15 MENIT SUDAH LEMAS

Sekian lama tidak menelurkan karya emas berupa celotehan khas facebook, saya agak minder dengan kinerja kawan-kawan saya, yang notabene, lumayan aktif menghasilkan karya-karya tinta emas mereka. Lalu, saya memutar otak, di sela-sela kesibukan, bagaimana menarik perhatian kawan-kawan semua, agar kembalinya tulisan saya, agak “greng” begitu. Alhasil, saya menemukan judul yang menurut saya lumayan menarik, perhatian. Yah, kalau-kalau tidak, juga tak mengapa, yang penting sudah mencoba (red. terkesan putus asa sekali).

*Paragraf diatas diberikan cuma-cuma kepada pembaca, supaya tulisan saya, bertambah satu paragraf dan terlihat panjang, hahaha..*

— 15 Menit Sudah Lemas, berasa seperti judul film —

Baiklah, saya akan memulai cerita saya,

Pada suatu pagi, di suatu halte bus, di depan suatu rumah sakit, dan di belakang arrêt tram seperti biasanya, saya menunggu bus yang  akan mengantarkan saya ke laboratorium dimana saya bekerja. Pandangan mata saya menuju kepada sebuah papan elektronik yang memberikan informasi mengenai jadwal bus, berapa lama bus tersebut akan datang di halte. Lima belas. Ya, angka tersebut menelongok di papan. Cukup lama, pikir saya, dikarenakan biasanya hanya sekitar 5-7 menit perbedaan antara satu bus dengan yang lain.

Kemudian, ketika bus tersebut akhirnya datang, saya bertanya kepada pengemudi, apakah hari ini, TAM (Jaringan Transportasi Montpellier) sedang mogok? Sopir tersebut menggelengkan kepala. Dan, saya mendengar celotehan seorang ibu tua dibelakang saya, yang mengatakan bahwa 15 menit adalah batas waktu menunggu untuk orang Montpellier (red. penduduk kota ini, biasanya disebut Montpellierains atau Pailladans).

Mendengar celoteh sang ibu, saya pun berbalik dan bertanya, benarkah apa yang ibu tersebut katakan? Sang ibu mengajak saya untuk duduk bersebelahan, dan berceritalah beliau, bahwa penghuni natif Montpellier, memang hanya mampu menahan kesabaran selama 15 menit. Berbeda dengan yang terjadi pada masa sekarang ini, ketika berbagai imigran memenuhi kota yang terkenal dengan klub handball terbaik di Eropa tersebut.

Setelah mengakhiri pembicaraan dengan si ibu, saya berfikir dan mencoba terus-terus mengingat. Memang benar, sejak kedatangan saya di kota ini, saya berinteraksi dengan pribumi Montpellier, dan mengalami batas 15 menit tersebut. Bulan September 2008, saya membuat janji dengan professor saya di Universitas, dan saya terlambat 16 menit, beliau sudah tidak lagi berada di tempatnya. Kemudian, saya pernah menunggu seorang kawan asli Montpellier, yang terlambat 16 menit, dan meminta maaf kepada saya, seolah-olah dia pernah membuang kucing saya ke sungai. Hal tersebut berlangsung hingga hari ini. Bahwa supervisor saya, selalu memberikan batas waktu 15 menit kepada student bilamana diharuskan terlambat.

Ya, semua masuk akal, sesuai yang dikatakan si ibu. Tetapi, si ibu juga mengingatkan, bahwa tradisi tersebut sudah mulai luntur. Pengaruh budaya baru yang mempengaruhi penghuni natif, membuat batas waktu 15 menit tidak lagi penting. Bahkan sekarang, saya sering dibuat menunggu oleh masyarakat Eropa yang terkenal dengan ‘anti-terlambat’, karena mungkin jam mereka tidak terbuat dari karet.

Saya menamakan budaya lama tersebut sebagai ’15 Menit Sudah Lemas’. Sekedar lelucon untuk saya mengingat sendiri. Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa 15 menit ? Kenapa tidak 5 atau 10 menit ? Atau, bahkan 30 menit ? Saking seriusnya saya, saya mencoba untuk mencari jawaban tersebut secara sains, dan menemukan di sebuah jejaring internet bahwa hanya membutuhkan sekitar 15 menit, untuk tubuh menghasilkan hormon-hormon yang terkait dengan stres, seperti ADH, kortisol dan adrenalin, untuk mencapai konsentrasi yang membuat seseorang gugup. Kegugupan, yang semua orang mengerti, akan membawa kepada kegelisahan, dan respon normal manusia (kemarahan, senewen, kesal, dsb).

Dari segi analisis secara dangkal, saya dapat membayangkan beberapa kemungkinan kenapa ditetapkan waktu 15 menit sebagai toleransi keterlambatan. Bagi mereka yang merokok, tentu saja, membutuhkan 15 menit untuk menghabiskan puntung rokok mereka dengan santai dan tidak terburu-buru, selama menunggu. Setelah itu, rokok tersebut habis, makan senewen-lah si penunggu tersebut. Mungkin juga, karena 25% dari 1 jam, lebih baik dari 50% dari 1 jam. Bagaimanapun juga, kehilangan waktu 25% lebih baik dari pada 50%. Lalu, kenapa tidak 10% ? 5% ? Karena biasanya kita cenderung mengabaikan kehilangan 5-10% (red. saya melantur ketika memikirkan kalimat tersebut).

Sampai di paragraph ini, saya terus memikirkan analisis-analisis bodoh, sehingga saya malu untuk menulisnya. Jikalau begitu, maka saya serahkan pada anda. Menurut anda, kenapa harus 15 menit?

Riza-Arief Putranto, 17 Mei 2010. Kebanyakan berfikir, jadi setengah gila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s