TOLONG SAYA, TAPI KALO NGGA YA NGGAK PA PA…

*Sebuah laporan pandangan mata*

Entah doa apa yang dipanjatkan, kawan saya, Mas Ade Kadarisman, ketika berkomentar di wall facebook saya (ujarnya : bikin tulisan baru aja mas riz..cari judulnya yg unik he he). Beberapa menit kemudian, sebuah tema “menghampiri” saya. Menghampiri? Boleh dikatakan demikian, karena memang sesuai dengan ungkapan pepatah bahwa “Gajah di pelupuk mata tak tampak, sedangkan semut diseberang lautan terlihat”.

— Mari bersopan-sopan ria —

Adalah seorang kawan saya di laboratorium (memang ceritanya tidak akan jauh-jauh dari seputar kehidupan saya mendekam di “kolom kuper” ini, julukan laboratorium yang diberikan oleh kawan-kawan saya yang bekerja bukan di laboratorium), yang baru saja meresmikan diri menjadi kawan saya. Beliau ini, termasuk “orang baru” di lab, walau tidak bekerja di satu tim yang sama dengan saya. Perawakan sedang untuk ukuran pria, penampilan boleh juga, dan kemampuan bahasa perancis yang oke punya, membuat supervisor beliau mengundangnya dari Negeri Jiran.

Dengan saya, beliau menginginkan komunikasi dalam bahasa perancis, walau jika jenuh, sesekali beliau berbicara melayu sedangkan saya menimpali dengan bahasa ibu pertiwi (sst, bukan bahasa jawa yah). Lalu, apa sih sebenarnya yang ingin saya bahas di edisi tulisan kali ini? Haha, sudah seperti pendongeng ulung saja nih saya.

Jadi begini,

Seperti sebagian besar “orang timur” yang membawa budaya timur mereka ke negeri barat, tentu saja kawan saya ini, memiliki “unggah-ungguh” (red. tata karma) yang terbilang sopan. Menunduk ketika berbicara dengan seseorang yang lebih senior atau lebih sepuh, atau meminta maaf dengan sopan ketika secara tidak sengaja menyinggung perasaan dalam berdialog, atau bahkan tersenyum setiap kali berpapasan dengan orang di lorong, adalah sedikit dari banyak norma kesopanan yang diusung beliau.

Dalam dua hari, beliau bekerja, beliau tampak gelisah dan bingung. Raut muka pucat pasi, kekurangan vitamin C, dan gugup gulana. Saya mencoba menanyakan ke beliau apakah gerangan yang sebenarnya terjadi. Ternyata, beliau mengherankan kenapa tidak ada orang yang membantunya di lab, padahal sudah memohon pertolongan. Saya sendiri juga bingung, karena sering dekat dengan beliau, dan sepertinya beliau sudah sering memohon pertolongan kepada rekan-rekan sejawat di lab.

Apakah anda bisa berfikir kenapa sebabnya?

Saya sendiri yang baru berkawan dengan beliau tepat 27 jam 44 menit 25 detik, ketika saya mengetik ini, baru saja menyadari sesuatu yang unik dari diri si bapak yang terkenal paling sopan di lingkungan bâtiment 3 ancien étage ini. Adalah kebiasaan dibawah sadar beliau, yang acap kali terungkap, ketika beliau memohon pertolongan kepada orang lain. Tidak ada yang spesial dari kalimat-kalimat beliau (red. tata bahasa dalam hal ini), hanya saja selalu diakhiri dengan sebuah kalimat “….kalo ngga ya ga pa pa…”. Begitulah.

Yup, benar sekali. Adalah kalimat beliau yang mengakhiri setiap rangkuman “permintaan tolong” beliau-lah yang menurut saya justru memberikan kesulitan. Bila  diibaratkan dengan mengetik, beliau mengetik satu paragraf penting, dan kemudian menekan tombol delete. Itu pula sebabnya, setiap orang yang beliau minta tolong, membatalkan keinginan mereka untuk menolong. Istilah orang jawa, “ya ra ditulungi yo rapopo, yo wes rasah ditulungi..” (red. ya kalau tidak ditolong tidak apa-apa, ya sudah tidak usah ditolong).

Kenapa demikian?

Di kehidupan laboratorium, memang ada sebuah dogma yang harus ditanam disetiap benak mereka yang bekerja di dalamnya, yakni bahwa “semua orang itu sibuk”, sehingga mereka akan memikirkan terlebih dahulu pekerjaan mereka. Apakah yang dimaksud disini adalah keegoisan? Tentu saja tidak. Memang, dalam keseharian, setiap individu memiliki tanggung jawab masing-masing dengan pekerjaan mereka, sehingga membantu orang lain adalah “perhatian berikut” dari tanggung jawab tersebut. Tetapi, jika memang seseorang memerlukan bantuan, mereka akan membantu tentu saja. Hanya saja, jangan diakhiri dengan kalimat “ya sudah tidak apa-apa kalo tidak membantu..”.

Bagi beliau, kawan saya ini, mungkin kalimat tersebut adalah bentuk “halus” beliau dalam meminta tolong. Tetapi, bagi budaya barat yang terkenal direct, tentu saja, hal tersebut akan dianggap sebuah ungkapan “hanya sekedar mengatakan akan meminta tolong” dari kawan saya.

Sekian laporan pandangan mata saya..

Riza-Arief Putranto, 27 Maret 2010.

6 thoughts on “TOLONG SAYA, TAPI KALO NGGA YA NGGAK PA PA…

  1. Ada pepatah “Dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung”..*apa hubungannya ya🙂 *

    Ya begitulah hidup, terkadang kita harus melepaskan budaya kita saat kita hidup di negeri orang. Tidak semua budaya yang kita miliki dapat kita praktekan di negeri orang. Salah-salah ya seperti temanmu itu🙂

    • betul sekalo jeng trias.. walau memang tidak boleh melupakan. artinya adalah adaptasi saja, hehe. direct saja, mereka tidak tersinggung kok. ^^ sukses selalu !

  2. pak riza, maafkan ya…semalam tak tinggal tidur, tapi kalo ga dimaafin ya ga pa pa haha…*soalnya mo nonton bola. tadi pagi tersenyum menyimak update2 “gerutuan” pak riza, lyon kalah telak hehe. tapi yang paling ditunggu ntar malam pastinya, apakah si biru hitam akan menemani si merah?* ^^

    • hoo, pantas.. dimaafkan, tidak masalah kok. iya agak kesal nih, wong sudah sampai di semifinal kok mainnya begitu.. ^^ semoga saja ya uni, masih khawatir saya sama si biru hitam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s