PURSUED BY HAPPINESS

20 Juni 2010, menggores pena pada sebuah catatan harian. Sebuah cerita dari sebuah pengalaman pribadi. Sebuah pengalaman pribadi dari sebuah kejadian sehari-hari.

Apa yang akan saya ceritakan berikut lebih bersifat ‘berbagi’. Bolehlah dikatakan curhat, seperti ungkapan anak muda zaman sekarang atau juga tidak. Setidaknya, saya memberanikan diri untuk menuliskan paragraf demi paragraf, yang mungkin sifatnya sangat subyektif.

Hari ini, adalah H+2 setelah saya melewati soutenance atau lebih dikenal sebagai ‘ujian tesis’ di Indonesia. Dengan kata lain, saya telah berhasil mendapatkan gelar ‘Master of Science’ di bidang yang saya tekuni selama dua tahun terakhir. Saya ingin menggambarkan perasaan saya yang tidak karuan, lebih tepatnya saya tidak tahu perasaan saya sendiri. Apakah harus senang? Apakah harus sedih? Lalu, saya lebih memilih untuk ‘tidak berperasaan’. Kenapa demikian?

— bersyukur —

Semua terjadi ketika saya memulai langkah saya di Negeri Napoleon ini. Semua begitu sulit, begitulah rangkuman cerita saya selama satu tahun pertama saya. Ya, betapa tidak. Bahasa yang menyulitkan lidah. Budaya yang bertolak belakang dengan negara asal saya. Tuntutan kemandirian dan kecepatan pemahaman yang kadang sulit dikuasai. Individualisme kehidupan. Semua itu membuat saya justru bersyukur dan menyadari bahwa ‘melewati’ semua itu sudah merupakan berkah. Dan, memang saya berhasil melewati semua itu.

Saya masih ingat soutenance Master tahun pertama saya (red. di Perancis, dua tahun master diwajibkan melewati dua kali ujian tesis). Saya berhasil melewatinya saja dengan ‘pas-pas an’. Tetapi saya bahagia. Setelah semua beban tidak hanya akademis, saya berhasil lulus. Syarat sederhana memang, untuk mampu melanjutkan ke Master tahun kedua. Bagi sebagian orang memang ini mudah, tetapi bagi saya, secara subyektif, sulit.

Lalu, apa yang terjadi pada tahun kedua ? Saya kembali ke tanah Sarkozy dengan mental yang lebih baik. Memahami trik-trik yang harus saya lakukan agar bertahan hidup di Universitas. Semenjak saya berhasil di sebuah mata kuliah dengan sebuah nilai yang ‘wah’ itulah, saya berubah. Saya mendapatkan rasa percaya diri yang luar biasa. Betapa tidak, mengalahkan rekan-rekan satu kelas, yang sebelumnya belum pernah mengakui kemampuan akademis saya. Bangga. Senang. Tidak hanya untuk pribadi, tetapi bangsa. Nasionalisme saya terangkat. Boleh saja, saya dikatakan hipokrit, tetapi ini perasaan nyata yang saya alami.

Tetapi saya hanyalah manusia biasa. Seiring dengan keberhasilan pertama tersebut, saya berulang kali mengulangnya. Boleh dikatakan kali ini dengan mudah, tidak seperti tahun pertama saya. Saya tidak sadar bahwa keberhasilan ini seperti koin bermata dua. Saya melupakan sisi lain yang mampu menghancurkan diri saya. Takabur. Perfeksionis. Tidak mudah puas.

Dua sifat pertama saya sadari segera. Untungnya, saya berhasil mengatasi keduanya. Tetapi tidak yang terakhir. Kenapa demikian? Saya menyadari hal tersebut setelah melewati soutenance H-2 kemarin. Berbekal persiapan lebih matang, saya merasa ‘hampa’ ketika juri menyatakan saya lulus. Tidak sempurna memang. Dan saya tidak mengeluarkan sedikitpun perasaan gembira. Biasa saja, seperti pucatnya mayat.

Saya tidak puas dengan diri sendiri. Saya tidak puas dengan hasil. Saya kalah. Dan, saya berhenti sejenak memahami kalimat terakhir. Saya mempertanyakan pada diri sendiri, sejak kapan saya memulai ‘perang’ ini kepada diri sendiri? Sejak kapan saya mulai tidak bersyukur? Kenapa demikian? Segala kesuksesan itu, membuat saya lupa?

Membutuhkan dua hari untuk saya menyadari kesalahan saya. Bahwa sejak awal saya berperang dengan diri sendiri. Saya hampir saja dikalahkan arogansi, dikalahkan rasa tidak puas. Seorang kawan baik saya pernah berujar, rasa tidak puas bersifat positif untuk kemajuan. Seperti bangsa Eropa yang selalu penasaran? Mencoba mengupas hal-hal baru? Itu sebabnya mereka maju. Tetapi seperti layaknya pisau bermata dua, itu membunuh sang pribadi, perlahan-lahan. Manakala, sang pribadi tidak sanggup menahan lajunya.

DIA selalu memberikan petunjuk dalam berbagai hal. Sebuah kalimat sederhana dari situs antah berantah. Sangat mulia. Mengatakan ‘seseorang yang mulia, adalah mereka yang berhasil menggunakan otak untuk memerintahkan kecerdasan dan hati nurani’. Terkadang, kita harus merasa cukup untuk mengerti mana yang tidak cukup. Terkadang, kita harus merasa buruk, untuk mengerti mana yang baik. Dan, terkadang, kita harus jatuh untuk merasakan nikmatnya bangkit.

Dan, setelah melewati sebuah ‘pertempuran’ dihadapan 17 juri, saya masih saja lupa untuk bersyukur. Dengan ini, saya buang rasa tidak puas saya, dan berujar syukur. Berterima kasih pada hati nurani saya yang masih bekerja dengan baik.

Riza-Arief Putranto, 20 Juni 2010. Didedikasikan untuk rekan-rekan yang sedang berjuang untuk mémoire mereka. Ilmu pengetahuan itu selalu haus, seperti jerigen bocor yang diisi air.

9 thoughts on “PURSUED BY HAPPINESS

  1. Selamat ya om.. akhirnya terlewati juga soutenance-nya..setelah beberapa hari uring2an ga jelas🙂.. baru sadar om, kalau om itu orangnya tidak cepat puas dan perfeksionis hehe. Padahal dah dari dulu aku tahu hehe..syukur deh, om dah bisa belajar dari yang kemarin, semoga bisa lebih dewasa lagi dan akhirnya aku dapat undangan deh hehe (tahu kan maksudnya undangan itu hehe)

    • makasih trias. haha, nanti kuundang dinner deh hehe. ya, jangan mengulang kesalahanku tapi nanti pasti ngerti kok rasanya yang kuceritakan ^^

  2. Lha ko diundang dinner tho om, takut ah ntar si tante marah kalau dinner ma om🙂 kecuali dinnernya bareng si tante hehe.. (padahal undangan yg dimaksud bukan undangan ini, piye tho om.. itu lho undangan yg satu lagi hehe).. Iya om, ngerti ko udah biasa jadi tempat cerita teman-teman.. Sukses ya om..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s