WHY I HAVE ALL THE TIME WORKING, WHILE OTHERS CAN ENJOY THEIR HOLIDAY

Wah, wah sebuah judul “keluhan”, ungkap seorang kawan saya. Boleh saja, diartikan seperti itu, tetapi tidak sepenuhnya benar. Dan, sebuah ungkapan “semua akan indah pada waktunya”, adalah benar menurut saya, meskipun kita tidak tahu kapan waktu itu akan tiba.

I’m working overtime

Lorong itu sangat jauh, dalam dan gelap. Saya hanya mampu melihat seberkas cahaya diujung jendela sana, terlihat jauh dan remang. Sudah semenjak beberapa hari, laboratorium dimana saya bekerja lebih mirip kamar mayat dibandingkan fungsi sebenarnya. Beberapa kali, saya melihat memang, kawan-kawan lain yang lalu lalang, tetapi kali ini rasanya tidak diperlukan lampu merah untuk mengatur lalu lintas mereka.

Ya, sepekan terakhir ini, adalah liburan Paskah yang membuat sebagian besar orang mengambil cuti mereka, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Sementara dibelahan selatan Eropa, kawan-kawan lain sedang menikmati cahaya silau mentari Spanyol, yang saya belum diberikan kesempatan untuk bergabung. Entahlah. Lalu, apa yang saya lakukan? Saya berada di ruangan kecil saya, ditemani oleh sebuah laptop putih yang sebentar lagi berubah warna menjadi coklat (sudah sekitar beberapa bulan terakhir saya membiarkan laptop saya kotor, mereka bilang, itu tandanya orang bekerja keras atau malas membersihkan, haha, saya tidak peduli). Saya yang sementara sedang berada di masa penyembuhan, terus menerus bekerja, dan bersabar, menghadapi sulitnya merencakan pekerjaan ketika para penanggung jawab alat sedang berlibur. Harus menunggu.

Ketika melihat ke sebuah kertas berisi petisi, dari pihak universitas dimana saya mengampu studi saya. Saya mengerti memang, kenapa saya tidak dapat menikmati liburan. Sebagai mahasiswa yang bekerja di lab, saya terikat kontrak dengan pihak institusi dimana saya bekerja, dan kehilangan seluruh hak liburan versi universitas saya. Tetapi juga saya tidak memiliki hak untuk mengambil cuti seperti yang pegawai tetap lakukan, karena saya bukanlah pegawai. Alhasil, saya diwajibkan datang ke lab meskipun saya tahu tidak akan ada aktivitas berarti. Nah, disinilah, saya berusaha untuk kreatif, dengan mengada-adakan pekerjaan tersebut. Selama mereka (red. pegawai tetap) tidak ada, saya membersihkan lab, menyusun rangkain bunga di sekitar koridor, menyediakan perangkat-perangkat lab, mencoba mesin-mesin lab satu per satu, dan bahkan membersihkan mereka. Jika, supervisor saya mengetahui hal ini, tentunya saya akan dinasehati, karena ini semua bukanlah pekerjaan seorang mahasiswa.

Tetapi yang saya peroleh ternyata malah sebaliknya, saya jadi mengetahui sistem kerja sebagian besar alat, dan bagaimana mengatasi kerusakan mereka (minimal, mengerti bagaimana dan harus apa). Kemudian, saya memahami bahwa menyediakan materi lab ternyata tidaklah serumit yang saya bayangkan, hanya membutuhkan sedikit keahlian berhitung dan tenaga ekstra (bila harus mengangkat galon larutan dapar seberat 15 liter).

I’ve always worked very, very hard, and the harder I worked, the luckier I got — Alan Bond

Disisi lain, saya semakin gencar saja diminta untuk memberikan les bahasa perancis kepada beberapa kawan asing lain disini, non-indonesia, namun berasal dari benua yang sama dengan saya. Mereka merasa lebih nyaman belajar dengan seorang kawan dibandingkan datang ke sebuah tempat kursus dan mendengarkan 4 jam dialog dalam bahasa perancis. Bahkan ketika sang guru menjelaskan kenapa begini dan begitu, dia tetap menggunakan bahasa ibu-nya. Tentu saja, hal tersebut menyulitkan mereka yang masih berada di level dasar. Imbalan kursus tersebut saya temukan menarik, karena saya banyak menerima kado, haha, terutama berbahan dasar kain, dan beberapa pernik unik khas negara murid-murid saya (haha, udah berlagak seperti guru saya). Dan, saya menemukan, bahwa diantara sebuah kegiatan lab yang terkadang dinilai membuat kuper, saya masih mampu menemukan pertukaran budaya.

Mungkin pengalaman kecil tersebut, yang membuat saya mengerti kenapa semua akan indah pada waktunya. Dan, bahwa kebahagiaan dan kelegaan itu bukan berasal dari materi, atau dimana kita berada, tetapi lebih kepada pribadi itu sendiri. Jikalau, hari ini saya menentukan bahwa saya berbahagia, maka berbahagialah saya. It’s all in mind…

Riza-Arief Putranto, 21 April 2010. Membutuhkan suntikan semangat juang tiada henti ! Merdeka ! Hidup Ibu Kartini ! Lho??

4 thoughts on “WHY I HAVE ALL THE TIME WORKING, WHILE OTHERS CAN ENJOY THEIR HOLIDAY

  1. kejeniusan itu hanyalah barang pinjaman, yang hanya pantas didapatkan oleh mereka yang telah banyak menderita, yang telah mengatasi cobaan-cobaan dengan tegar, tekun dan rendah hati. aku rasa, itu akan dan telah ada padamu…insyaallah ^^.

    It’s all in mind…sepakat dengan ini…kita akan jadi seperti apa yang kita pikirkan dan inginkan, disempurnakan oleh “perjuangan” di dalamnya…

    yang kayak begini nih, baru bisa dibilang, “uni menanggapinya serius amat” hehe…ganbatte ne…

    • waaah uni menanggapinya serius amat, hehe. tp uni benar, pernah dikatakan bahwa “genius is a priviledge, we must use it for the good of mankind”.. dengan kata lain, tanggung jawabnya besar ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s