HATI GELAP DALAM SEBUAH KALIMAT MANIS

Apa yang ada di dalam benak pembaca sekalian ketika seorang sahabat, teman lama atau bahkan keluarga mengabarkan berita baik? Tentu saja kita akan langsung mengungkapkan rasa turut bahagia kita pada mereka. Berbagai kalimat ekspresi tersedia untuk kita merangkainya menjadi ‘ucapan turut senang’. Tetapi apakah benar demikian adanya? Maksud saya adalah, benarkah jauh di dalam lubuk hati kita, kita ‘benar-benar’ merasa bahagia?

Saya tidak ingin memojokkan pihak tertentu, oleh karena itu saya mengambil contoh diri sendiri. Ketika saya mendengar berita-berita ‘bahagia’ akan sahabat-sahabat dan sanak saudara, jujur, timbul rasa iri tersebut (sedikit banyak) yang membuat saya membenarkan diri bahwa saya tidak berada dalam kondisi sebaik mereka. Tetapi kalimat yang keluar dari mulut saya, pastilah ucapan selamat & turut berbahagia.

Saya membuka aib sendiri? Tujuan saya bukan itu. Izinkan saya menjelaskan lebih jauh lagi. Pada dasarnya, manusia itu dilengkapi dengan rasa iri hati dan dengki. Semua orang paham akan hal tersebut. Saya selalu bertanya kenapa kita harus dilengkapi dengan rasa itu? Bukankah itu hanya akan menimbulkan penyakit hati dan merugikan diri sendiri? Ketika saya mencoba mencari jawaban, saya menyadari bahwa manusia juga dilengkapi dengan kemampuan untuk bersyukur dan berfikiran positif. Intinya adalah koordinasi antara penggunaan hati (perasaan) dan otak (logika). Kapan kita harus menggunakan perasaan, logika dan kombinasi antara keduanya.

Sebagai gambaran, dalam beberapa hari ini saya terus menerima berita baik dari kawan-kawan saya entah di Indonesia atau yang sedang berada di LN seperti saya jelaskan di paragraf diatas. Ketika mendengar kabar tersebut, saya merasa iri, karena banyak sekali dari mereka sudah memajukan selangkah dua langkah atau bahkan puluhan langkah dalam hidup mereka (dalam hal ini hati berbicara, rasa iri & menginginkan apa yang mereka capai). Akan tetapi kemudian, logika saya berkata bahwa ‘saya tidak boleh kalah’. Sebuah implikasi positif dari hasil pemikiran saya tersebut memacu pribadi untuk lebih bersemangat. Kenapa bisa demikian ? Karena saya teringat sebuah nasehat seorang kawan bahwa ‘rezeki seseorang itu adalah mutlak miliknya, sudah diatur oleh mekanisme di luar kemampuan manusia dan orang lain tidak akan bisa merebut rezeki tersebut’.

Hari ini saya belajar kembali dan diingatkan kembali betapa rapuhnya kita sebagai manusia. Dan, betapa kita adalah tempatnya salah. Namun yang menentukan karakter dan jati diri kita adalah tindakan selanjutnya yang kita ambil dari segala buruk sangka yang ada di depan. Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri dan juga pada pembaca. Mari menjadi manusia yang lebih baik untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara. Tetap semangat !

Riza-Arief Putranto. 8 Maret 2011.

2 thoughts on “HATI GELAP DALAM SEBUAH KALIMAT MANIS

  1. Aha!!
    Jangan bilang lo iri juga ama gw, karena itu yg pernah gw rasain ama lo. LOL
    Iri itu cuman ngebuktiin kalo kita masih manusia, dan berusaha mengejar kesempurnaan.

    • ga iri sama elu chy, hehehe. hanya iri dengan kemajuan orang. tapi segera diubah menjadi sikap positif. let’s go ! they can do it, so do i. :):)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s