AUBERGE INDONESIENNE*

*Auberge dalam bahasa perancis berarti hostel, inn. Judul diatas, lebih mengacu kepada “lingkungan ke-indonesiaan”, sebuah cerita singkat dua pelajar indonesia di negara Napoleon Bonaparte.


— Belajar di luar negeri bukan tidak mungkin, walau sulit pengalaman yang diperoleh sungguh luar biasa.. Julius Singara, 200
8. Docteur de Droit, UM1 Montpellier —

Seperti kebanyakan mahasiswa Indonesia yang berada di negeri Napoleon, Lusi Andalusia, biasa dipanggil Lusi, mempersiapkan diri mengunjungi Menara Eiffel. Pelajar di bidang ilmu politik (sciences politiques) di Université Paris I Sorbonne tersebut mengenakan segala pernak-pernik akhir musim dingin, dan mempersiapkan segala perlengkapan kamera. Pada usianya yang masih belia, 20 tahun, Lusi berani menginjakkan kaki di negeri orang dan belajar tidak hanya bidang yang ditekuninya, tetapi juga kehidupan yang berbeda.

Lusi mengarahkan kameranya ke menara yang menjulang tinggi tersebut, kemegahan dan keindahan yang terabadikan oleh sore yang terik. Sebagai seorang pelajar yang tinggal di zona 5, Lusi memiliki kesibukan di pagi hari dan kewajiban mengikuti kuliah. Jarak yang terbentang dari tempat tinggalnya, membuat Lusi wajib bangun pagi, dan mengejar metro dan RER. “Itu bukan masalah bagi saya, saya telah terbiasa seperti itu, ketika tinggal di Jakarta..” – ujar gadis belia tersebut, sembari tersenyum simpul.

Tidak dipungkiri, sebagai kota cahaya dan cinta, Paris menyediakan keindahan arsitektur dan puluhan hiburan tersebar dipenjuru kota. Tetapi hidup Lusi yang terlihat mapan saat ini, tak lepas dari perjuangan di awal keberadaan gadis yang menyukai ski ini di ranah Sarkozy. “Saya terpaksa bekerja paruh waktu untuk mensupport keuangan, pada tahun pertama saya, dan itu sulit..” – ungkap Lusi.

Tidak hanya itu saja, sebagaimana layaknya kota-kota besar di dunia, masalah logement (red. tempat tinggal) pun sempat mempersulit Lusi. Berada di kota termahal di dunia, dan berstatus pelajar non-beasiswa, membuat Lusi menghadapi beberapa masalah lebih kompleks. “Biaya hidup di Paris mahal !” – keluh dara berkepang ini. “Saya membayar 500 euros per bulan untuk keperluan transport dan hiburan…”. Total pengeluaran gadis ini per bulan adalah 900 euros.

Lalu, bagaimana dengan cinta? Sebagai gadis muda yang enerjik, Lusi tidak menutup diri bahwa dirinya telah jatuh cinta dengan kota Paris, atau jika memungkinkan pria-pria mudanya. Namun, untuk saat ini, kehidupan percintaan Lusi sedang reses. “Saya menikmati setiap sudut kota Paris, dan saya tidak mungkin tinggal di kota lain, saya suka perkotaan…”.

“Biaya hidup di Paris mahal !” – keluh dara berkepang ini. “Saya membayar 500 euros per bulan untuk keperluan transport dan hiburan…”. – Lusi, 20 tahun.

Lain Lusi, maka lain pula Jeremi Nolan. Jeremi, begitu dia dipanggil adalah seorang pelajar ilmu kimia, di Ecole des Mines, Alès. Berusia cukup matang, 29 tahun, Jeremi mengenyam pendidikan S3 di sebuah kota kecil di selatan Perancis. Alès, adalah sebuah kota kecil yang terletak 40 km barat daya Nîmes dan 55 km utara Montpellier, yang terkenal dengan sejarah industri pada abad pertengahan. “Sungguh, hidup di Alès sangatlah tenang..” – ungkap pria bertubuh tegap 180 cm tersebut.

Kehidupan Jeremi dihabiskan per harinya 12 jam berada di laboratorium kimia, tempatnya melaksanakan penelitian. “Terkadang saya lebih memilih berada di laboratorium hingga larut, karena saya tidak memiliki kegiatan berarti setelahnya..”. Sebuah gambaran jelas, mengenai perbedaan kehidupan antara Paris dan Alès. Jeremi menjalani rutinitas setiap harinya dan kegiatan di akhir pekan yang tidak banyak berbeda. “Jika saya bosan, saya biasanya mengunjungi kawan-kawan PPI di Montpellier, dan sekedar menghabiskan sebuah kopi di Place de la Comédie” – ujarnya antusias.

Sebagai kota kecil, Alès hanya memiliki bis sebagai sarana transport utama. Tinggal di sebuah asrama (red. studio) yang berjarak hanya 2 menit berjalan kaki ke laboratorium, Jeremi tidak memiliki pengeluaran tambahan untuk transport. “Saya hanya menghabiskan 400 euros per bulan, itu sudah termasuk pembayaran studio tempat saya tinggal dan merenung..” – kelakar Jeremi.

Berbekal rasa penasaran yang besar dan jaringan internet supercepat, Jeremi mengembangkan hobi barunya, yaitu memasak. Dalam waktu 1 tahun, pria yang gemar sepakbola ini, telah menguasai berbagai jenis masakan dari berbagai negara. “Tetapi untuk urusan rasa, saya tidak menjamin lho..” – kilahnya. Sebagai pelajar di bidang kimia, dan terbiasa meracik larutan-larutan, tentu saja memasak merupakan kegiatan logis yang mudah dilakukan.

Lalu, bagaimana dengan cinta ? Tidak tepat rasanya menanyakan pertanyaan semacam ini kepada Jeremi yang sudah memiliki 1 anak tersebut. Keluarga adalah yang terpenting, dan perjuangan Jeremi merupakan perjuangan bersama. Dan, ketika semua itu akan selesai, adalah sebuah pengalaman hebat yang diperoleh pria mapan tersebut.

— “Saya hanya menghabiskan 400 euros per bulan, itu sudah termasuk pembayaran studio tempat saya tinggal dan merenung..” – Jeremi, 29 tahun.

Lusi dan Jeremi. Dua kehidupan yang berbeda, dua gaya bermain yang berbeda. Semua dalam 1 lingkup, Auberge Indonésienne.

Riza-Arief Putranto, 23 Maret 2010. Imajinasi menyeruak…

3 thoughts on “AUBERGE INDONESIENNE*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s