I LOVE YOU, SURATINI…*

Sebelum mulai membaca, paragraf berikut diberikan secara cuma-cuma kepada para pembaca sekalian. Tujuannya sederhana, menggambarkan kondisi penulis, dan memaklumi keanehan yang akan ditemui dalam tulisan ini. Kurang tidur, hanya sekitar 6 jam sepekan terakhir, mata agak juling, merah, bahkan Visine pun sudah tidak mempan, dan perut kembung, serta sedikit berkunang-kunang. Berkacamata, dan menjamah dua buku yang penting untuk diselesaikan (red. penting menurut saya).

Jam dinding menunjukkan jarumnya pada pukul 23h45 waktu Montpellier. Saya sudah berkemas untuk segera menyanjangi kasur saya yang empuk (red. sepertinya sih empuk, sudah terlalu sering tertidur di karpet soalnya). Berpiyama, dan terlihat seperti boneka voodoo, saya menguap berkali dan menyikat gigi. Mapan di tempat tidur lima menit kemudian, telepon genggam saya berbunyi. Seorang kawan perancis dengan cerah ceria berhumbar bahwa dia mengajak saya pergi ke sebuah pesta di rumah kawannya.

Saya menolak dengan halus, seperti biasa klise. Tajam, singkat dan tangkas ! Menurut saya sih, pada diri sendiri. Ternyata oh ternyata, pintu saya diketok beberapa detik kemudian. Weits, hayoo ! Tak disangka tak dinyanya, si kawan ini sudah sanggah di depan pintu kebesaran istana saya (red. kamar cité berukuran 16 meter persegi). Alamak jan ! Saya tidak mampu dan kuasa menolak ajakan kawan saya tersebut, apalagi setelah dia berujar bahwa sudah ada anak Indonesia lain yang hadir. Saya kemudian berfikir, apakah mungkin salah satu kawan PPI Montpellier, tiba-tiba kenal kawan Master saya dan datang ke pesta tersebut ? Tidak mungkin, saya mengenal mereka semua, kakak-kakak yang sama sekali tidak memiliki hobi berpesta ala Eropa.

Penasaran, sekaligus senang, jika jikalau ada orang Indonesia baru di kota minoritas negara SBY ini. Berdandan casual, seraya mencoba menghilangkan mata merah saya, selama perjalanan dalam mobil, saya masih bertanya-tanya siapakah si dia ? Tak butuh lama untukku menemukan sosok Indonesia diantara rambut pirang dan brunet. Berdiri di sudut ruangan, wajah khas Asia Tenggara memancing saya untuk mendekat, dan perkenalan pun dimulai dalam bzz bzz bzz… (red. mohon maaf itu suara konsleting dalam otak saya, karena pembicaraan kami terjadi dalam bahasa perancis). Metis ! Hanya itu yang bisa saya katakan. Lahir di Jogjakarta, besar di Montpellier, Suratini (nama samaran) begitu mereka menyapanya, memang berdarah Indonesia, tetapi dipertanyakan karena tidak menguasai bahasa ibu kita, kecuali satu kata “3 MY QUA CHI” (red. Terima kasih).

— Sketsa wajah Suratini —

Kenapa Suratini ? Entah kenapa ! Hampir sebagian besar kawan-kawan perancisnya mengenalnya sebagai Suratini. Dia, yang berinisial asli AF, mengaku-ngaku namanya seperti seorang wanita lemah gemulai dari sudut kota Boyolali. Nama yang indah, Suratini ! Cantik, itulah AF. Dan tak heran jika sebagian besar kawan-kawan perancisnya menaruh hati padanya. Mungkin itulah, cara AF alias Suratini, memberikan lelucon. Walau ini terdengar aneh, tapi teriakan nama “Suratini” yang menggema di ruangan tersebut, membuat saya, berimajinasi.

Tak terdengar lagi kericuhan itu, musik hingar bingar. Hanyalah sunyi, sawah, kampung, gemercik air parit, dan burung-burung berkicau. Saya seperti berada di sawah, dan menyongsong seorang gadis desa yang sedang memetik cengkeh di sudut ladang. Gadis bernama Suratini. Berasa aneh, mendengar nama “sakral” kejawen tersebut berkumandang disini. Sebuah kota yang bahkan terasa laic dalam suku bangsa.

“Hey, il ne faut pas être dans la lune, Riza !” (Hey, ga boleh ngelamun, Riza) – ujarnya lembut. Saya tersadar, dan kembali mencoba menegakkan konsentrasi saya. Kelelahan, dan rasa kantuk teramat sangat. Satu setengah jam saya berada di pesta tersebut, saya pamit undur diri seraya mengantar Suratini pulang ke apartemennya. Suratini, hanyalah mampir saja. Senin ini dia akan segera kembali ke kota dimana dia tinggal, Rhôdes. Kami pun pergi seraya diiringi, teriakan “I love you, Suratini !” yang benar-benar membuat saya tidak dapat menahan tawa. Suratini pun bertanya pada saya, ada apa gerangan yang membuat saya aneh malam ini. “Tiga hal Suratini..” – timpal saya, “yakni rasa kantuk, kebelet pipis, dan nama gadis jawa ter-bule yang pernah saya dengar”.

*Mohon maaf apabila ada kesamaan kata dan karakter, semua itu tidak bermaksud merendahkan atau meninggikan satu lain hal. Terima kasih

Riza-Arief Putranto, 3 April 2010. Matilah saya malam ini dengan segala kelelahan saya !

3 thoughts on “I LOVE YOU, SURATINI…*

  1. Habat mas yang satu ini.. bisa bertahan baca buku sampai tidak tidur hehe.. Pantesan aja pintar..ehm ternyata hobby dugem juga ni bocah🙂 tapi kalau ga dugem ga ketemu Suratini ya🙂

    • hanya mengikuti naluri kehidupan saja kok.. btw, diralat ya, itu bukan dugem, hanya seperti soirée di rumah seorang perancis, biasanya memang setel2 musik gitu.. yg kita lakukan? bukan menari, tapi ngobrol. bahkan aku bawa laptopku tuh.. hehe ^^ sembari menuliskan artikel ini…

      • iya mas riza yang caem (jadinya rizaem🙂 ) hebat, digemericiknya suara musik2 yang ga jelas gitu mas rizaem bisa nulis artikel oi.. *salut, angkat 4 jempol deh hehe*..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s