BUDAYA PENUH KEMAKLUMAN

Saya masih belum tidur. Belum tidur. Bagaimana bisa tidur, jika pada jam sekian, menunjukkan waktu dini hari, telinga saya masih digoyang kebisingan? Kebisingan tersebut berasal dari mana ya? Tentu saja dari rekanan satu kos saya.

Sebelumnya saya sudah menuliskan di status facebook saya mengenai sebuah perihal yang saya hingga sekarang belum mengerti. Kenapa segerombolan pelajar sangat menyukai keramaian? Tidak siang tidak malam, tanpa mengenal waktu mereka tidak mengindahkan yang namanya toleransi, memahami kebutuhan orang lain.

Saya pernah mengajukan pertanyaan kepada salah satu dari mereka, kenapa menyetel musik harus keras-keras? Karena speaker aktif diciptakan untuk mengeraskan suara, ujarnya. Bagi saya, itu adalah ungkapan terbodoh yang pernah dikeluarkan dari mulut seseorang yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Lalu, apa bedanya dia dengan, mohon maaf sebelumnya, kuli pasar? Bahkan kuli pasar bekerja lebih baik darinya.

Bukankah segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik? Musik memang nyaman, indah dan membawa hiburan tersendiri bagi pendengarnya. Tetapi jika suaranya terlalu kencang, bukankah melodi indah tersebut tidak lagi menina-bobokan telinga kita? Bahkan obat antibiotik saja dikonsumsi sesuai keperluan. Tidak diperlukan dosis berkelanjutan untuk membunuh bakteri di dalam tubuh, hanya dosis yang dibutuhkan.

Seorang tua pernah berujar pada saya, bahwa menjadi pelajar itu harus memiliki sikap yang berbeda dengan mereka yang tidak berada di bangku sekolah. Bukan berarti kita harus sombong, tetapi memiliki kepribadian yang bersahaja, yang terdidik dan menghargai orang lain.

Pernah seorang kawan di kantor saya menanyakan kenapa mata saya selalu sembab jika pagi hari ? Saya selalu mengedepankan alasan kurang tidur. Dia memang tidak mengerti. Bagaimana bisa ? Tentu saja bisa, jika hak saya tidur dengan nyenyak direbut oleh ketidakpengertian para calon punggawa masa depan negara ini. Jika kaum terdidiknya tidak bisa mengerti kapan dan bagaimana harus bersikap yang baik, lalu bagaimana jika mereka diberikan tanggung jawab ?

Entahlah, mungkin saya sedang meracau karena tidak bisa tidur. Juga karena saya baru saja memarahi mereka semua. Sebenarnya saya tidak ingin mengumbar emosi dalam hal ini. Akan tetapi saya harus marah, marah untuk mereka. Marah untuk kebaikan mereka. Tugas utama seorang pelajar adalah belajar. Belajar tidak hanya keilmuan masing-masing, tetapi juga belajar hidup dalam lingkungan, seperti di dalam indekos.

…pelajar itu harus memiliki sikap yang berbeda dengan mereka yang tidak berada di bangku sekolah…

Jika saya diminta untuk maklum. Sebuah kalimat “maklumlah, mereka kan pelajar, masih mencari jatidiri” tidak akan membuat saya berhenti menasehati mereka. Saya selalu berujar, lihat KTP atau SIM masing-masing, itulah jati diri kalian. Nama dan alamat, bahkan golongan darah kalian tertera disitu. Jika kalian mencari jati diri berupa kepribadian dengan mengundang masalah (red. membuat orang lain tidak  nyaman atau marah), maka satu-satunya jadi diri yang akan diperoleh adalah tukang onar di masa yang akan datang.

Jadilah pribadi yang menghargai orang lain, jika ingin mereka menghargai kita. Itu saja dan selamat malam !

Riza-Arief Putranto. Esmosi !

2 thoughts on “BUDAYA PENUH KEMAKLUMAN

  1. “Saya pernah mengajukan pertanyaan kepada salah satu dari mereka, kenapa menyetel musik harus keras-keras? Karena speaker aktif diciptakan untuk mengeraskan suara, ujarnya. Bagi saya, itu adalah ungkapan terbodoh yang pernah dikeluarkan dari mulut seseorang yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Lalu, apa bedanya dia dengan, mohon maaf sebelumnya, kuli pasar? Bahkan kuli pasar bekerja lebih baik darinya.” >> apa hubungannya menyetel lagu keras2 dengan bekerja lebih baik? maaf saya ga ngerti

  2. maksud saya disini adalah : posisi sebagai mahasiswa yang lebih berpendidikan dibanding kuli, sebaiknya ketika memberikan pendapat lebih baik. tidak asal berbicara. sedangkan, kuli yang tidak beranalisis baik seperti mahasiswa saja, bersikap lebih baik dengan bekerja. begitu maksudnya.. semoga tidak memusingkan, silahkan berkritik lagi ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s