MENGENAL SI BETE

Si Bete, ya dia sangat terkenal. Sering digunakan banyak orang untuk mengungkapkan apa yang mereka sebut dalam bahasa Inggris ‘bad mood’. Terkadang sebagai manusia, kita sering berada dalam kondisi seperti ini. Sebal dengan beberapa kawan karena hal yang sepele? Atau bahkan tiba-tiba ‘feeling down’ tanpa mengetahui sebabnya?

Ketika hal tersebut terjadi, ini merupakan tanda bahwa secara emosional kita mengalami ‘sesuatu yang kurang pas’

Ketika usia beranjak remaja, si Bete, boleh saja saya sebut demikian, lebih sering menghiasi kehidupan mereka. Boleh dikatakan, pengaruh perkembangan hormonal pada remaja memberikan mereka ‘daya dorong lebih’ untuk meluapkan emosi dan perasaan. Kita sangat mengenal hormon-hormon alami manusia seperti estrogen dan progesteron pada wanita, sama halnya testosteron pada pria. Selain memberikan perubahan fisik pada kedua makhluk berbeda kelamin tersebut, ternyata hormon tersebut juga memberikan perubahan emosional.

‘Si Bete’

Kinerja antara estrogen dan progesteron pada wanita memberikan mereka siklus bulanan, yang katanya kadangkala terasa sakit (benarkah ?). Namun tak hanya itu saja bukan ? Bagi sebagian pria berpasangan, yang mungkin sudah mengenal siklus tersebut, pada masa pra-siklus ini, biasanya pertengkaran kecil akan terjadi manakala sang wanita sedang ‘naik turun’ kondisi emosionalnya.

Lalu pria ? Tidak jauh beda ternyata. Hormon testosteron yang sanggup memberikan kumis macho atau bahkan janggut seksi menyimpan potensi ‘kekerasan secara emosional’. Hanya saja, pada pria, perubahan ini terkadang tidak terlalu terlihat karena pada dasarnya  hormon tersebut diproduksi secara teratur oleh tubuh.

Bercengkerama dengan si Bete dapat pula menunjukkan gejala depresi, yang timbul karena perasaan bosan dan kesepian. Entah apakah saya akan setuju dengan pernyataan tersebut atau tidak. Tetapi yang saya fahami adalah, depresi, bukanlah sesuatu yang harus selalu dipandang negatif. Depresi ringan memang mempengaruhi mood, kemarahan atau bahkan ketidakpedulian. Ketika hal tersebut terjadi, ini merupakan tanda bahwa secara emosional kita mengalami ‘sesuatu yang kurang pas’, entah bagaimana saya menggambarkannya. Dan, secara emosional, sudah memberikan ‘tanda’ bahwa kita harus melakukan sesuatu. Bayangkan saja jika kita tidak pernah dikunjungi si Bete ?

Saya tidak pernah tahu metode tercepat untuk mengatasi cekaman si Bete, tetapi saya menyadari bahwa ‘mengalihkan perhatian’ atau lebih tepatnya ‘mengarahkan’ merupakan cara yang paling efektif untuk membantu.

Jujur, saya sedang dicekam si Bete beberapa saat sebelum ide muncul untuk membuat tulisan ini. Saya membuka beberapa buku dan situs di internet untuk mengarahkan bete saya kepada sesuatu yang mungkin berguna. Bersyukur, bahwa akhirnya saya memiliki keberanian untuk mengakhiri masa ‘hipotermia otak jilid ketiga’ saya (ingin mengetahui tentang hipotermia otak, silahkan browsing di https://rizaputranto.wordpress.com/2010/09/19/hipotermia-otak/).

Lambat laun, saya kehilangan si Bete, dan diakhir ketikan ini saya mengakhiri ‘pertemanan’ dengannya. Sebagai penutup, sebuah kata-kata mutiara yang menurut saya sungguh masuk akal : ‘bad moods can be easy to acquire but it’s also as easy to break, just need to know how..’.

Riza-Arief Putranto. 7 Desember 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s