BUKAN LOGIKA BIASA, ANTARA CINTA DAN SITI NURHALIZA

*Sebuah Celotehan Anak Manusia*

Tidak ingin rasanya membawa-bawa Siti Nurhaliza ke dalam ini. Menemukan bahwa namanya telihat harmonis dengan judul diatas, saya semerta-merta memasukkannya. Mohon maafkan saya, Mbak Siti Nurhaliza, tiada bermaksud awak ini mengundang.

Beruntungnya saya malam ini, mengoceh sendiri di depan kanvas putih ini, sembari ditemani chat box seorang kawan, foto Mbak Siti Nurhaliza, wallpaper buaya, dan segelas kopi hangat. Izinkan saya mengoceh tentang cinta (bersamaan dengan saya mengumumkan tema ini, entah kenapa terdengar suara gemuruh). Usut demi usut, ternyata tetangga atas saya yang berbobot 120kg terpeleset, sungguh kasihan.

Cinta, ya cinta. Satu-satunya hal di dunia ini yang tidak membutuhkan logika. Satu-satunya hal di dunia ini yang tidak membutuhkan alasan. Dan, satu-satunya hal di dunia ini yang terkadang membuat seseorang jatuh dan bangun. Terlebih, satu-satunya tema di dunia ini, yang banyak dijadikan lagu. Maafkan, analogi saya yang terakhir, karena ketika menulis ini saya sedang ditemani lagu “I Can’t Make You Love Me” oleh Bonnie Rait, populer di tahun 90-an. Sekedar, ilustrasi saja, supaya perasaan saya ikut mendayu-dayu ketika menulis.

— Ini mungkin yang dibilang orang, cinta “menusuk” kalbu —

Benar adanya, bahwa seseorang tidak bisa memaksakan orang lain untuk mencintainya, berlaku sebaliknya. Saya pernah berujar bahwa cinta adalah hal yang abstrak, tidak dapat dideskripsikan. Cinta juga terkadang menyayat sembilu seperti pisau, tidak mengenal betapapun kalemnya hubungan percintaan seseorang.

Saking dalamnya saya mencoba memahami cinta, maaf maaf ini agak berlebihan, saya menghabiskan tiga buah buku romansa dan buku-buku kerumitan pemikiran manusia, dimulai dari 1001 Puisi Paling Romantis Di Dunia hingga “Les douleurs de mariage” (diterjemahkan : Marriage’s Pain). Ketiga buku pengganti bantal malam hari tersebut, jujur, merupakan yang paling aneh yang pernah saya baca. Tetapi, cocok menemani kopi saya.

— “Marriage isn’t make sense at all, just crap out all of the bullshits and make it works..”

Adalah satu dari beberapa sitasi sarkasme yang saya temukan. Tetapi, jika saya fahami maknanya, mungkin inilah alasan terlogis yang bisa ditemukan. Untuk menjelaskan, apa itu cinta. Tak semudah membuat onde-onde dan Thong Muan (makanan khas Thailand) memang. Lebih-lebih semakin malam saya semakin menemukan kalimat-kalimat ambigu dan tidak jelas. Yang semakin mengukuhkan cinta sebagai sesuatu paling tidak nyata di dunia.

— “We only need 10 sec to decide whether we will like him/her or not?”

Lebih-lebih ketika memasuki chapter berbeda dalam buku berbeda. Lirik indah yang dipakai dalam sebuah lagu (cek out : Paul Jones “Everytime You Go Away”), menyeruak mengganggu dan mengusik hati saya, haha, kali ini berlebihan lagi.

— “Honey, if we can’t solve any problems why do we lose so many tears?”

Mungkin saya terlalu complicated dalam memandang cinta, atau hal-hal selain itu. Manusia dengan segala kromosomnya, kompleksitas yang menciptakan “cinta” manusia seperti hantu di dalam genitas (ghost in the genes, adalah istilah yang digunakan di dunia biologi molekuler untuk fenomena epigenetika, mohon periksa situs berikut untuk tahu lebih banyak http://epigenome.eu/en/1,1,0). Tak terdeteksi ! Itulah jejak-jejak yang dibuat cinta kepada manusia. Tetapi cinta pulalah yang secara ajaib, memberikan cahya dalam hidup manusia, seperti ayah mencintai keluarganya, ibu mencintai anak-anaknya, dan pria mencintai wanita.

