INTEL ATAU TANTE ?

Setelah dua minggu insomnia menjauh dari kehidupan saya, penyakit yang turut “membantu” saya sukses ini, hahaha, semua berkat aktivitas membaca saya di malam hari, kembali menghampiri. Saya sedang duduk-duduk saja di dalam kamar, menikmati teh hangat, dini hari, ketika seorang teman kos menghampiri saya.

Teman saya yang gantengnya tidak ketulungan tersebut nampak sedang galau. Galau itu resah. Resah itu cemas. Dan cemas itu pokoknya tidak menyenangkan untuk dipandang, hehe. Saya berusaha mereka-reka permasalahan dia, yang ternyata tidak jauh dari seputar percintaan masa kuliah. Saya sendiri bukan jagoan untuk urusan seperti itu dan hanya berfikir bahwa masa saya sudah lewat untuk urusan “anak muda” seperti itu.

Sebagai seorang “sesepuh” di tempat indekos tersebut, ciee, saya tidak enak membiarkan kemurungan teman saya tersebut berlangsung lebih lama. Satu-satunya jalan pengobatan adalah dengan memperkenyang perut. Saya meletakkan blackberry saya yang sedari tadi saya gunakan untuk browsing berita (sebagian besar tentang SBY yang tidak jadi berangkat ke Belanda, waaah, sayang sekali ya, padahal perjalanan gratis oleh negara tuh, hehe). Saya kemudian mengajak teman tersebut menuju sebuah warung indomie.

Ketika saya mahasiswa dahulu, warung indomie adalah tempat untuk mengganjal perut bahkan bisa membuang penat lho. Tidak salah, beberapa warung indomie tersohor di sekitar kampus IPB Baranangsiang malahan memberikan ide menyingkat-nyingkat nama menu sehingga terlihat unik dan lucu. Itu sebabnya menjadi menarik.

Silahkan saja diamati jika seseorang memesan di warung tersebut, seperti saya contohkan berikut ini :

“A’a, saya teh pesan tante goreng satu yah…” (nah loh, sejak kapan tante-tante digoreng terus disajikan). Atau, “A’a boleh dunk pesan intel satu direbus yah..” (wuih kali ini anggota intel mau direbus…).

Hey, tapi jangan berfikiran menyimpang terlebih dahulu. Hanya dengan uang sebesar 5 ribu rupiah, kita bisa memesan intel (coba bayangkan, sebuah prosesor komputer seharga tersebut) atau bahkan memilih tante (ssst, yang ini jangan ditanya oke punya). Apa coba ? Yang dimaksud intel disini adalah indomie telor dan tante adalah tanpa telor. Fiuuh, saya lega, tidak harus berhadapan dengan komite pornografi atau pelanggaran hak asasi manusia.

Terlebih, warung tersebut buka 24 jam. Yah, bisa dikatakan demikian. Jika si A’a terlihat tidur, tinggal dibangunin saja, hehe. Kejam ya? Tidak juga rasanya. Yang namanya rezeki mah, bagi si A’a tidak mengenal waktu. Boleh jujur, ketika saya berada di Montpellier, jenis warung seperti ini sangat saya rindukan. Jadi, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Saya membantu teman saya, sekaligus melepaskan kerinduan saya akan sebuah warung sederhana.

Riza-Arief Putranto. Makan sudah, tidur yuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s