TOSHI, LEPIE JEPANG KASIHAN

Atas permintaan banyak pihak, saya dengan terpaksa kudu membeberkan sebuah rahasia dari diari saya yang terdalam (red. saya taruh diari saya di laci paling dalam yang kuncinya sudah hilang sejak lama, berkat bantuan obeng akhirnya berhasil dikeluarkan, haha), yakni mengenai sebuah cerita. Cerita yang tak pernah diungkap, tentang ‘Si Toshi, Sang Lepie Jepang’. Brrrt (suara tape seperti di film-film yang menghentikan adegan) ! Nanti dulu. Sebaiknya saya jelaskan terlebih dahulu istilah-istilah aneh yang saya gunakan, juga tentang siapa dia.

Toshi, adalah nama sebuah laptop, yang sejak awal tahun ‘gaul’ disebut ‘lepie’. Kulit mulus, berwarna putih, tipe layar 12 inchi, berbobot ringan 1,45 kg, dan berperawakan seperti made for woman, tapi sebenarnya all ages. Toshi merupakan hasil perkawinan campuran, dari hardware buatan Jepang, dan teknologi rakitan versi Perancis. Beberapa body kit-nya bertuliskan ‘Made in Japan’ tetapi kulit luar kadang bertato ‘Fabriqué en France’.

— Si Toshi (red. Toshiba Portégé M800) —

Lalu, kapankah pertama kali saya bertemu Toshi? Dimulai pada bulan Desember 2008, saya berniat untuk ‘berselingkuh’ dengan laptop lain. Pada saat itu, saya sebenarnya sedang ‘menjalin hubungan’ dengan Si Vaio, sebuah laptop high-quality (250GB Harddisk, 2GB Memori) dengan desain aduhai. Kenapa saya melakukan itu? Saya tidak tahu. Sepertinya diantara kami sudah tidak ada ‘rasa’ lagi, hampa terasa. Lebih-lebih, Si Vaio selalu berusaha menarik perhatian saya, alias ‘ngambek’ ditengah-tengah saya berhubungan dengannya. Sebagai seorang pria dewasa, saya memutuskan untuk tidak perlu memperpanjang masalah dengan Si Vaio, tidak baik berhubungan tetapi selalu ada benci diantara kami.

Dan, begitulah cerita ketika saya ‘jatuh cinta’ dengan Si Toshi. Betapa dia terlihat mempesona. Kapasitas yang saya idamkan, performa luar dalam yang menarik hati. Betapa tidak ! Pada tahun itu, sebuah laptop berkapasitas 350GB HD, 4GB Memori, dan asesori-asesori lain seharga ‘hanya’ 800 euros, boleh dikatakan ‘pas mal’ (red. ‘not bad’ dalam bahasa Perancis). Saya tidak perlu berfikir panjang ketika ‘membungkus’ Si Toshi dan membawa dia pulang ke rumah. Sulit memang ! Dua minggu pertama, perang kecemburuan masih terjadi antara Toshi dan Vaio, memperebutkan ‘cinta’ saya. Saya sendiri juga dibingungkan dengan cara mereka masing-masing untuk menarik perhatian saya.

Akhirnya, saya membagi tugas kepada mereka berdua. Si Vaio dengan kapasitas layar yang lebih baik, LCD Blackscreen, saya ‘pekerjakan’ sebagai laptop ‘have fun’, sedangkan Si Toshi dengan kecepatan yang lebih baik saya utamakan sebagai laptop ‘pekerjaan’. Tetapi, seiring waktu berjalan, Si Vaio menunjukkan gejala aneh, dan menuntut ‘cerai ‘ dari saya. Demi kebaikan ‘rumah tangga’ akhirnya saya lepaskanlah dia, kepada seorang bapak tua, demi 400 euros. Sebuah kompensasi ‘perceraian’ yang lumayan rugi bagi saya, tetapi hati damai.

Lalu ? Ya, 17 bulan telah berlalu sejak itu. Dan, Si Toshi selalu menemani saya, dalam ‘suka dan duka’. Setiap pekerjaan saya, tulisan-tulisan facebook saya, artikel, jurnal ilmiah, dan segala macam kegiatan, saya cetuskan dengan ‘meremas-remas’ keyboard Toshi. Dia, pun merasa nyaman saya perlakukan demikian. Tetapi, entah apa yang terjadi. Sejak sebulan terakhir, Toshi menunjukkan gejala ‘sakit’. Dimulai dari layar yang tidak mau menyala, hingga beberapa huruf di keyboard yang tidak mau dipencet, hingga ‘kemacetan’ luar biasa dari daya akses Toshi. Dengan memori sebesar 4GB, seharusnya Toshi memiliki daya juang tinggi untuk akses-akses software tanpa mengalami kesulitan. Saya berusaha ‘mengobati’ sendiri Toshi dengan recovery system, bahkan reinstallation. Tetapi, ‘penyakit’ Toshi tak kunjung reda. Saya kemudian mencoba menghubungi seorang kawan yang ahli virus komputer, tetap saja masalah itu tidak selesai.

Oh, saya putus asa. Betapa tidak ! Semua data dan link-link software saya, yang saya perlukan dalam pekerjaan saya ‘dipatri’ di dada Toshi. Terutama karena semua itu dibeli di Perancis, dengan program lisensi original dan tidak dapat digandakan. Saya khawatir ! Dalam dua pekan saya harus menyelesaikan tugas akhir saya, dan saya membutuhkan Toshi. Semua orang menyarankan pada saya untuk merekrut sebuah ‘pasangan hidup’ lain, tetapi, Toshi bermakna lebih di hati saya.

Saya tak sanggup meninggalkan dia dalam kondisi ‘sakit’ seperti ini. Sungguh, malang. Andai saja, saya mampu memutar balik waktu, maka saya bisa mendeteksi lebih dini penyakitnya. Oh, terkadang hidup memang tidak adil. Saya hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Toshi, agar ceria kembali dunianya. Dan, agar semua impuls-impuls listrik di dalamnya bekerja sebagaimana mestinya.

Riza-Arief Putranto, 31 Mei 2010. My lepie leprechaun !

5 thoughts on “TOSHI, LEPIE JEPANG KASIHAN

  1. Makanya om, pekerjakan si toshi sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.. mungkin saja si toshi dah ga kuat disuruh kerja rodi sama om hehe..*komen yang tidak memberikan solusi🙂 *

    • haha, sssst, jangan buka rahasia dunk, kalo dia kuperkerjakan rodi. nanti dikira kekerasan dalam rumah tangga… ^^

  2. ha kekerasan dalam rumah tangga? bukan kali, yang benar KDLR alias kekerasan dalam Logement Riza🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s