PESAN DARI BARAK KAMI

Sudah semenjak letusan terbesar terakhir Gunung Merapi pada tanggal 5 November 2010, seluruh pengungsi di daerah Hargobinangun diungsikan menuju Stadiun Maguwoharjo. Menurut informasi yang saya terima, setidaknya sudah mencapai jumlah total 56 ribu orang untuk Kabupaten Sleman (mohon koreksi jika saya salah). Hingga saya menulis artikel ini, jumlah mereka masih bertambah. Sebagian dibagi menuju beberapa titik pengungsian seperti UGM, UPN Veteran, bahkan JEC (Jogja Expo Center) dekat kediaman saya.

Saya pernah menuliskan pada status facebook saya mengenai kekecewaan saya terhadap beberapa pemberitaan mengenai Merapi oleh beberapa media televisi maupun surat kabar di negeri ini. Bahkan yang paling “panas” adalah pemberitaan di sebuah acara infotaintment televisi swasta yang membuat mereka wajib memberikan disclaimer permintaan maaf setelah menerima ratusan ribu hujatan di berbagai media jejaring sosial. Presenter dari acara tersebut menyatakan istirahat sejenak dan memutuskan untuk introspeksi diri.

Kemudian ada pula, opini-opini “gatal” dari para pejabat terpilih rakyat di negeri kita tercinta ini. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah ungkapan salah seorang pejabat istana negara dalam blog-nya yang menyatakan bahwa kehidupan para pengungsi itu sudah “enak”. Bahwa mereka hanya duduk dan tidur, kemudian menunggu bunyi “klentheng-klentheng” saat dipanggil untuk makan.

Bukan maksud saya untuk memojokkan satu dua pihak dalam mengungkap hal-hal tersebut diatas. Tetapi maksud saya adalah ini :

Bagi mereka yang dengan mudah beropini, dapatkah mereka bayangkan rasanya menjadi pengungsi? Pernahkah mereka kehilangan harta benda bahkan sanak saudara dalam hitungan detik dan tak seorangpun mampu menjamin mereka akan mendapatkannya kembali?

Kenapa para pengungsi terlihat sangat sedih? Tak lain dan tak bukan karena mereka memikirkan bagaimana masa depan mereka akan dijalin setelah mereka kehilangan begitu banyak bahkan hingga semangat hidup mereka. Seorang psikolog yang berada di lapangan bahkan ikut menangis merasakan penderitaan mereka.

Courtesy : AP Photo/AK Hendratmo in http://www.boston.com/bigpicture/2010/11/mount_merapis_eruptions.html

Para pengungsi tingggal di sebuah tempat yang mempertemukan mereka dengan orang-orang yang tadinya tidak pernah mereka temui walau hidup bersebelahan desa. Di sebuah barak raksasa mereka berbagi MCK, makanan, selimut dan lain-lain. Mereka menahan sedih mereka dan mencoba untuk terus tegar. Mereka tidak pernah berharap hidup seperti ini tetapi mereka menerima.

Saya tahu, mereka yang berumbar kata dengan mudah, pastilah belum pernah berada dalam posisi para pengungsi. Mereka berada di “zona aman” dan tidak merasakan faktor kecemasan dalam hidup mereka. Tentu saja juga tidak bisa, saya menuntut mereka untuk datang dan menjadi pengungsi. Maukah mereka? Saya kira tidak.

Tetapi, lihatlah harimau yang sangat kita takuti saja menyayangi sesama mereka. Lalu kenapa tidak, kita sebagai manusia mampu memberikan sedikit rasa simpati dan empati untuk para pengungsi?  Tidak perlu sebuah tindakan heroik atau materistik jika memang tidak memungkinkan. Cukup dengan berdoa dan jangan memberikan sebuah opini yang mampu mengkandaskan semangat hidup seseorang.

Riza-Arief Putranto. 8 November 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s