INDAHNYA KETIKA KITA DIKETUK HATI NURANI

Hari ini, tertanggal 12 April, adalah hari dimana semua terasa cerah untuk saya. Hari lahir saya, beberapa puluh tahun yang lalu. Sebagaimana biasanya seseorang yang bermilad, pastilah berasa bahagia (dirayakan atau tidak). Saya, tidak merayakan hari lahir saya, hanya sebuah obrolan dan canda ringan dengan istri sebelum saya tidur. Sebuah kue tart kecil berwarna merah dia sajikan untuk saya, sungguh adalah saat paling membahagiakan untuk saya. Sayangnya saya tidak bisa mencicipi kue tersebut secara langsung.

Saya pun memulai hari keesokan dengan bersemangat. Resolusi sudah saya tancapkan, untuk senantiasa berusaha menjadi ‘pribadi yang lebih baik’. Itu saja. Sedari pagi, saya menerima banyak pesan dari kawan-kawan semua, baik melalui facebook, twitter, email, yahoo messenger bahkan blackberry messenger. Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengucapkan beribu terima kasih. Atensi sahabat-sahabat sekalian merupakan kado paling berharga untuk saya hari ini.

Akan tetapi, Allah memiliki rencana lain dan ‘cara tersendiri’ untuk memperingatkan saya. Jam digital komputer saya menunjukkan pukul 11h, dan saya menerima sebuah pesan singkat di message facebook dari seorang sahabat Montpellier. Secara singkat isi pesan tersebut adalah memohon doa & bantuan akan musibah yang sedang menimpa seorang kakak/mbak/sahabat untuk kawan-kawan pelajar atau yang sejawat. Saya menyebut, seorang kakak ini sedang menderita sakit parah dan sedang memasuki masa kritis.

Bersama dengan kawan-kawan pelajar lain, saya bergegas menuju rumah sakit. Saya bersedih dan saya ingin membantu. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sang kakak akhinya menghembuskan nafas terakhirnya setelah berjuang kritis selama beberapa jam. Ketika saya tiba, saya hanya menemui tiga kawan pelajar dan suami sang kakak. Saya yang  terengah-engah segera menemui sang suami dan mengucapkan turut berduka yang sedalam-dalamnya.

Saya membayangkan, seperti bagaimana yang terjadi di Indonesia, ketika seseorang meninggal. Apakah itu? Yakni keramaian, hiruk pikuk dan kepedulian. Lalu, kenyataan disini? Secara statistik, tiga orang plus satu dari keluarga, c’est tout !. Saya tidak menangis di luar, tetapi di dalam. Dua orang dari Rumah Duka (Complexe de Cimetière et Décès) datang untuk mengambil jenazah dan membawa ke Rumah Duka untuk proses selanjutnya. Saya tambah tersayat, ‘hanya itu ? dua orang ?’.

Tidak ada seorang pun dari kami (para pelajar) yang memiliki pengalaman untuk urusan pemakaman di Perancis. Kenapa di Perancis ? Almarhumah meninggalkan wasiat dan keinginan agar dikuburkan di tanah Napoleon supaya dekat dengan sang suami dan anak tercinta, bukan di tanah air Indonesia. Kemudian, sang suami tidak memiliki pengetahuan sama sekali untuk penguburan sesuai dengan agama yang dianut istri, Islam.

Saya dan dua orang sahabat pelajar, ikut menuju Rumah Duka yang terletak jauh di ujung timur kota Montpellier. Apa yang harus kita ketahui mengenai administrasi (état civil) pemakaman di Perancis ? Satu, pihak keluarga harus mengurus untuk membeli tanah pekuburan dan mengurus waktu pemakaman (kapan, dengan siapa, bagaimana, dengan menggunakan seremoni agama apa). Kedua, jika menggunakan cara Islam, seorang Imam harus dihubungi untuk menuntun acara pemakaman.

Lalu, kendalanya ? Di negeri ini, pemakaman tidak bisa dilakukan maksimal sehari setelah seseorang tiada. Pihak Rumah Duka memerlukan waktu untuk mengurus tanah, pembelian peti mati dan sebagainya. Semua itu menguras tenaga. Hukum Perancis terkenal ketat untuk urusan ini, saya sendiri tidak begitu memahaminya dengan baik. Ditambah, setiap pemakaman dengan pendekatan agama apapun wajib menggunakan peti mati. Hal ini tentu saja berbeda dengan apa yang selalu kita lakukan di Indonesia.

Allhamdulillah, jalan sang kakak sepertinya dimudahkan. Biasanya dalam sebuah acara pemakaman, pihak keluarga harus menunggu selama minimal satu pekan, hingga pihak Rumah Duka dapat membuat keputusan. Pemakaman untuk sang kakak sudah diputuskan dua hari mendatang. Tentu saja, lama waktu penggunaan tempat sudah ditentukan, harus tepat waktu dan tidak diperkenankan untuk berlama-lama. Masalahnya ? Siapakah yang akan memandikan jenazah, menyolatkan dan menguburkan ? Akhirnya, segelintir pelajar & penduduk Indonesia di Montpellier-lah yang wajib melaksanakan hal ini.

Tentu saja, mereka bukan ahli dalam urusan pemakaman, beberapa diantara kami, baru akan pertama kali melaksanakan ini. Rasa cemas dan was-was bercampur duka tentu hinggap di hati kami, akan tetapi InsyaAllah ini demi kebaikan seorang kakak kami. Saya berusaha untuk terus tersenyum, untuk terus berwajar ria, akan tetapi sedih ini, tak terbendung.

Selalu ada hikmah dibalik semua kejadian. Hari ini, Allah menyapa saya dalam bentuk lain. Dalam bentuk yang lebih nyata, bagaimana saya harus menghikmahi hari ulang tahun. Saya bersyukur hari ini, saya menghabiskan hari untuk membantu, untuk hadir secara fisik, memberikan dukungan, walau saya merasa belum banyak yang bisa saya lakukan. Kejadian ini juga merupakan sebuah ketukan untuk kita, untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita alami. Jangan memberikan kesimpulan terlalu dini untuk semua kemalangan yang sedang kita alami, bahwasanya kita sedang berada di dalam sebuah proses.

Innalillahi wa innailaihi raji’un, kakak. Semoga perjalananmu dilancarkan, diterima segala amal ibadahmu disisiNya. Dan, semoga keluarga kakak diberikan ketabahan, keikhlasan dan keikhlasan.

Riza-Arief Putranto. 12 April 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s