LA VIE N’EST PAS QU’UN LONG FLEUVE TRANQUILLE

‘Hidup itu tidak hanya berupa sungai panjang yang tenang’ adalah sebuah peribahasa Perancis sebagaimana tertulis dalam bahasa aslinya pada judul diatas. Cara membacanya dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut : la fi ne pa kang long flef trangkil. Peribahasa indah tersebut bermakna bahwa dalam kehidupan, tidak selalu jalan itu akan mulus, terkadang akan terjal dan sulit untuk dilewati. Begitulah saya memulai tulisan saya kali ini.

Berawal dari keinginan menghadiri soutenance (defense) PhD salah seorang sahabat terbaik yang pernah saya kenal di Montpellier, saya menyisihkan sedikit waktu untuk menceritakan ini kepada para pembaca. Sahabat ini adalah inspirator bagi kami (para pelajar di Montpellier) dan boleh menjadi panutan dalam hal semangat hidup dan perjuangan.

Dia yang bernama Siska Hamdani. Seorang wanita muda kelahiran Solok, Sumatra Barat ini adalah seseorang yang sederhana, cerdas dan memiliki keteguhan hati yang boleh dibilang luar biasa. Bagaimana tidak? Datang ke Montpellier pada tahun 2005 untuk melanjutkan studi-nya pada tingkat Master, Siska terjun ke dalam dunia yang berbeda dengan daerah asal tanpa mengantongi kemampuan berbahasa Perancis. Tentu saja, hal tersebut membuat lulusan S1 Kimia UGM tersebut menemui kesulitan untuk dapat mengikuti perkuliahan dengan normal.

Tekanan yang dialami Siska tersebut menghadirkan masalah lain. Sebuah penyakit yang diakibatkan kelainan genetis menyebabkan wanita muda ini harus lebih bersabar lagi menghadapi hari-harinya ke depan. Memasuki tahun kedua Master, dia harus bergelut dengan dua hal yaitu kewajiban menyelesaikan studi dan bertarung melawan penyakit yang dideritanya. Penyakit yang tidak dikenal oleh dokter di negara yang memiliki reputasi medis terbaik di duia ini, menyerang sistem kekebalan tubuh yang akhirnya memunculkan berbagai hambatan fisik. Salah satu contoh, kemampuan penglihatan Siska menurun hingga bahkan mencapai batas 10% saja.

Akan tetapi, itu tidak menyurutkan langkah wanita muda yang memiliki hobi mountaineering (naik gunung) ini. Pada tahun 2007, Siska memperoleh gelar Master dalam bidang Kimia. Berkat kemampuan berfikirnya yang brilian, Siska memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu PhD.

Semua orang bertanya-tanya di dalam hati mereka. Dengan penyakit seperti itu, kenapa tidak kembali saja ke tanah air? Jawabannya sangat sederhana. Karena setiap biaya kesehatan yang harus dibebankan kepada Siska ditanggung oleh negara asing ini. Bila dihitung dalam rupiah, setiap kali check up, Siska akan menghabiskan kurang lebih 100 juta rupiah. Tentu saja, tidak memungkinkan sebulan sekali seseorang harus merogoh koceknya sedalam itu.

Perkenalan dengan seorang pemuda asli Perancis semasa studi Master ternyata sudah diatur oleh Yang Kuasa. Pria inilah yang sekarang menjadi suaminya. Seorang ‘bule’ yang dengan setia menunggu dan bersabar di tengah masa sulit yang dialami istrinya. Saya sendiri menjadi saksi betapa Jêrome menjadi figur yang selalu meneguhkan Siska.

— Jêrome & Siska —

Hari ini, Siska berhasil melewati ujian akhir presentasi PhD dihadapan para juri dengan baik. Semua pertanyaan mereka berhasil dijawab Siska dengan sempura. Setelah operasi mata yang kedua sejak terakhir pada tahun 2010 inilah, Siska mengalami peningkatan kemampuan penglihatan. Dia benar-benar membuat publik yang hadir kala itu terkesima. Beberapa kolega Siska di Ecole de Mines bahkan menangis ketika Directeur de these menceritakan kisah hidupnya.

Saya yang berada di ruang sidang merasa bangga dan bersyukur pernah mengenal sosok seperti Siska. Saya banyak belajar darinya, mengenai semangat hidup dan sikap pantang menyerah. Dan, Indonesia wajib bersyukur, karena hari ini, bertambah satu lagi seorang Doktor brilian anak negeri.

Melalui tulisan ini, saya kembali mengucapkan selamat kepada Siska atas keberhasilannya meraih Doktor melalui perjuangan yang tidak mudah. Semoga pula kisah ini menjadi inspirasi kepada kita semua, untuk selalu bersyukur dan selalu berjuang !

*Foto diambil oleh Reni Ratna Sriwulan.

Riza-Arief Putranto, 25 Februari 2011.

 

2 thoughts on “LA VIE N’EST PAS QU’UN LONG FLEUVE TRANQUILLE

  1. lupus ya mbak siskanya?

    masnya sendiri gimana kabar masternya?🙂

    saya jadi kangen deh sama temen saya yang dari montpellier. apa kabar ya dia…❤

    • bukan lupus kok, hanya penyakit genetis. hehe, masterku? alhamdulillah sudah selesai. sekarang lagi mengejar PhD di negara yang sama🙂
      hee, punya temen dari montpellier? tahun berapakah dia disini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s