KETIKA MENJADI KURUS DIPERTANYAKAN

Yup, judul diatas adalah sebuah pertanyaan yang sering diajukan semua orang kepada saya. Entah sejak kapan, saya rasa sudah lama sekali, setiap kali porsi tubuh saya yang seperti tiang bendera menjadi bahan pembicaraan. Marah? Oh tentu saja tidak, walau sesekali terkadang mengganggu, tetapi saya anggap itu adalah bagian dari perhatian mereka kepada saya. Insyaallah, saya mencoba untuk bersyukur. Tentu saja, saya sangat menyukai fisik saya apa adanya.

“Mengenai fisik, yang saya tahu, kita sebagai manusia tidak pernah puas. Kurang gemuk sedikit, pasti protes”

Sebagai contoh, saya masih ingat betapa panjang tubuh saya, membuat saya memanjat lebih mudah (memori masa SMU ketika sering berkegiatan wall climbing). Saya turut membantu Ibunda saya ketika lampu rumah perlu diganti lho. Setidaknya Ibunda tidak perlu membeli tangga untuk mengganti lampu, cukup meminta saya untuk meraih bohlam itu, hehe. Alhamdulillah, kedua adik saya (pria-pria itu) jauh lebih tinggi dari saya, sehingga tugas menggantikan bohlam sudah digantikan mereka.

Mengenai fisik, yang saya tahu, kita sebagai manusia tidak pernah puas. Kurang gemuk sedikit, pasti protes. Begitu pun sebaliknya, jika gemuk sedikit, ingin dikembalikan ke berat ideal. Ideal menurut siapa? Saya sendiri tidak begitu mengindahkan penilaian subyektif itu. Kaum wanita terutama, walau mereka berada di berat badan proporsional sekalipun (bagi kacamata kita), mereka akan selalu merasa gemuk.

Itulah mungkin kenapa muncul istilah narsisme, yang diusung oleh seseorang bernama Narkissos, yang dikutuk sehingga dia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Sesungguhnya, kita menyukai bayangan ideal yang digambarkan oleh diri kita sendiri. Menjadi langsing dan tinggi untuk kaum wanita, dan berdada enam pak untuk pria. Asal jangan sampai dikutuk saja, hehe.

Mungkin itu sebabnya Allah memberikan kepada manusia, inner beauty atau kecantikan di dalam diri, yang terkadang menafikan semua bentuk fisik. Manusia berhak memilih dan mengagumi baik sosok luar atau dalam seseorang, sehingga akhirnya keseimbangan pun terjadi. Kalimat saya yang rumit tersebut bisa diartikan sebagai “perbaikan jodoh”, bagi mereka yang saling mencinta, hehe.

Apapun bentuk fisik kita, itu adalah sebuah anugerah. Asal tidak dilupakan, boleh-boleh saja untuk berusaha memperbaikinya. Saya teringat ungkapan seorang teman bahwa “ketidaksempurnaan manusia itu yang membuat mereka unik”. Hidung kita yang bengkok dan tidak dimiliki orang lain? Tahi lalat dibawah mata? Tanda lahir dilengan kiri? That’s what makes who we are.

Riza-Arief Putranto. 22 November 2010.

4 thoughts on “KETIKA MENJADI KURUS DIPERTANYAKAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s