HIPOTERMIA OTAK

Tentu para pembaca sekalian mengenal istilah yang disebut “hipotermia”. Bagi para pendaki gunung istilah tersebut tidaklah asing. Hipotermia adalah proses tubuh kehilangan panas, yang membuat penderita menggigil akut. Jika tidak segera ditolong maka penderita akan kehilangan nyawa. Sebagaimana mesin, tubuh ternyata menyimpan panas, untuk meluweskan pergerakan dan aktivitas. Aktivitas yang dimaksudkan disini adalah kegiatan non mekanik seperti berfikir.

… saya sebenarnya sedang mengidap “hipotermia otak”….

Lalu, saya meminjam istilah hipotermia tersebut dan menaruhnya bersama kata “otak”. Apa yang terjadi? Sebuah pemahaman baru. Adakah hipotermia otak? Memang benar, sistem kerja saraf neuron kita sangat tergantung pada penahanan panas di bawah selubung Schwann (silahkan surfing di google atau buka Wikipedia). Sel Scwhann terdiri dari selubung myelin, dengan mudah difahami sebagai selubung lemak, yang menahan loncatan saltatoris (buka Wikipedia lagi yah…) dari impuls listrik. Impuls tersebut mengandung informasi penting seputar aktivitas tubuh atau respon terhadap stimulan (maafkan atas bahasa biologis saya yang mendarah daging, it’s in my blood…). Singkatnya, jika penahan impuls tersebut tidak ada, maka boleh dikatakan “kram otak” yang terjadi. Yah, saya plesetkan sedikit menjadi “hipotermia otak”.

Beku…

Inti dari penjelasan diatas adalah hanya untuk mengungkapkan bahwa saya sebenarnya sedang mengidap “hipotermia otak” (kyaaaaaa.. menakutkan..). Tidak, saya becanda. Sudah sekian lama, saya meninggalkan dunia tulis menulis. Sudah sekian minggu saya tidak lagi memunculkan ide atau berfikir. Padahal di otak saya, terkumpul sekian banyak ide. Hanya saja saya tidak tahu bagaimana mengeluarkan mereka.

Untungnya masalah tersebut tidak hinggap hingga ke pekerjaan saya di kantor. Masih aman. Hanya saja, saya sedang membutuhkan bantuan. Pada kasus hipotermia biasanya penderita harus segera dikembalikan kehangatan tubuhnya dengan membungkus tubuh menggunakan pakaian tebal, didekatkan pada sumber panas atau diberikan pertolongan pertama. Tetapi jika otak? Apakah otak saya harus dibungkus kain tebal? Atau didekatkan dengan sumber panas? Yang terjadi menurut saya adalah sebaliknya. Otak saya meleleh, seperti es krim cone.

Saya benar-benar bingung. Bahkan hingga paragraf kelima ini. Saya belum benar-benar menyampaikan informasi kepada para pembaca sekalian. Orang bilang, “practice makes perfect”, tetapi saya selalu berujar “practice makes prefect when we’re not tired or more confused”. Sekian, hipotermia otak dari saya. Semoga tidak menambah kekusutan pikiran kawan-kawan semua.

Riza-Arief Putranto, 18 September 2010.

3 thoughts on “HIPOTERMIA OTAK

  1. Pingback: MENGENAL SI BETE | Jiwitlah daku kau kutabok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s