KETIKA HATI SUDAH TIDAK LAGI MAMPU MENAMPUNG RASA SAKIT

Cerita Profiler Part 2.

Halo para pembaca yang budiman. Pada cerita tahap kedua ini, saya ingin mengangkat tokoh yang sudah tidak asing lagi. Beliau pernah muncul dalam artikel saya yang berjudul “LAGI, CERITA TENTANG HIDUP MAHASISWA”, terpublikasi pada tanggal 18 Oktober 2010. Tak lain dan tak bukan adalah seorang adik mahasiswa bernama ABP (red. Anak Bau Prengus).

Resume singkat dari cerita yang lalu, adalah mengenai patah hati-nya dik ABP. Kekasih yang meninggalkan dirinya pergi dan memilih pria lain yang lebih kaya. Selang beberapa jam setelah kejadian di warung Gae itu, saya sempat menasehati dik ABP. Apakah itu ? Bahwasanya, 3 parameter yang melekat pada diri pria itu dijual terpisah. Ketiga parameter tersebut adalah cakep, kaya, dan pintar. Kekasih adik kandung saya mencermati hal ini dengan baik lho. Jadi paling maksimal, seorang pria hanya akan dilekati dua dari tiga parameter tersebut. Kategori seperti ini sudah dipertimbangkan sebagai sangat beruntung, misal : cakep dan pintar. Sehingga tidak perlu sebenarnya untuk memaksakan diri mendapatkan ketiganya. Karena, ujar kekasih adik kandung saya itu, sebenarnya wanita akan memilih kok. Dan mereka yang sudah yakin dengan pasangannya tentu tidak akan semudah itu berpaling.

Sayangnya nasehat tersebut tidak mempan ketika saya berikan kepada dik ABP. Menyimpan duka yang sangat mendalam, ternyata hati dik ABP tidak sanggup lagi menahan. Kesedihan yang menusuk sumsum tulang, meninggalkan sayatan tajam duri-duri asmara, sebuah memori elegi yang indah dari mantan kekasih, hingga untai-untai kata yang masih terekam lewat sms-sms romantic (disingkat SSR).  Ketika hati sudah tidak lagi menampung rasa sakit, beban tersebut nampaknya berpindah ke organ lain, yaitu paru-paru. Benarkah demikian?

Usut-usut berkisah, dik ABP menderita sakit beberapa hari kemudian. Tepat setelah ujian fisika pada pagi harinya. Pada awalnya saya berfikir, bahwa ujian fisika tersebut yang membuat dik ABP sakit. Tetapi ketika saya mencoba mengorek informasi, ternyata bukan ujian tersebut yang menjadi penyebab. Adalah rasa sakit  hati yang teramat sangat dalam. Sakitnya dik ABP sempat membuat heboh suasana indekos. Kawan-kawan bergantian menjenguk dan memberikan perhatian. Saya sendiri sempat cemas lho karena melihat telinga dik ABP yang membiru. Dan seperti layaknya orang Indonesia, ketika saya minta dik ABP segera ke dokter, dia tidak menginginkan itu terjadi. Entah, mungkin masih mempertimbangkan bahwa penyakitnya belum parah-parah amat.

Setelah dua hari menderita sakit selama akhir pekan, akhirnya pada hari senin pagi, dik ABP sudah tidak lagi mampu menahan derita. Memang, Thi Phat Kay benar, bahwa cinta itu deritanya tiada akhir. Zaman sekarang, masih ada anak manusia menahan rasa sakit di dalam paru-parunya selama dua hari. Saya salut, hehe. Berbekal telpon memelas, dik ABP ditolong oleh dua orang sohibnya, yaitu Saudara Hendika dan Si Pemakan Kabel (baca artikel PEMAKAN KABEL) alias Yudi. Dibopong seperti layaknya korban perang, dik ABP dibawa ke rumah sakit terdekat.

Singkat cerita, tidak cukup lama, dik ABP sudah kembali sehat. Wow, apakah yang terjadi? Saya mendengar cerita dari Saudara Hendika, mengenai dua hipotesis kenapa dik ABP cepat sembuh ketika berada di ruang UGD tersebut.

Hipotesis 1. Dik ABP yang telah menjalani uji rontgen, dan tidak menunjukkan keanehan apapun di paru-parunya, sembuh setelah menghirup oksigen yang diberikan dokter. Asumsi Saudara Hendika dan Si Pemakan Kabel waktu itu adalah bahwa dik ABP memiliki paru-paru kelas kampoeng alias ndeso yang tersumbat imbas putus cinta dari hati.

Hipotesis 2. Dik ABP dibaringkan berdekatan dengan seorang korban kecelakaan yang waktu itu menghembuskan nafas terakhir. Kemungkinan besar dik ABP ketakutan dan berkat adrenalin yang diproduksi dalam jumlah besar di setiap sel tubuhnya, dik ABP langsung bangkit, mengacungkan tangan seraya berteriak ke dokter “Dookk, saya ga jadi sakit.. sembuh, dok.. sembuh kok…”.

Oalah dik dik, ya kami hanya bisa bersyukur bahwa dik ABP tidak apa-apa, setelah akhir pekan menyeramkan itu. Lain kali mungkin, dik ABP harus banyak-banyak bersyukur bahwa kesehatan ternyata jauh lebih penting dari segalanya. Masalah patah hati, itu wajar, menimpa hampir semua orang yang pernah merasakan cinta. Tetapi jangan sampai rasa sakit itu berlari ke organ-organ lain, hehe.

*Cerita ini tidak dimaksudkan untuk mengintimidasi satu pihak, semoga banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik. Terima kasih untuk Saudara Hendika dan Yudi atas bantuan kepada dik ABP. Semoga dibalas oleh Allah SWT*

Riza-Arief Putranto. Melongo melihat hujan !

2 thoughts on “KETIKA HATI SUDAH TIDAK LAGI MAMPU MENAMPUNG RASA SAKIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s