KALEIDOSKOP 12 JULI 2010

Dalam kesempatan ini, saya ingin menceritakan mengenai sebuah rangkuman kejadian. Menyedihkan sekali kalimat pertama saya, jika dibumbui dengan tambahan “jreng jreng…” atau “eng ing eeng…”, rasanya kok benar-benar membuka wacana.

Ah sudahlah, apapun bentuk pendahuluannya, cerita tetaplah cerita. Hari ini adalah hari terakhir saya menikmati kota Montpellier sebelum berpindah menuju Paris besok, hehe, lebay lebay. Dan, saya menjadwalkan diri untuk melakukan beberapa aktivitas hari ini. Ternyata, saya mendapatkan berbagai pengalaman aneh dan berpotensi membuat saya ditertawakan.

Potong rambut itu mahal di Perancis

Saya memandangi wajah saya dengan rambut gondrongnya. Oh betapa saya sangat menyayangi rambut panjang saya. Yah, walaupun tidak terlalu mirip dengan Tom Cruise, saya menjadi sedikit banyak pede. Intinya, hmm, saya selalu berpanjang rambut untuk menutupi dahi lebar yang dianugerahkan kepada saya.

“Foto yang tidak ada hubungannya dengan artikel” —

Tetapi, atas rekonsiliasi dan reklamasi banyak pihak, saya dengan terpaksa harus merencanakan pergi ke salon potong rambut lebih awal dari jadwal bulan depan. Bagi yang belum tahu, memotong rambut di Perancis adalah aktivitas yang tergolong mahal, bila dibandingkan dengan negara kita tentu saja. Itu sebabnya mungkin sering melihat banyak kawan-kawan pelajar disini yang membiarkan rambut mereka berimajinasi dalam tumbuh dan berkembang, alias dibiarkan saja panjang. Sekali pergi ke salon berpotensi mengucurkan dana antara 10-23 euros. Jika seseorang memilih salon bermerek maka tentu saja harus merogoh kocek lebih dalam.

Saya sendiri sejak hari Jumat sudah memastikan janjian dengan sang Pencukur Rambut. Ya, di Perancis hampir semua pekerjaan profesional, seperti Tukang Cukur Rambut, dapat menentukan kapan mereka bekerja kapan mereka berlibur seperti kayaknya pegawai kantoran. Sehingga terkadang penting untuk mengatur janjian tersebut via telpon.

Singkat kata, hari ini saya menepati janji untuk potong rambut. Sebuah salon kecil bernama Jajah Coiffure yang terletak tidak jauh dari Gare St. Roch. Si Mas Tukang Cukur (selanjutnya akan disebut MTC) dengan cepat memotong rambut saya. Tentu saja, MTC berusaha untuk menjalin dialog antara klien dan tukang potong rambut. Berikut adalah cuplikan dialog tersebut.

MTC : Saya tidak pernah melihat anda. Anda dari mana?

Riza : Saya berasal dari Indonesia.

MTC : Oh Indonesia. Uhm, dimanakah itu? Saya tidak pernah mendengar. Baru pertama kali ini saya mendengar negara bernama Indonesia.

Riza : Oh, itu dekat dengan Malaysia. Kira-kira terletak disebelah selatan.

MTC : Oooh, lalu dimanakah Malaysia itu?

Riza : (jreng jreng musik aneh bermain di telinga saya) Anu, itu disebelah Thailand.

MTC : Wow Thailand. Anu, dimanakah itu ya?

Riza : Disebelahnya Laos.

MTC : Waah kalau Laos saya tahu. Itu negara di dekat Madagaskar bukan? Namanya mengingatkan saya akan bumbu dapur yang dijual di toko Cina.

Riza : (prang.. suara piring pecah di kepala saya) Tentu saja bukan. Laos itu terletak di dekat Vietnam.

MTC : Ah ok, kalo Vietnam saya tahu. Mereka suka membuka restoran bukan disini. Tapi, hmm, saya belum pernah melihat diamant letak Vietnam di peta.

Riza : (aie aie aie) Ya mungkin mas lihat saja dulu dimana Vietnam baru bisa mengenali Indonesia.

MTC : Ok deh, nanti saya beli dahulu peta dunia.

Riza : (luweh mas sakkarepmu)

Rambut selesai dipotong, dan hey, not bad, kata saya. Lebih bagus dibandingkan dengan banyak salon yang pernah saya coba terakhir kali. Tetapi malangnya, topi saya menjadi kedodoran karena rambut saya sudah terpangkas. Tampak seperti bola dikenakan topi di cermin. Ya sudahlah, mungkin masih akan pantas dengan kacamata hitam. Setelah berujar “sampai jumpa” saya beranjak meninggalkan salon “Jajah” tersebut.

