DUEL MAUT : RIZA VS GABRIEL SI ‘PETIT ENFANT’

Petit enfant dalam bahasa perancis, berarti ‘anak kecil’. Jadi tema tulisan kali ini, berisi pengalaman saya, sekaligus mungkin duel maut tahun ini (maaf, berlebihan nampaknya, tapi biasanya yang berlebihan-berlebihan jadi artis kan di Indonesia, hahaha). Di dalam tulisan kali ini, saya banyak menggunakan bahasa dan istilah perancis, sehingga saya sediakan kolom terminologi dibagian bawah, agar bisa dimengerti bagi mereka yang tidak berbahasa perancis.

Tentunya kawan-kawan semua familiar dengan yang namanya pertandingan tinju. Ketika saya kecil, sering menemani ayah menonton, dan hingga saat ini masih hafal setiap kali pembawa acara yang diatas ring membawa mike dan sering berujar ‘Ladies and gentlemen…today’s fight..bla bla bla..’, kira-kira seperti itu. Nah, saya rasa tulisan kali ini kudu dimulai dengan kalimat tersebut.

Ladies and gentlemen,

In the blue corner, nama Riza Putranto. Usia, hmm, mending ga usah disebut. Jagoan main PS Pro-Evolution Soccer 2010, dan gemar main Mafia Wars. Bebahasa Indonesia, Perancis, Inggris dan Jepang. Hampir dua tahun menjajaki dunia pertarungan di Montpellier. 50 kali bertanding versus petit enfant, 49 kali KO (artinya saya sih yang kalah), dan 1 kali menang TKO.

In the red corner, nama Gabriel Morontoro. Usia 6 tahun. Jagoan main Wii Console. Game kesukaan ‘Prince de Persia’. Berbahasa Perancis, dan Italia. Rookie player di dunia pertarungan Montpellier. Hobi makan es krim coklat di dalam bus, dan menumpahkannya di kursi penumpang. Belum pernah bertanding sebelumnya.


— annoying kid —

Saya rasa sudah cukup nih, edisi beberapa paragraf berlebihan. Jadi singkatnya, pagi ini saya berangkat seperti biasa menuju tempat bekerja yang berjarak kurang lebih 2 km dari Cité dimana saya tinggal. Seperti biasa pula saya menaiki bus ‘Navette Agropolis’ yang berwarna biru, sembari membawa segelas kopi. Saya sangat menikmati pagi ini, walau Montpellier diselimuti awan kelabu sedari shubuh. Hmm, saya merasakan ketenangan pagi hari yang lama sekali sepertinya tidak saya rasakan.

Navette Agropolis merupakan bus kecil yang menghubungkan antara Cité Agropolis, dimana hampir sebagian besar Institut de recherche berada, dan ligne tram. Jadi bisa dikatakan semacam penghubung dua arrêt tram (red. tempat pemberhentian) tetapi melewati beberapa lokasi yang tidak terjangkau oleh tram. Salah satu arrêt dari Navette tersebut adalah Place de 4 Seigneurs yang didepannya berdiri sebuah Ecole Maternelle (red. TK, disingkat EM). Dari sinilah, ketenangan pagi hari saya terusik. Serombongan anak-anak EM tersebut memasuki bis dan mulai berbuat gaduh. Saya tersenyum simpul, setiap kali beberapa diantara mereka menyapa saya ‘Coucouuu….’.

Tibalah seorang anak yang profilnya saya perkenalkan diatas, duduk disebelah saya. Tersenyum dengan gigi yang tidak beraturan dan penuh dengan coklat. ‘Coucou Monsieur..’ katanya. Saya balas, ‘Oui, coucou le gamin’. Beberapa detik kemudian, Gabriel memandangi saya dengan pandangan penasaran. Kacamatanya yang gede membuat caranya memandang saya tambah lucu saja. Tak perlu menunggu lama untuknya mengucapkan beberapa kalimat. Dan, berikut adalah dialog singkat antara saya dan Gabriel.

Gabriel : ‘Monsieur, vous n’êtes pas français ?’

Riza : ‘Non, pas du tout. Je viens de loin, Indonésie.’

Gabriel : ‘Aaaah..’ (beberapa detik kemudian) ‘Je la connais pas, désolé’.

Riza : (tersenyum kecut, perasaan mulai tidak nyaman).

Gabriel : ‘Oi monsieur, pourquoi vous êtes si grand que ça ?’

Riza : ‘Pardon.. que dirais-tu ?’

Gabriel : ‘Avez-vous mangé des bâtons ?’

Riza : ‘Non non, pas du tout. Je mange en équilibre, c’est pourquoi j’ai bien grandi’ (bangga).

Gabriel : ‘On peut acheter ou Monsieur, un repas qui s’appelle « équilibre » ?’

Riza : (glek, semakin ga enak perasaan).

