LAGI, CERITA TENTANG HIDUP MAHASISWA

Kembalinya saya ke lingkungan mahasiswa, alias indekos mahasiswa, ternyata memang membawa kembali beberapa strip cerita yang mengingatkan akan kejayaan anak-anak mahasiswa (intinya, saya sedang bernostalgia, hehe, ssst saya menginjak bangku kuliah kira-kira 10 tahun yang lalu).

Seorang kawan saya di Perancis pernah berujar, “masa-masa menjadi pelajar adalah masa paling menyenangkan..”. Setidaknya yang dia ungkapkan itu benar lho. Hingga hari ini, mahasiswa masih dilekati kata “prihatin”, “tekor”, “kantong kering”, dan lain sebagainya.

Saya kira tidaklah sama dengan masa lalu, setidaknya kita hitung saja 10 tahun yang lalu. “Zaman sekarang mahasiswa kan pegangannya blackberry atau sudah pada punya laptop..” ujar seorang dosen kawan saya. Jadi memang sudah terjadi pergeseran apa yang disebut “mahasiswa kere”. Rasanya tidak ada yang kere lho.

….dari zaman dahulu hingga sekarang tidaklah berubah, yakni hal berpacaran…..

Akan tetapi tidaklah bijak jika kita selalu membandingkan masa sekarang dengan masa lalu. Saya sebenarnya hanya ingin menggiring pembaca kearah dimana ada satu hal yang identik juga dengan mahasiswa. Yang sepertinya dari zaman dahulu hingga sekarang tidaklah berubah, yakni hal berpacaran (jreeeng, langsung heboh…).

Cerita berawal ketika saya sedang makan malam dengan seorang kawan indekos. Kebetulan dia adalah mahasiswa, walau saya pikir mukanya cukup boros untuk dikatakan masih imut (alias item mutlak, hehe). Ketika kami sedang asyik menyantap hidangan malam di sebuah warung, kawan saya (panggil saja dik ABP) terperanjat.

Dalam keadaan sadar dan setengah kenyang, dik ABP melihat mantan kekasihnya melewati jalan di depan warung. Kenapa dik ABP terperanjat? Tentu saja karena sang mantan sedang berada di dalam mobil, bersama kekasih barunya. Tidak perlu waktu lama untuk membuat dik ABP beringas, haha. Maksudnya beringas disini adalah marah-marah tidak jelas. Yang saya tangkap dari bahasa planetnya waktu itu adalah kalimat ini “pacar dik ABP memutuskan hubungan dengannya dan lebih memilih pria lain yang memiliki mobil”.

Sedikit banyak berikut adalah cuplikan dialog yang terjadi dengan saya.

Dik ABP : *mengomel* dasar cewe mat***…. blep…blep….blep…

Riza : *bengong* …………………….

Dik ABP : *masih mengomel, kali ini pakai bahasa monyet* nguk ngakkk.. ngik…

Riza : *masih bengong* ……………………..

Dik ABP : *sibuk membolak balik nasi, masih mengomel*

Riza : *kelamaan bengong kram* ……………………..

Saya baru teringat bahwa masa-masa seperti itu sudah saya lewati. Itu sebabnya saya bengong saja ketika melihat dik ABP marah-marah. Nampaknya bagi mahasiswa melihat dunia yang lebih jauh itu masih sulit. Masalah percintaan terlihat sangat berat, padahal apa yang mereka atau saya alami ketika saya masih mahasiswa bukanlah serumit-rumitnya permasalahan hidup.

Yah, kalau masalah seorang kekasih yang memilih seseorang yang lebih “baik”, itu semua adalah pilihan. Seseorang berhak menentukan pilihan, tentu dengan cara yang benar. Saya pernah lho dinasehatin sama seorang kakak angkatan ketika saya kuliah dulu, bahwa “young people, go out and make mistakes”. Dan saya baru mengerti, 7 tahun kemudian bahwa “when you don’t make mistake, you don’t do anything..”.

Saya tidak tahu kenapa saya menulis ini, mungkin hanya ingin mengingatkan kawan-kawan generasi muda mahasiswa, bahwa “life is not just about having girl/boyfriend, it is only several percent of big matters in the future”.

Riza-Arief Putranto. Lagi baca hamlet !

 

 

 

 

2 thoughts on “LAGI, CERITA TENTANG HIDUP MAHASISWA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s