APA SIH YANG BERBEDA

Pertanyaan diatas sering saya dengar akhir-akhir ini dan memang ditujukan kepada saya. Kenapa demikian? Sederhana saja, saya menikah. Ya, sebuah perubahan status yang memang selalu mengundang banyak pertanyaan-pertanyaan berikut berjajar seperti deret hitung. Pernikahan juga merupakan sesuatu yang sakral di benak orang-orang timur (red. asia). Wajar adanya, apabila perhatian akan tertuju kepada para pengantin baru. Handai taulan, sahabat, kawan, keluarga bahkan rekan kerja akan memberikan doa dan ucapan tulus mereka.

Sampai disini, izinkan saya bercerita terlebih dahulu. Kenapa prolog tulisan ini saya sampaikan seperti diatas ? Setidaknya, saya mendapatkan pertanyaan luar biasa (menurut saya) dari supervisor S3 saya di negeri nun jauh sana. Sudah jelas, beliau kaget dengan rencana pernikahan saya. “Kenapa kamu menikah? Yakin? Ini keputusan berat lho” ungkap beliau pada saya. Saya faham dengan maksud yang ingin disampaikan beliau. Beliau “mengkhawatirkan” pekerjaan saya untuk program S3 saya. Dengan kata lain ingin berujar “Nanti pekerjaan kamu tidak selesai lho kalau kepikiran istri terus apalagi kalau punya anak…”.

Wajar saja jika beliau tidak faham. Saya sendiri tidak mampu mengungkapkan betapa “indah”nya pernikahan dengan kata-kata. Saya juga menyadari bahwa pernikahan adalah “beban” tersendiri bagi siapapun yang menjalaninya, akan tetapi “kenikmatan” lain seperti ketenangan diri dan penyempurnaan agama adalah satu lain hal yang akan kita peroleh ketika menikah. Dengan, bahasa yang halus saya menyampaikan kepada beliau bahwa “saya akan berusaha sebaik mungkin, namun memang tidak bisa berjanji bahwa saya tidak akan tidak memikirkan istri saya”. Beliau hanya tersenyum. Sejak itu pembicaraan kami terhenti.

Kembali kepada “Apa yang berbeda”, sebenarnya apa sih yang berbeda? Saya ingin menjawab pertanyaan yang dilontarkan banyak kawan saya baik secara implisit atau eksplisit, baik yang melalui media facebook, twitter atau bahkan kontak person via email (busyeet, berasa sok penting banget, maafkan saya). Apa yang berbeda? Lagi saya mengulang. Bagi saya, yang berbeda adalah cara kita memandang hidup. Inilah mungkin sebabnya bahwa ucapan paling sering disampaikan adalah “Selamat menempuh hidup baru”. Hidup yang seperti apakah itu? Bagi saya, itu adalah hidup yang lebih tenang, hidup yang lebih dewasa dan hidup yang lebih efektif.

Hidup yang lebih tenang, karena saya akan selalu memiliki partner yang mendukung dalam setiap keadaan dan setiap momen. Hidup yang lebih dewasa, karena saya diharapkan mampu selalu memberikan keputusan bijak tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk istri dan anak-anak. Semua imbas positif ataupun negatif akan dirasakan oleh keluarga. Hidup yang lebih efektif karena saya meninggalkan kegiatan-kegiatan tidak perlu yang sering saya lakukan ketika saya masih sendiri.

Menikah adalah pilihan. Menjadi sendiri juga adalah pilihan. Keduanya merupakan keputusan yang tidak diperbolehkan adanya paksaan di dalamnya. Pada umumnya, masyarakat dan keluarga sendiri yang memberikan “dorongan” dan terkadang justru berubah menjadi “tekanan”. Saya hanya berharap dengan menuliskan ini, saya dapat memberikan gambaran bagi mereka yang sedang berada “diantara” dua jalan ini.

Untuk mengakhiri, izinkan saya mengutip ungkapan seorang kawan, Jhong Rhen, pada “curhatan” dia berjudul “Life After Marriage” di situs Enzine Articles.

Many of my readers emailed me what is life like after marriage.

In fact, I’m not even sure what is the right way married couple should feel after marriage.

For me, I feel comfortable and glad that the wedding was finally over. We had painstakingly planned for one year plus and everything ended in less than a day.

We had lots of help from friends and we persevere through the ups and downs of planning.

It is not easy to handle the tasks and the stress that came from family members.

At this stage, I feel really comfortable with the shared life I had with my wife. I tried to minimize changes in our daily habits. We still carry on being who we are and continue to do what we do.

There is definitely some shared roles and responsibilities like washing clothes, vacuuming and mobbing the floor and washing dishes after every meal.

For me, I also learned about respect and communication.

We don’t expect each other mind-read each other. We learn to speak and express ourselves.

We do our best to share what our thoughts and feelings are.

What I meant when I say respect is in the sense respect that she is tired after work and I just keep her company.

Communication in the sense we share with each other our thoughts, problems and challenges so we can better understand each other and learn to cope together.

When we share, we become closer too.

Two heads are definitely better than one, aren’t they?

Sumber : http://ezinearticles.com/?Life-After-Marriage&id=559508

Riza-Arief Putranto. 7 Januari 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s