Gabriel : ‘Oi Monsieur, pourriez-vous vous baisser un petit peu. J’ai du mal à vous regarder, ça me fait mal à l’encolure’. (senyum aneh)

Riza : (grrr..).

Gabriel : ‘Oi Monsieur, vous êtes bizarre ! Pourquoi vous avez beaucoup de boutons dans votre visage ? Vous êtes comme plante’.

Riza : (pengen nyubitin nih anak, tapi satu arrêt lagi sudah sampai, jadi saya menekan tombol berhenti).

Gabriel : ‘Oi Monsieur, vous allez ou ?’ (ketika dia melihat saya beranjak dari kursi).

Riza : ‘Alors écoute, je vais descendre et aller chez les retouches de corps, et je vais essayer si c’est possible de diminuer la taille de soi pour qu’un petit gamin mechant comme toi, ne soit pas si désagreable aux gens’. (tersenyum simpul, dan berujar au revoir kepada chauffeur).

Fiuhh, akhirnya saya keluar dari Navette yang membuat saya berkeringat dingin selama sepuluh menit. Yah, begitulah akhir dari pertempuran saya pagi ini, dan skor tentu saja menjadi milik Gabriel. Saya bertekad akan belajar lebih keras lagi agar mampu menghadapi anak-anak seperti Gabriel itu, sehingga di masa yang akan datang, bisa membalas segala pertanyaan ‘aneh’ yang mereka sodorkan.

Kolom terminologi dan terjemahan.

Arrêt. Identik dengan sebutan ‘halte bus’ dalam bahasa Indonesia. Biasanya, hanyalah shelter sederhana seperti tempat tunggu bus way, namun lebih kecil.

Coucou. Sebutan ‘hai’ dalam bahasa perancis. Terkesan kurang sopan, namun lucu karena biasanya diucapkan mereka yang sudah saling kenal dekat atau dengan anak-anak kecil dibanding mengucapkan ‘bonjour’.

Gamin. Bahasa perancis dari ‘anak kecil’.

Dialog diatas, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia :

Gabriel : ‘Bapak, anda bukan orang perancis kan ?’

Riza : ‘Tidak, sama sekali tidak. Saya berasal dari jauh, Indonesia ‘ .

Gabriel : ‘Aaaah..’ (beberapa detik kemudian) ‘Saya tidak tahu, maaf’.

Riza : (tersenyum kecut, perasaan mulai tidak nyaman).

Gabriel : ‘Hoi pak, kenapa anda begitu tinggi ?’

Riza : ‘Maaf, apa yang adik katakan ?’

Gabriel : ‘Bapak makan tiang ?’

Riza : ‘Tidak, tidak, sama sekali. Saya makan seimbang, karena itu saya tumbuh dengan baik (bangga).

Gabriel : ‘Kita bisa beli dimana pak, makanan bernama « seimbang » ?’

Riza : (glek, semakin ga enak perasaan).

Gabriel : ‘Hoi pak, bisa agak menunduk sedikit ga ? Saya kesusahan nih melihat anda, bikin sakit leher’ (senyum aneh).

Riza : (grrr..).

Gabriel : Hoi pak, anda aneh deh ! Kenapa anda punya banyak tombol di muka (red. jerawat) Anda seperti tanaman’.

Riza : (pengen nyubitin nih anak, tapi satu arrêt lagi sudah sampai, jadis aya menekan tombol berhenti).

Gabriel : Hoi pak, mau kemana ?(ketika dia melihat saya beranjak dari kursi).

Riza : ‘Ok, denger ya, saya mau turun dan pergi ke tempat reparasi tubuh, dan saya akan mencoba jika memungkinkan untuk mengecilkan ukuran tubuh seseorang sehingga anak kecil kejam seperti kamu, tidak jadi menyebalkan ke orang-orang (tersenyum simpul, dan berujar au revoir kepada chauffeur).

Riza-Arief Putranto, 28 Mei 2010. Hahahahaha.

3 thoughts on “DUEL MAUT : RIZA VS GABRIEL SI ‘PETIT ENFANT’

  1. lucu2… tapi lebih lucu baca obrolan dalam bahasa perancis🙂 jadi bertanya-tanya, setinggi apakah riza itu hehe… jangan2 ntar nasibku sama kaya anak kecil itu..pegel leherku kalau ngomong sama Riza🙂

    • haha. lucu tapi masih dongkol nih. anak itu mukanya minta dicubitin memang. yah kalo trias mah ga beda-beda jauh kali tingginya. hehe, kaya aku tiang listrik aja ^^

  2. hayah, dongkol kenapa? dongkol karena dikatain banyak jerawat ya hehe.. makanya om, ikut perawatan wajah dong biar wajahnya mulus🙂 ntar kita buktikan setahun lagi ya, pas dirimu balik ke prencong, apakah tinggimu kaya tiang listrik apa tidak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s