunakan 4 bahasa dalam sehari2..Aku aja yang disini kadang masih sering lupa dengan bahsa Indonesia.. kadang ga sengaja ngomongnya pakai bahasa Perancis sama teman yang ga ngerti bahasa perancis, kadang menggunakan bahasa Indonesia/bahasa inggris saat lagi belajar di kelas.. Masih belum bisa mengubah settingan diotakku dengan cepat disaat harus bicara dgn bahasa lain🙂

  2. waduh, masih di indonesia sudah terjadi bouleversement de langage? haha, sudah dipastikan ketika trias berangkat nanti akan mengalami hal itu, lebih parah. selamat datang didunia “bahasa oh bahasa”, haha.. ^^

    • Ye ko malah diketawain tho.. Ampun deh teman yang satu ini, bukannya empati yang diberikan tapi malah sebuah ejekan.. Semoga nantinya tidak separah itu deh🙂

  3. empati atau simpati? aku ga ngejek kok, wong ini dialami semua pelajar indo yg menguasai lebih dr 2 bahasa, selain inggris. biasanya memang begitu, kalo nanti trias tidak mengalaminya ya bersyukurlah. jangan berburuk sangka dunk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s