TUNNEL EFFECT : PROSES PENDEWASAAN SEORANG CALON PhD

Cerita ini berawal ketika saya masih duduk di bangku Master (S2 tahun kedua) di tanah Bung Sarkozy ini. Saya masih agak sedikit cukup banyak muda dan berkeinginan besar untuk belajar lebih mendalam tentang bidang ilmu saya. Tidak cukup sampai disini, saya bergabung dengan komunitas pelajar Indonesia di Perancis yang juga ada di seluruh dunia yaitu Persatuan Pelajar Indonesia (PPI).

Dari situ saya belajar bahwa memperdalam ilmu itu tidak hanya dari segi fungsional-nya saja (red. diri sendiri dan bidang ilmu yang diampu) tetapi juga dari segi struktural (red. orang lain dan bidang mereka). Saya banyak mengagumi kakak-kakak PPI kala itu yang sedang menjalani PhD. Mereka boleh dikatakan memiliki lebih kepekaan dalam melihat masalah dan menerjemahkannya menjadi sasaran yang harus diberikan solusi.

Yah, maklumlah saya kan masih berada di level Master yang hanya mengikuti apa kata Profesor saja. Salah seorang dari mereka pernah berujar kepada saya bahwa menjadi pelajar S3 itu seperti memasuki terowongan (atau kita sebut dalam bahasa Inggris, tunnel effect). Tunnel effect? Apakah maksudnya?

Seorang calon PhD tidak mengikuti setapak jalan Profesor. Dia harus mampu membuat sebuah jalan sendiri dalam menyelesaikan masalah penelitian. Lalu, dalam perjalanan ini, ada kalanya mereka akan merasa memasuki terowongan. Atau jika diartikan dalam bahasa jelas adalah macet berfikir, sedikit kram otak, buntu ide, dan sebagainya, yang biasanya tidak berlangsung dalam beberapa jam saja. Hal tersebut terkadang bergulir dalam hitungan bulan.

Jika saya boleh memberikan analisis saya, efek terowongan tersebut dapat diartikan sebagai jalan menuju proses pendewasaan. Pendewasaan dalam hal apa? Singkat kata, PhD adalah proses metamorfosis seseorang dari pelajar yang dependen kepada Profesor menjadi seorang peneliti independen.

Untuk mencapai hal tersebut, seseorang akan diminta untuk memasuki sebuah diorama ruang gelap (red. terowongan). Kita tidak tahu kemana harus melangkah? Yang kita tahu hanyalah menuju ke depan dan berharap segera mendapatkan cahaya. Terkadang diri sendiri menjadi penghambat terbesar, yakni ketika kita terlalu mencemaskan segala sesuatu. Bahkan, mengatakan pada diri sendiri, ‘saya tidak bisa !’.

Saya menolak untuk berfikir negatif dan terus berusaha menjaga ritme mental dan fisik. Tidak mudah memang, akan tetapi saya memilih jalur pendidikan saya ini seperti saya memilih istri. Keduanya harus kita cintai, sayangi dan tidak membebani. Ya, sebuah PhD tidak boleh dijalani hanya karena keren-isme (dipandang wah oleh sebagian orang) dan uang beasiswa yang besar (red. tidak semua beasiswa PhD itu besar). Menjadi calon PhD adalah sebuah pekerjaan mengasah kepribadian, kemampuan intelektual dan keinginan untuk maju.

Di beberapa negara, berbagai macam syarat untuk menjadi PhD diberlakukan. Tujuannya hanya satu, agar riset di negara mereka berjalan dengan baik. Tetapi menjadi atau tidak menjadi PhD itu adalah pilihan pribadi adanya. Semoga setiap pilihan itu yang terbaik adanya bagi mereka yang memutuskan.

Untuk mengakhiri, saya ingin sekali berbagi sebuah kutipan dari artikel seorang lulusan PhD dari Inggris, Dr. Frank Gannon, ahli Enzimologi. Dia menulis artikel tersebut sebagai jawaban atas banyaknya skema bahwa PhD hanyalah sebuah ajang mencari titel. Baginya, PhD lebih dari itu.

‘If we change the standards and requirements for obtaining a PhD, this will inevitably shape the next generation of scientists. Thus, we should know more and ask more about what a PhD really means. Instead of treating the degree as an ‘access card’ to the laboratory, we should ask for more information: how the candidate was examined, who sat on the jury, and what comprises training in the applicant’s country or university. Most importantly, we should insist that a PhD is not merely a vague title but actually means what it implies: it is an award to an expert who has proven their scientific worth and not to someone who stayed in a tolerant group for long enough’.

Artikel tersebut ditulis pada jurnal EMBO Reports dan dapat di unduh melalui link berikut ini :  http://www.nature.com/embor/journal/v7/n11/pdf/7400842.pdf.

Riza-Arief Putranto, 22 Februari 2011. Tulisan ini didedikasikan untuk ‘mereka’ yang sedang berada di ‘terowongan’.

4 thoughts on “TUNNEL EFFECT : PROSES PENDEWASAAN SEORANG CALON PhD

  1. astaga, makasih mas..
    aku lagi stuck dan mumet buntu nih dg algoritma, baru 2 hari sih, smoga ngga nyampe 1 bulan, ehehehe
    baru aja mau nulis blog ttg ‘phD bukan sekedar sebuah titel’ ehhh situ ber-ide sama kaya akuu ehehehe
    courage!

    • aku copy-kan jawaban komenmu di facebook (biar sama) : oh ya? kebetulan sekali. hmm, semangat semangat. baru dua hari kok. jangan biarkan stuck terlalu lama. solusi bisa dicari, tetapi menaikkan moral sulit dibeli, hayah🙂 courage pour toi aussi !

  2. wah, sama pikiran kita Mas,.. thanks udah duluan menuliskannya. Saya merasakah dan memikirkan hal yang sama,.. efek terowongan,…udah selesai Mas??

    • halo ‘ceritakampus’, wah efeknya masih ada, hingga rasanya nanti selesai. tapi di dalam terowongan ternyata tidak terlalu menyedihkan, kita jadi belajar untuk ‘berjalan menggunakan insting’. pada akhirnya seperti itu rupanya sains, kolaborasi antara insting & pengetahuan ilmiah yang cukup🙂 sukses selalu !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s