PESAN KLISE SEORANG KUTU BUKU

2 Juli 2010. 02h44.

Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa dunia dapat dijelajahi melalui imajinasi, tanpa harus mengunjungi lokasi terpencil atau insolit secara langsung. Sejak kecil, saya belum pernah mempercayai kebenaran pepatah tersebut, hingga saya terpojok dalam sebuah kondisi yang membuat saya tidak mampu menahan diri. Menahan dari apakah?

Dari menyentuh, membuka, dan mengkonsumsi secara visual buku-buku. Ya, tulisan saya ini mungkin klise, tetapi saya kini mengakui kebenaran pepatah yang saya ragukan selama puluhan tahun.

Kenapa demikian? Sejak saya berusia 8 tahun, jika saya ditanyakan tentang hobi saya oleh guru SD, saya selalu menjawab “membaca” adalah hobi tersebut. Pertama, saya selalu menduga bahwa membaca itu identik dengan sastrawan atau kaum intelektual, dan mereka adalah orang-orang keren. Dan, yang keren-keren itu disukai oleh gadis-gadis.

Saya meneruskan “kekerenan” saya tersebut hingga saya menyelesaikan bangku SMU pada usia 18 tahun. Walau pada masa SMP dan SMU, usaha agar dianggap keren oleh gadis-gadis tampaknya tidak menuai sukses besar. Malahan, beberapa kejadian memalukan masih melekat di ingatan saya. Seperti ketika saya berpura-pura menaruh sebuah buku di laci seorang  gadis supaya dia mengembalikan buku tersebut dan berkenalan, yang berujung kepada dibuangnya buku tersebut ke tempat sampah. Saya akhirnya diwajibkan membayar sejumlah uang yang merenggut seluruh uang saku saya yang tidak seberapa itu. Malangnya nasib saya.

Kemudian, ketika saya duduk dibangku kuliah. Saya memang benar-benar rajin membaca. Sayangnya, semua itu hanyalah yang berkaitan dengan kuliah saya. Alias, saya menghabiskan teks-teks ilmiah, serta bahan-bahan ajar yang bagi sebagian kawan-kawan saya sangat memuakkan.

Saya memang sudah memulai mengoleksi beberapa buku, tetapi masih berujud novel. Tidak ada yang salah dengan novel, tetapi terkadang saya tidak begitu antusias untuk menyelesaikannya. Beberapa merupakan kisah nyata, beberapa merupakan imajinasi penulis yang membuat decak kagum. Menurut saya, saya masih belum pintar memilih novel saat itu.

Sejak saya bekerja, sebagai seseorang yang membaca adalah keharusan, saya mulai tenggelam dalam tulisan, imajinasi, pemikiran, dan makna dibalik sebuah cerita novel, biografi, jurnal penelitian, bahkan kolom opini pojok sebuah surat kabar. Kurang lebih, hampir segala macam yang berbentuk tulisan akan saya konsumsi.

Parahnya, saya benar-benar tenggelam di dalamnya, yang kemudian “menghadiahi” saya dengan insomnia. Tetapi, saya bahagia. Entah sejak kapan terakhir saya merasa begitu antusias dengan buku-buku. Entah sejak kapan, saya benar-benar dibawa “menjelajah” dalam tulisan tersurat ataupun tersirat. Saya mengenal dunia berkat buku, tanpa harus menjelajahinya melewati waktu dan ruang.

Sejak SMP, saya tidak pernah begitu senang tentang sejarah perang. Kali ini, bahkan saya berburu bacaan mengenai sejarah semua perang di dunia, lengkap dengan detilnya. Atau bahkan, darimana asal ide Dracula yang pertama dicetuskan Bram Stroker dalam novelnya “Dracula’s Guest” yang diterbitkan pada tahun 1914. Darimana legenda tersebut muncul, dan bahasan menegenai kebenaran cerita tersebut. Hingga, menjelajah kepada cerita-cerita rakyat dalam versi berbagai negara di dunia. Contoh, Pangeran Katak dan Tuan Putri, ternyata ditampilkan berbeda dalam puluhan negara.

Melihat banyaknya koleksi buku saya di Perancis, seorang kawan pernah mempertanyakan bagaimana saya akan membawa semua itu ke Indonesia nanti. Saya tidak tahu. Benar, saya mungkin harus menghabiskan banyak uang. Atau tidak sama sekali. Beberapa buku tersebut telah memberikan “oksigen” untuk saya. Secara tidak langsung, saya sudah membawanya di otak saya.

Malam ini, tepat 6 tahun sudah saya insomnia berkat buku. Saya tidak tahu bagaimana merayakannya, kecuali dengan bercurhat terhadap kanvas iPad saya. Saya sadar, buku ternyata mampu membangun karakter seseorang, menjadi lebih intuisif dan eksploratif. Seperti pepatah pada awal tulisan ini mengatakan, dunia terdapat di dalam buku.

Even if you can’t eat a book, but it contains more nutrition than a food can do to a brain” — Abe Lincoln 1848.

Riza-Arief Putranto.

7 thoughts on “PESAN KLISE SEORANG KUTU BUKU

  1. wah nasibnya ko sama si om, gara2 buku jadi ga bisa tidur plus jadi pengkoleksi buku paling banyak hehe.. Bayangkan saja 5 tahun di bogor sudah mampu menggumpulkan buku sebanyak 10 lebih koper sedang. Sampai2 nyokap marah2 koleksi bukuku lebih banyak daripada baju🙂 Dan sempat membuatku kebinggunggan bagaimana membawa buku2 itu ke Jogja..Mana minggu ini ada pesta buku pula, alamak bisa2 uang buat beli laptop kesedot di buku nih hehe..

    • haha, kalo trias sih emang maruk tuuh, hahaha. sampai banyak begitu, selektif duuunkk. hehe, tapi kudukung sih kalo urusan koleksi buku. good good. lanjutkan !🙂

  2. waduh ini mah dah selektif om.. ga bisa ditahan kalau dah lihat buku, apalagi pakai embel2 diskon gitu trus belinya di pesta buku..bisa kalap🙂 ..om aku ga butuh dukungan ni, yang paling penting adalah donatur.. gimana kalau om jadi donaturku aja buat beli buku di pesta buku kali ini🙂

  3. wow insomnia 6 tahun?? awas, jaga kesehatan juga donk walo jatuh cinta ma buku😀 btw, aku bukanlah kutu buku sejati, karena tidak semua buku kulahap dan tidak sampai insomnia, hehe…

    • Yan, sayangnya diriku ga suka baca ebook untuk buku2 tertentu hehe.. Soalnya kalau kebanyakan baca ebook mataku bisa nambah minusnya hehe.. Kalau om Riza mah bukan karena buku dia insomnia, dia insomnia gara2 kebanyakan belajar Yan hehe..

  4. hmmmm.. JIka Descartes bilang kalo ‘je pense donc je suis’ , maka mas Riza haruslah :’ Je lis donc je suis ‘🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s