KETIKA SEREMONIAL BEGITU PENTING

Wisuda adalah sebuah momen yang menyenangkan. Tentu saja ! Itu adalah pertanda selesainya waktu studi yang panjang dan melelahkan bagi seorang mahasiswa. Terlebih jika sang mahasiswa berhasil menyandang predikat cumlaude (dengan pujian), sudah barang tentu menjadikan momen wisuda semacam momen pengukuhan untuk dirinya.

Akan tetapi, terkadang tidak semua kegiatan wisuda itu menyenangkan. Persiapan yang ribet, hingga momen wisuda yang dilaksanakan berkali-kali (oleh beberapa universitas di Indonesia terjadi), membuat acara tersebut terkesan merupakan pemborosan dan dinilai tidak efektif. Pemborosan apa? Tentu saja pemborosan dalam materi, tenaga dan waktu. Terlebih jika orang tua mahasiswa diharuskan datang dari luar kota bahkan luar pulau.

Sebagai contoh, saya tidak mendapatkan sebuah acara wisuda (red. graduation) ketika saya lulus studi S2 saya di Perancis. Hal tersebut berlaku sama untuk hampir sebagian besar universitas di negeri Paman Napoleon tersebut. Hal berbeda tentu terjadi di negara-negara lain yang meng-halal-kan sebuah acara wisuda, seperti Australia, Inggris, Rusia dan Jerman. Lalu kenapa Perancis tidak? Menurut professor saya, sudah sejak lama Perancis menghindari acara wisuda yang dianggap oleh mereka merupakan pemborosan. Dan, hal-hal bersifat seremonial bukan sesuatu yang penting.

Ketika saya menyelesaikan ujian akhir (defense) Master saya, tiket pesawat bahkan langsung dipesankan oleh pihak pengelola beasiswa yang merupakan ‘hadiah’ kelulusan saya, saya kira. Jika pembaca adalah orang yang sentimentil, tentu saja, hati akan tersayat bukan. Dalam bahasa yang lebih kasar boleh dibilang ‘kok diusir?’. Tetapi, itulah. Tanpa wisuda pun, pencapaian hasil studi tetaplah seperti apa adanya. Memang tidak diperlukan seremonial berlebihan. Sebuah acara makan-makan sederhana bersama sesama mahasiswa pun terasa sudah sangat menyenangkan.

Lalu kembali ke Indonesia, kenapa seremonial terlihat begitu penting? Saya pikir, tak lain dan tak bukan adalah karena budaya ‘penghormatan’ masih melekat di negeri ini. Wisuda adalah wahana ‘pengukuhan’ resmi yang hendak berkata ‘yak, anda resmi lulus’. Saya juga tadinya sering berfikir wisuda adalah acara ‘buang-buang energi’, tetapi kemudian saya memahami sesuatu.

Saya mengerti satu makna pentingnya sebuah seremoni bernama wisuda ketika saya menghadiri wisuda S2 istri saya. Dari sisi pendamping wisudawati (red. orang tua), saya mengerti bahwa wisuda tersebut berarti penghargaan kepada orang tua atau pendamping. Penghargaan apa? Saya membayangkan, betapa sulitnya orang tua dalam membiayai kuliah anak-anak mereka. Betapa berat beban yang harus mereka tanggung dalam kondisi perekonomian negeri kita yang semakin mencekik. Meneruskan studi di perguruan tinggi di Indonesia sama halnya seperti menyerahkan separuh harta hidup. Jadi sebuah acara seremonial ini seperti melepaskan mereka dari beban tersebut. Terlebih lagi jika anak mereka memberikan ‘bonus’ berupa peringkat terbaik atau cumlaude, tentu ini merupakan sebuah kebanggaan.

Berbeda bukan dengan yang terjadi di Perancis? Hampir sebagian besar praktisi akademis akan melanjutkan studi mereka minimal hingga jenjang S2. Boleh tidak percaya, tetapi sebagian besar pramusaji di bar-bar di Perancis adalah lulusan Master. Dari sini kita melihat, betapa mudahnya mereka mendapatkan akses untuk melanjutkan studi dan pembiayaan. Bahkan negara memberikan semacam program ‘wajib belajar hingga S2’ dengan biaya murah. Yup, sebuah acara seremonial tidaklah penting untuk sesuatu yang bisa dicapai dengan mudah tentunya.

Jadi, kesimpulannya, apakah seremonial begitu penting? Itu, kembali kepada individu yang akan menilai. Bagi saya yang sudah membayangkan akan menghadiri acara wisuda putra saya (imajinasi liar), tentu saja penting.

Riza-Arief Putranto. Ngelantur !

8 thoughts on “KETIKA SEREMONIAL BEGITU PENTING

  1. Barangkali kalimat “Hal berbeda tentu terjadi di negara-negara lain yang meng-halal-kan sebuah acara wisuda, seperti Australia…” perlu diperjelas lagi. Apa yg dimaksud mengalalkan? Karena saya sendiri lulus dari Master di Australia tahun 2006, saya tidak ikut wisuda dan it’s OK. LUlusan di tempat saya diberikan pilihan apakah mau ikut wisuda atau tidak. Jika memilih untuk tidak ikut maka kita menandatangani sebuah pernyataan dan meminta pihak Universitas mengirimkan ijasah dan transkip nilai ke saya di Indonesia.

    Saya setuju dengan paragrap-paragrap berikutnya terkait dengan wisuda. Thanks a lot.

    Putu

    • Terima kasih sudah mampir ke blog saya dan kritisasinya. Yang dimaksud dengan menghalalkan disini adalah “memperbolehkan”. Tentu saja informasi ini saya dapat dari pihak ketiga atau bacaan. Berkat penjelasan Putu saya jadi tahu bahwa di Australia bisa “tidak ikut” wisuda. Sekal lagi terima kasih atas sharingnya.

    • Di Prancis, setelah defense/presentasi akhir/ujian oral/pendadaran apapun namanya, jika juri menyatakan lulus maka sudah mendapatkan jenjang yang dituju entah master atau doktor. Hanya saja, pada umumnya budaya prancis tidak mencantumkan gelar S1 dan S2 karena secara teknis itu tidak ada aturannya. Namun pelajar Indonesia sepulang ke tanah air bisa melakukan penyetaraan ijazah di DIKTI dan menggunakan gelar selayaknya lulusan S1 dan S2 dalam negeri.

    • Untuk program S1 (licence) atau diploma (E.Ing) tetap tidak ada wisuda kecuali di beberapa sekolah private🙂

  2. Dear pak riza,
    Baru tersadar ini ketika melihat foto bapak di blog ini.
    Bapak yang kerja di Pusat Penelitian Bioteknologi Bioindustri Indonesia kan?
    Kebetulan saya salah satu mahasiswa yang pernah penelitian di sana. Dan besok rencananya akan wisuda. Tapi masih ragu hadir atau tidak🙂
    Search di google pentingnya wisuda ketemu blog Bapak.

    Inspiring!🙂

    • Dear Niken. Selamat ya untuk wisudanya, semoga ilmunya berkah dan berguna untuk karir ke depan. Wisuda tetep saja hal yang penting meskipun berbau seremonial dan pemborosan. Paling tidak, bisa melihat wajah bahagia orang tua/keluarga dekat yang hadir. Salam. Riza.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s