Apapun itu, manusia tidak dapat hidup tanpa cinta. Begitu pula saya, yang hanya manusia biasa dan terserang insomnia akut. Izinkan saya memberikan sitasi saya sendiri :

—“Tanpa cinta, hidup terasa hampa…”

Haha, garing sekali, ujar si Ucok yang tengah jatuh cinta pada si Yanti. Apapun itu, wahai Ucok, apapun itu, saya akan melanjutkan akademisi saya pada buku keempat.

Ooh cintaa…

Riza-Arief Putranto, 26 Maret 2010. Mabuk !

25 thoughts on “BUKAN LOGIKA BIASA, ANTARA CINTA DAN SITI NURHALIZA

    • hahaha, itu kan kayaknya peribahasa, haha, seperti yang diungkapkan dalam buku “blink” ^^ wah sebulan ya? aku berapa ya? hahaha…

  1. Masa sih Za, butuh waktu 10 detik? padahal kata ST12 tuh hanya butuh waktu 1 jam saja lho tapi untuk melupakan butuh waktu seumur hidup🙂..

    Btw, tumben nih tulisannya tentang cinta-cintaan🙂

    • ya ga tau ya, tp sedikit banyak benar kok.. ^^ yaah, ingin mengembalikan hasrat menulis bebasku….

    • hihihih… kenapa uni? jangan terlalu mengerutkan dahi yah.. hehe.. saya hanya memainkan kata-kata saja kok :p

  2. mungkin, selain “mengoceh sendiri di depan kanvas putih”, “sembari ditemani chat box seorang kawan”, serta ditemani segelas kopi hangat, mas Riza sedang dalam perasaan penuh cinta ya🙂 prikitiiwww

    • ini dia nih, opini hebring dari rona.. hehe.. bisa jadi analoginya ke perasaan penuh cinta, atau bagaimana kalo lebih ke saya yang ‘bingung’ dengan cinta? haha…

  3. haha…tenang..udah pake krim anti kerut kok…permainan kata2 yg bagus shg mengelitik “sel2 kelabu” ku untuk bereaksi…istilah Mr. Poirot hehe…

  4. sebenernya bukan bingung dengan cinta. cinta tidak membuat bingung. maka, jgn pernah bingung dgn cinta. toh, cinta juga pake logika *seperti judul di atas*😀

    • “jangan pernah bingung dengan cinta..”, hmm, sungguh kalimat yang bagus sekaligus ambigu, hehe. bagaimana kita tidak bingung jika cinta itu abstrak, tak berujud.. hehe..

  5. weehehe…sel-sel kelabu? (gray cells) adalah sel-sel otak, istilah yang dipopulerkan oleh detektif Hercule Poirot tokoh detektif khayalan (fiksi) Agatha Cristhie. ^^ Dalam memecahkan sebuah masalah atau kasus, Mr. Poirot bilang, “kita sebenarnya hanya belum menggunakan sel-sel kelabu otak kita dengan baik dan benar untuk memecahkan persoalan dan menentukan pilihan”, termasuk “kebingungan” soal cinta haha…

    • haha, saya nda berfikir kesana, ternyata uni menyenangi teka-teki detektif.. tetapi memang bukan sel kelabu yg kita gunakan utk “merasakan” cinta tetapi “nurani” uni, hehe..

  6. hmm…sel kelabu yg dimaksud di atas, pertama digunakan utk memahami makna dari artikel ini…, kedua, sel kelabu jelas2 bukan utk merasakan cinta tapi membantu mencari solusi “kebingungan” soal cinta, karena cinta juga butuh logika. ketiga, setuju…memang bukan sel kelabu yg kita gunakan utk “merasakan” cinta tetapi “nurani”…ngomong2 nurani itu ibuku loh…eh salah ya..nura’ini…hehe

    • hehe, mantab penjelasan uni *mengepalkan tangan dan hormat gaya guru murid di film2 kungfu* jadi uni juga sedang mencari solusi kebingungankah? hahaha…

  7. Pingback: Blog Review : 2010 | Jiwitlah daku kau kutabok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s