OPINI : MAKANAN & MINUMAN

Makanan tidak saja merupakan sebuah kebutuhan, akan tetapi juga salah satu sumber terbesar kenikmatan kita. Traktiran seperti coklat, kentang chips dan minuman bersoda memberikan rangsangan ‘kenikmatan’ pada otak besar yang memanggil kembali untuk mengkonsumsi. Dan, cara penyajian sama pentingnya dengan bahan dasar makanan itu sendiri. Roti dengan coklat kerak umumnya lebih menggiurkan dibanding roti tanpanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, makanan, sains dan teknologi telah berkaitan erat satu sama lain. Sebagai contoh, seorang koki berfikiran saintis seperti Harold McGee, Heston Blumenthal dan Ferran Adria (koki terkenal di US) memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk mengembangkan masakan baru, yang terkadang mengejutkan (dalam sens positif).

Dari mulut ke perut

Sistem percernaan manusia bekerja secara bertahap. Beberapa pencernaan berlangsung di mulut, akan tetapi proses sesungguhnya baru dimulai di dalam lambung dan diakhiri ketika makanan melewati usus menuju rectum (10 cm di atas anus). Usus-usus kita mengandalkan campuran bakteri yang membantu proses pencernaan.

Tergantung pada apa yang mereka makan, binatang mengatur sistem pencernaan mereka secara berbeda. Herbivora seperti sapi mempunyai rumen – sebuah ruang tambahan untuk mencerna rumput yang mereka makan sebelum mencapai perut. Sementara, buaya dapat mengalihkan sebagian darah mereka ke perut ketika mereka menelan mangsa yang besar.

Makanan dalam sudut pandang evolusi manusia

Manusia dahulunya adalah ‘pemburu-pengumpul’ sebelum mereka mengenal dan mengembangkan pertanian dan peternakan. Domba mungkin adalah binatang pertama yang diternakkan, diikuti oleh sapi dan babi.

Kita masih belum yakin apa yang nenek moyang kita makan, di masa awal keberadaan manusia, terutama bahwa sebagian besar makanan mereka berupa daging.

Telah menjadi bahan perdebatan bahwa penemuan ‘memasak’ merupakan faktor kunci dalam evolusi manusia,  pertanyaan yang sama diajukan ketika manusia pertama kali menemukan api.

Seperti kita, kera juga lebih menyukai masakan matang yang kita sajikan dibanding mentah. Hal ini dimungkinkan karena memasak memberikan energi lebih dibandingkan yang mentah.

Memberi makan dunia

Saat ini, hampir semua makanan kita berasal dari sektor pertanian. Dikarenakan peningkatan luar biasa populasi manusia selama kurun waktu 200 tahun terakhir, pertanian telah menjadi lebih intensif dan bergantung kepada teknologi, Revolusi Hijau pada abad-20 merupakan penanda pertama. Pada saat yang sama, teknologi penyimpanan & pengawetan makanan telah melaju dengan pesat.

Akan tetapi, keuntungan yang diperoleh bukan tanpa dampak. Kualitas tanah rusak, tanaman seperti pisang menjadi tidak lagi beragam, beberapa hewan langka punah dan habitat yang hancur. Peningkatan permintaan terhadap daging juga memberikan tekanan pada sektor pertanian.

Salah satu solusi untuk mengatasi masalah kekurangan pangan adalah dengan menerapkan rekayasa genetika untuk tanaman pangan dalam rangka meningkatkan hasil panen dan membuat mereka resisten terhadap penyakit. Namun, tanaman transgenik telah terbukti tidak populer di masyarakatn meskipun upaya keras dilakukan untuk menghasilkan varietas ramah lingkungan.

Kekhawatiran tentang kerusakan lingkungan dari pertanian mengarahkan perkembangan teknik ‘ramah lingkungan’ seperti pertanian organik tanpa menggunakan pupuk buatan serta pestisida. Pertanian organik memberikan tingkat produksi rendah, tetapi terbukti menghasilkan jumlah memadai dengan resiko kerusakan lingkungan yang rendah.

Pengangkapan ikan yang berlebihan di seluruh dunia juga menyebabkan kerusakan besar, mengurangi populasi sejumlah spesies.

Makanan dan kesehatan

Banyak orang pada masa kini menderita alergi makanan dan harus menghindari mengkonsumsi makanan pokok seperti beras, kacang dan gandum. Sebuah kondisi yang disebut intoleransi makanan yang muncul secara lambat (tahunan) tetapi memberikan efek tahan lama. Epidemi alergi terkait juga pada kehidupan modern yang lebih bersih.

Salah satu masalah kesehatan terbesar saat ini adalah obesitas. Terima kasih kepada makanan kaya lemak dan gula, banyak orang di negara-negara maju meningkatkan resiko kanker, diabetes dan kematian dini pada tubuh mereka. Bahkan obesitas ringan akan mengambil dua hingga empat tahun masa hidup manusia. Seorang anak menderita kelebihan berat badan maka ketika dewasa rentan terhadap resiko obesitas.

Penyebab obesitas sendiri sering menjadi bahan diskusi kontroversial. Secara mengejutkan, ilmuwan membuktikan bahwa kurang olahraga mungkin bukan merupakan faktor. Beberapa gen telah dikait-kaitkan dengan obesitas dan makan makanan yang mengandung banyak gula mungkin sebuah faktor. Sebagian kasus telah dikaitkan dengan virus yang menyebabkan sel lemak membengkak. Obesitas juga dikatakan secara sosial menular.

Berbagai macam pengobatan untuk obesitas telah dikembangkan. Diet merupakan pendekatan paling populer, meskipun ini tidak menyelesaikan masalah secara langsung. Diet sistem ‘Atkins’ yang kontroversial dimana karbohidrat seperti pati dan gula yang diklaim tidak menyebabkan pembentukan lemak, benar-benar menurunkan berat badan, walaupun kemungkinan memberikan konsekuensi kesehatan jangka panjang yang tidak jelas.

Salah satu tipe diet yang populer adalah vegetarianisme, penganut menghindari semua produk daging. Banyak orang melakukan diet semacam ini dikarenakan kepedulian mereka terhadap hewan, atau untuk meningkatkan kesehatan. Ternyata terdapat pula bukti bahwa mengurangi makan daging dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Teknologi mendatang

Tanaman pangan transgenik dan hewan hasil kloning terlihat tidak jauh berbeda. Kloning dapat memungkinkan petani untuk menjaga ternak mereka lebih baik, menjaga supply daging kualitas pertama. Tetapi, publik pada masa sekarang ini tidak memiliki nafsu makan akan produk transgenik.

Dalam beberapa dekade mendatang, terdapat kemungkinan bahwa daging dapat diproduksi secara in vitro (dalam tabung) tanpa perlu dikembangbiakkan sebagaimana lazim. Sayatan daging ayam dan bahkan katak telah dicoba ditumbuhkan dan berhasil pada skala penelitian, namun produksi masal masih jauh dari angan.

Di sadur dari New Science Magazine, April 4th 2009 : Michael Marshal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s