Kejadian pengundang malu di kantor pos

Kemarin adalah hari ulang tahun kawan baik saya di Indonesia. Saya merasa bersalah karena lupa, sehingga saya putuskan untuk mengirimkan dia sebuah kado. Saya berangkat menuju kantor pos dengan semangat. Sesampainya disana, dengan percaya diri saya langsung menuju kasir untuk mengeposkan bungkusan tersebut. Malangnya, ketika saya diminta menuliskan alamat kawan saya tersebut, saya baru teringat bahwa saya tidak membawanya. Alamat tersebut tertinggal di meja belajar saya.

Putar-putar otak, saya memiliki ide untuk menanyakan saja langsung kepada si dia. Berbekal iPad saya, dengan mudah saya berkoneksi ria, lalu memanggil kawan saya via Yahoo Messenger. Untungnya dia sedang online. Saya terburu menanyakan alamat dia dan segera menuju kantor pos. Saya lupa jika saya belum menyalin alamat tersebut ke sebuah kertas. Koneksi Internet saya putus, dan pof!, alamat tersebut hilang. Lagi-lagi saya mendapatkan kondisi tersebut ketika berada didepan kasir. Arrgh! Malunya diri saya.

Tergopoh-gopoh kembali ke zona wifi di pusat kota, saya menanyakan kembali ke kawan saya yang tidak mampu menahan tawanya akibat ulah saya. Kali ini saya benar mencatatnya di telpon genggam saya, dan kembali berlari menuju kantor pos yang berjarak 400 m.

Sang Ibu Penjaga Kasir tersenyum simpul ketika mendapati saya terengah-engah. Kali ini, yes, saya berhasil mengirimkan kado tersebut. Ini sebuah kejadian aneh. Kado tersebut seharusnya menjadi sebuah kejutan baginya. Tetapi kenyataannya, sayalah yang terkejut.

Menyelamatkan Nadine

Kejadian ketiga. Berada di dalam tram yang sedikit sumpek. Saya berdiri di gerbong depan menghadap ke belakang. Seorang gadis cantik terlihat berdiri menghadap ke arah saya. Tetapi, kami tidak saling tegur sapa. Tidak berapa lama, beberapa pemuda mabuk mendekati Sang Gadis Cantik (selanjutnya akan disingkat SGC) serta mulai menggoda dia. SGC tampak enggan dan takut, tetapi dia berusaha untuk tenang.

Saya mencoba untuk cuek, karena saya pikir ini bukan urusan saya. Toh, mereka belum kurang ajar. Masih wajar. Namun, tak lama kemudian mendaratlah sebuah tangan di pantat seksi SGC. Kali ini dia tampak takut. SGC mencoba untuk menghindar namun tidak bisa karena dikerubuti banyak pria. Seorang pria berusaha menjamah daerah kewanitaan SGC.

Entah keberanian dari mana atau karena saya sudah pede dengan rambut baru saya, saya maju menuju SGC. Saya memotong ditengah antara pria yang akan meraba tersebut dan SGC, seraya berujar “Sayang, kamu baik-baik saja? Aku mencarimu lho dari tadi.” SGC terkejut, tetapi gerombolan pemabuk tersebut lebih terkejut lagi.

Seorang yang paling besar badannya, mendekatkan mulut berbau alkohol kepada saya dan berujar “Hei kamu pacar dia?”. “Ya”, tentu saja saya menjawab itu. Saya menambahkan, “Jika anda berperilaku tidak sopan terhadap pacar saya, maka anda akan berurusan dengan saya dan polisi”. Mereka tampak gentar dan mundur teratur. Untung saja, jika tidak, saya pasti sudah menjadi pempek.

Beberapa arrêt tram kemudian, SGC turun, kebetulan kami turun di tempat yang sama. SGC memperkenalkan diri, Nadine, dan mengucapkan terima kasih sudah membantunya. Dan, ternyata perkenalan tersebut membawa saya kepada seorang kawan Indonesia yang kebetulan adalah calon kawan satu kelas di Universitas tahun ini. Setelah memberikan saya bisous, Nadine berpamit dan undur diri.

Sesampainya saya di kamar saya, saya masih tidak habis pikir. Sungguh sebuah pengalaman unik, karena mampu membuat saya menulis beberapa halaman. Musim panas yang unik untuk saya di Montpellier.

Riza-Arief Putranto. Siap-siap ke Paris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s