KETIKA KEBERANIAN DIPERTANYAKAN

Saya baru saja selesai melihat berita di televisi tentang seorang walikota terdakwa yang melantik para pejabat pemerintahan di dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP). Mulut saya tak henti-hentinya menganga melihat itu semua. Sungguh ‘mengerikan’ negeri ini. Sebuah LP ‘manut-manut’ aja digunakan sebagai tempat pelantikan. Hukum sudah tidak lagi bekerja di negeri ini. Kasus ini melengkapi Gayus yang sudah ‘tertawa’ haha-hihi dan meremehkan konstitusi hukum. Saya saja mengurus paspor dan visa untuk keperluan pendidikan (red. tugas negara dari institusi dimana saya bekerja) saja rumit dan kadang malah dicurigai oleh petugas imigrasi. Eh, si Gayus, enak saja ya dia bergerak kesana kemari. LUAR BIASA !

Prolog yang aneh ya para pembaca sekalian? Biarlah demikian. Saya tidak menulis untuk memojokkan pihak tertentu. Sebagai masyarakat awam, saya hanya berpendapat. Melihat kasus Gayus dan korupsi yang sepertinya tidak henti melanda negeri ini, pertanyaan saya : ‘Siapa ya yang kira-kira BERANI untuk maju dan menuntaskan ini semua?’. Pertanyaan ini terlalu besar sepertinya. Seorang teman baik saya berujar ‘biarlah permasalahan elit diatas diselesaikan oleh mereka yang memiliki wewenang, lalu dirimu, apakah sudah berani melakukan hal yang benar?’

JLEB ! Pertanyaan balik dari teman saya tersebut menohok saya tidak dari belakang, malahan dari depan. Apa ya yang sudah saya lakukan? Wah, saya tersipu malu. Saya sendiri sepertinya belum berbuat banyak untuk negeri ini. Setidaknya hanya berusaha untuk melakukan apa yang bisa saya lakukan, menulis adalah salah satunya.

Tapi tunggu dulu, saya tadi malam mengalami kejadian yang mungkin beberapa diantara pembaca sekalian pernah mengalaminya juga. Cerita ini tentu tidak ada hubungannya dengan prolog diatas, tetapi saya rasa bisa menjadi sedikit renungan.

Saya ceritakan saja ya..

Malam 8 Januari 2011, di suatu tempat di kota Bogor.

Saya yang kelaparan sedang makan malam di sebuah warung pecel lele. Warung tersebut adalah langganan saya, semenjak 5 tahun yang lalu. Sang penjual pun sudah kenal baik dengan saya. Sedang asyik-asyiknya saya menikmati ayam goreng asam manis, masuklah segerombolan anak-anak tanggung. Mereka bertujuh, membawa alat-alat pengamen yang terbuat dari pipa pralon disumbat karet (alat musik bas), botol yakult diisi beras (alat perkusi ecrek-ecrek), dan lain sebagainya. Tidak perlu ditanya, mereka pastilah pengamen.

Tak butuh waktu lama untuk mendengarkan suara mereka. Yak, mereka bernyanyi dengan suara lantang bahkan maaf-maaf, tergolong berisik. Mereka mendekati saya yang sedang asyik makan. Selama 5 menit mereka bernyanyi tidak mendapat ‘tanggapan’ dari saya alias saya hiraukan. Mereka mendekatkan diri pada saya bahkan beberapa anak mendekatkan diri ke telinga saya, sembari semakin meningkatkan suara nyanyian yang memang tidak karuan itu.

Saya faham, ini adalah usaha untuk membuat saya jenuh dan segera memberikan uang. Saya malah semakin tidak simpati. Saya acungkan kedua tangan seperti ketika kita berlebaran dan menolak secara halus. Mereka semakin tidak peduli dan beberapa berteriak ditelinga saya. Saya berusaha menyabarkan diri. ‘Ya sudahlah, nanti toh juga pergi’ pikir saya.

Ternyata setelah 15 menit, seorang anak keluar dan memanggil seorang pria, yang saya duga, seorang preman dan pastilah yang mengendalikan anak-anak tersebut. Pria tersebut tanpa tedeng aling-aling langsung memegang kerah baju saya dan menariknya. ‘Heh, loe ga mau kasih anak-anak gue uang?’ ujarnya. ‘Loe udah bikin kerugian disini, bayar 20 ribu sekarang atau gue beri loe..’.

Wah wah, saya terkejut setengah mati. Siapa ya sebenarnya yang dirugikan ? Tangan kanan belepotan ayam, tangan kiri belepotan nasi. Sembari berfikir ‘lho saya tinggal selama 5 tahun di kota hujan ini, baru kali ini saya digertak preman..’. Saya berfikir jernih dan sembari berucap basmalah, saya menjawab ‘Oh begitu ya bang, mohon maaf saya tidak tahu peraturan itu, tapi saya tetap tidak mau bayar. Kalian yang sudah menganggu ketentraman saya, kalau tetap memaksa, ya saya terpaksa melayani anda (red. Berkelahi)..’.

Sang preman melepaskan genggaman pada kerah leher saya dan undur diri. Entah apa yang membuatnya undur diri, saya sendiri tidak mengerti apakah karena kata-kata saya. Tapi jikalaupun harus terjadi perkelahian, saya tidak segan, meskipun saya kalah semisal.

Menurut pembaca apakah saya sudah melakukan hal yang benar ? Atau bodoh ? Maksud saya dengan tidak memberikan uang kepada pengamen ? Saya kira, jika saya wanita, pastilah sudah memberikan uang. Itulah negeri kita ya. Berbuat hal yang benar, memang penuh resiko, bahkan terkadang nyawa taruhannya. Dari atas dan bawah, masyarakat dibuat tidak tenteram. Sungguh saya bersedih, preman dan anak-anak jalanan terbentuk juga karena sistem kehidupan sosial yang tidak benar. Salah siapa? Masa saya harus bilang pemerintah? Banyak sekali nampaknya dosa pemerintah kita dong.

Jika tulisan ini diteruskan pastilah tidak akan habis beberapa lembar folio, sehingga saya akhiri saja disini (tertawa). Teman saya yang kebetulan berada di samping saya langsung berujar ‘dasar loe, menulis hanya untuk curhat’. Sekian.

Riza-Arief Putranto. 9 Januari 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s