KOK MASIH MAKAN NASI BUNGKUS?

Pertanyaan pada judul diatas baru saja diajukan kepada saya. Dan, cerita berikut masih berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, menikah dan sebagainya. Mohon dimaklumi (sst, kemarin-kemarin ada kawan yang berujar kepada saya soalnya ‘mentang-mentang udah kawin, sekarang tulisan-tulisannya berbau itu semua’). Yah, tak mengapalah. Saya memaklumi kok. Terlebih, saya sendiri, jujur, juga sedang menikmati status baru saya. ‘Life is beautiful, but it is even greater after marriage’.

Kembali ke topik. Ada apa dengan nasi bungkus? Singkat cerita, seseorang yang saya hormati memberikan candaan terkait nasi bungkus dan status ‘menikah’. Kata beliau, ketika seseorang menikah tidak seharusnya lho masih makan nasi bungkus. Esensi dari kalimat beliau saya tangkap. Maksudnya adalah, kenapa saya tidak membawa bekal masakan istri? Tunggu dulu. Jangan buru-buru menghakimi beliau wahai pembaca. Beliau bukan orang yang ‘old-school’, bahkan bisa dibilang beliau lumayan ‘gaul’-lah. Beberapa pembaca tentu boleh setuju dan tidak setuju, mengingat zaman sekarang emansipasi wanita selalu dikedepankan, bahkan saya menyebut tidak hanya wanita, pria juga memiliki emansipasi mereka sendiri.

‘Istri saya sedang keluar kota pak’ jawab saya lembut. Dan, jawaban saya tersebut mengakhiri pertanyaan yang mungkin akan muncul berikutnya. Kembali ke emansipasi. Saya sebutkan emansipasi pria sehinga terpaksa saya harus ‘buka kartu’. Silahkan dikatakan feminim atau tidak, saya memiliki hobi baru semenjak saya sekolah di LN yakni memasak. Boleh dicek, saya lebih suka memasak dibanding istri saya. Terkadang, kami malah ‘bekerja sama’ dalam hal masak memasak. Alhamdulillah, selama ini, istri saya suka-suka saja dengan masakan saya, padahal masih dalam taraf belajar. Jangan bandingkan masakan saya dengan milik ibu-ibu, pastilah kalah.

Sayangnya, selama saya berada di Indonesia, kondisi tidak mengizinkan saya untuk mampu mengeksplor hobi saya tersebut. Selain karena indekos, lokasi tempat tinggal saya dikelilingi oleh banyak warung dan rumah makan kecil. Lalu, kenapa sih memasak? Saya sendiri tidak ingat sejak kapan saya mulai menyukai memasak. Yang paling tergambar jelas di benak saya adalah saya memulai memasak untuk mengurangi stres. Ya, stres. Entah kenapa, butir-butir stres itu menguap bersama dengan aroma bawang yang saya potong. Duh, jadi alay deh.

Seorang kawan lain memberikan pendapatnya, ‘Yah, kalau masalah bekal tidak bekal itu kan tergantung kondisi masing-masing (keluarga). Kalau memang memungkinkan ya bisa, tetapi kalau tidak, ya tidak bisa dijadikan patokan untuk mereka yang sudah menikah’. Sedikit banyak saya setuju dengan kawan saya ini. Saya memahami bahwa ada kesan ‘cute’ (red. kyut) ketika seorang suami dibawakan bekal oleh istri, apalagi jika ditambah hiasan-hiasan pada makanannya. Akan tetapi, itu kembali lagi kepada pribadi masing-masing. Saya pribadi sih, menganggap itu ‘lucu’ dan ‘seru’ dan berfikir ‘kenapa hanya suami saja yang diberikan bekal, istri juga lebih cute jika dibawakan bekal oleh suami’.

Begitulah akhir celotehan sore hari saya. Terima kasih.

Riza-Arief Putranto. 11 Januari 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s