SEKOLAH DI LUAR NEGERI, KEUNTUNGAN ATAU MUSIBAH?

Sebelum pembaca melanjutkan bacaan ini, saya ingin mengingatkan bahwa semua yang tertulis selanjutnya adalah sebuah opini pribadi. Dalam menyusun tulisan ini, saya menganalisis dan merumuskan ide cerita melalui opini-opini yang saya dengar dari orang lain. Jikalau memang apa yang saya ungkapkan tidak sesuai dengan apa yang ada di benak pembaca, saya memohonkan maaf dan maklum. Dan juga saya terbuka untuk melakukan diskusi yang menyenangkan dan membangun.

Saya baru saja tiba di tanah Napoleon kurang lebih sepekan yang lalu. Ini bukan pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah asing. Perjalanan ini adalah yang kesekian kali. Dan, saya kembali untuk meneruskan studi saya, di kota yang sama, lab yang sama bersama tim riset yang sama. Akan tetapi, ada yang berbeda ketika saya tiba. Ada yang berbeda ketika saya meninggalkan Indonesia.

Pertama, saya tidak merasakan kegembiraan ketika saya meninggalkan keluarga. Siapa sih yang tega meninggalkan keluarga mereka? Saya merasa biasa saja, seperti saya melakukan perjalanan dinas kantor dari Jakarta menuju Medan, misal. Bahkan perjalanan untuk keperluan itu lebih menyenangkan dari perjalanan yang saya alami.

Kedua, saya tiba di Bandara Charles de Gaulle, Paris. Tidak berubah. Semua masih sama seperti ketika saya meninggalkan tempat ini 6 bulan yang lalu. Hati saya mendadak seperti tersayat. Saya sudah jauh sekali meninggalkan keluarga sepanjang kurang lebih 18.000 km dengan perbedaan waktu 6 jam lamanya. Kemudian, saya tidak lagi bahagia berada di dalam TGV (kereta cepat Perancis) menuju Montpellier. Semua terasa hambar.

Ketiga, saya tidak kemudian berada pada situasi menyenangkan. Berbagai masalah administrasi menghampiri saya, yang mengingatkan, betapa kompleksnya birokrasi negeri tricoloré untuk orang asing seperti saya.

Lalu, apa inti dari ketiga poin diatas? Yakni bahwa saya ‘menderita’. Untuk sementara dikatakan demikian. Menderita dalam hal apa? Manusia yang ‘benar’ itu selalu dikatakan sehat secara jasmani dan rohani. Singkatnya, saya menderita secara rohani. Kenapa? Ya, silahkan simak kembali tiga poin diatas.

Kenapa saya menulis ini? Karena ada sebuah paradigma di masyarakat kita (di negeri Paman Gayus) bahwa ke luar negeri itu enak, banyak uang, dkk dkk dkk. Saya akan jawab, benar ! Benar? Oh ya? Benar ! Ada lanjutannya, yaitu untuk mereka yang datang ‘have fun’ alias foya-foya, atau sekedar short visit. Tidak untuk mereka yang long visit alias melakukan studi mereka disini (entah S2 atau S3). Kembali ke 3 poin yang saya tuliskan diatas : mereka yang tinggal lama mengalami ‘kekurangan vitamin rohani’.

Lalu? Kenapa saya kesini?

Pertama, saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan dari negara saya. Apa itu? Yakni kemudahan untuk melanjutkan pendidikan, menggapai cita-cita dan merubah nasib. Saya masih ingat betapa sulitnya saya mendapatkan beasiswa dalam negeri. Berkali-kali saya apply, dan berkali-kali pula saya ditolak. Oh, mungkin karena saya bodoh? Tidak memenuhi syarat? Maybe yes maybe not. Dan, nasib membawa saya apply beasiswa LN dan violà, Perancis menerima saya. Jadi? No further question bro!

Kedua, saya berangkat membawa nama negara. Juga setiap individu Indonesia yang pergi ke LN. Benarkah? Tentu saja, karena setiap perbuatan kita akan mencerminkan dari mana kita berasal. Sebagai contoh : seorang kawan pernah membuat masalah di lab saya bekerja dan sang supervisor menghakimi bahwa semua orang Indonesia akan berbuat masalah seperti kawan saya di lab tersebut. Oh no! Saya membuktikan itu tidak benar. Dan, itu berat pembaca. Berat sekali rasanya menjadi orang asing dan dituduh atas perbuatan yang dilakukan rekan sebangsa kita. Sebaliknya, ketika kita sukses di negeri asing ini, nama bangsa kita terangkat dengan baik.

Ketiga, saya berada disini karena amanah itu adalah sesuatu yang harus dijaga. Jikalau seseorang itu amanah maka dia dapat dipercaya. Apa artinya? Rekan-rekan saya selalu berujar bahwa hidup itu bisa memilih. Dan, saya bisa saja menjawab no for going abroad. Andai saja mereka mengerti, saya tidak mampu menjelaskan dengan kata-kata. Itulah jawaban saya, yakni amanah. Saya diamanahi untuk menjalankan sebuah pekerjaan selama 5 tahun. Dan, Insya Allah, ilmu ini akan berguna baik bagi Perancis, Indonesia dan bahkan negara-negara lain yang menginginkan ilmu ini. Maka saya berbesar hati dan melaksanakan ini. Jika saya bisa menjalankan ini dengan baik, maka saya berharap bisa menjalankan kehidupan berkeluarga saya di masa nanti saya selesai dengan baik pula.

Kesimpulan yang bisa diambil yakni bahwa saya bersabar meninggalkan negeri dan keluarga, semata-mata untuk negara (boleh diartikan secara harfiah) dan semata-mata untuk masa depan yang lebih baik. Tidaklah ada artinya uang ribuan euros dibandingkan dengan kesedihan batin meninggalkan keluarga tercinta.

Bagi rekan-rekan yang sedang berjuang di LN, selamat berjuang dan selamat menjalankan amanah ! Tulisan ini juga didedikasikan untuk rekan-rekan pelajar yang sedang ‘berjuang’ di tanah mesir. Tetaplah semangat and may God be with you.

Riza-Arief Putranto.

6 thoughts on “SEKOLAH DI LUAR NEGERI, KEUNTUNGAN ATAU MUSIBAH?

  1. yup,,sy jg ngerti gmana kekurangan vitamin rohani bro,,klo ga dijalani dgn ikhlas n besar hati,,bs jadi kurus kering,,malah lbh parah dr kekurangan vitamin jasmani,,cuma bs mendoakan,,smg mas Za skluarga senantiasa diberi kekuatan tuk lewati n jalani ini smua dgn baiiikkk,,dgn ridhoNya,,selalu dlm lindungan Allah SWT dimanapun mas Za berada,,bisa menjalankan amanah dgn ikhlas,,amin Ya Robbal Alamiin,,demikian comment sy,,hehe

    • iya diz, amiin amiin. terima kasih udah mampir komen, hehehe. semoga doa diz dikabulkan dan Allah memberikan balasan yang lebih baik kepada dirimu..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s