MENGHARGAI LEBIH BAIK DARI MENGKRITIK

Pernahkah pembaca dikritik? Dalam pekerjaan, dalam segalanya? Saya kira kita semua pernah berada di posisi yang sama. Kritik adalah sesuatu yang lumrah dalam perjalanan hidup manusia sebagai makhluk sosial, yang bergaul dan berkompetisi. Berkompetisi? Yang saya maksud disini adalah berkompetisi dalam kehidupan. Sejak kita kecil, lalu memasuki bangku sekolah, kuliah hingga dunia kerja, kritik akan terus mendatangi kita siap ataupun tidak.

Ketika saya membicarakan kritik, tentunya beberapa diantara pembaca akan langsung berujar ‘tidak semua kritik itu buruk kok?’. Ya ! Saya sangat setuju. Kita mengenal yang dinamakan kritik membangun. Tetapi ketika saya mencoba mengulas mengenai kata dasar ‘kritik’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut memang memiliki interpretasi negatif kok. Kritik berarti ‘memberikan sanggahan atas pekerjaan (fisik maupun non-fisik) seseorang’. Jadi menyanggah dapat diartikan tidak setuju. Ya, memang negatif. Lalu kenapa ada yang dinamakan kritik membangun itu tadi?

Yang menentukan apakah sebuah kritik itu membangun atau tidak adalah sang penerima kritik itu sendiri. Ketika dia menempatkan diri pada posisi positif maka tentu saja sebuah kritik akan mendorong sang pribadi untuk maju, dan sebaliknya. Bukankah begitu?

Kenapa saya menulis ini? Entah kenapa, saya tidak bisa tidur malam ini. Saya kemudian beranjak menyalakan televisi saya, melihat beberapa  berita dan acara malam. Saya terus menerus mendengar kritik : entah karena kasus ledakan nuklir Jepang atau sebuah reality show mengenai sebuah acara memasak dimana juri terus mengkritik para peserta. Pikiran saya juga kemudian terbang ke beberapa kawan saya yang hobi mengkritik, entah tentang fotografi saya, kemampuan bermain gitar atau bahkan bagaimana saya bekerja di laboratorium.

Terus terang saya menyatakan diri masih ‘hijau’ dan ‘berklorofil’. Ibarat saya adalah tanaman, masih banyak metabolisme yang harus saya lakukan dalam satu hari bersama matahari. Jadi, terkadang saya memilah mana-mana kritik yang menurut saya ‘layak’ didengarkan dan mana yang tidak. Mereka yang layak akan saya masukkan ke dalam logika saya dan merubahnya menjadi sesuatu yang mendorong. Emosi tidak akan menyelesaikan apa yang kritik mulai. Jika emosi adalah api, maka kritik boleh kata adalah bensin. Jika tidak mengatur aliran ‘bensin’ tersebut, kita tentu akan mengalami ‘kebakaran’.

Dari semua itu, saya lebih memilih untuk tidak membalas mengkritik. Entah kenapa, saya membaca dalam sebuah buku bahwa memberikan efek positif kepada orang lain itu lebih baik dibandingkan kita ‘menyakiti’ mereka dengan kritik. Kecuali, jika memang kita diposisikan untuk memberikan kritik(seperti acara reality show diatas). Efek positif apakah? Yaitu dengan selalu menghargai pekerjaan atau pemikiran orang lain, apapun itu. Membicarakan ini atau menulisnya memang lebih mudah dari melaksanakannya. Akan tetapi, saya mencoba untuk senantiasa mengingatkan diri agar selalu bersikap positif.

Tidak perlu berkata-kata manis berlebihan ketika menghargai, cukuplah dengan memberikan pendapat yang baik setiap kali orang lain menyelesaikan pekerjaan mereka. Mari bersikap positif hari ini dan seterusnya ! Senantiasa mengingatkan diri sendiri dan orang lain.

Riza-Arief Putranto. 15 Maret 2011.

One thought on “MENGHARGAI LEBIH BAIK DARI MENGKRITIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s