DARI KEJAYAAN ONLINE HINGGA ARKEOLOGI DIGITAL

Kita menciptakan warisan digital untuk diri sendiri setiap harinya, bahkan secara mengejutkan setiap menit. Lebih dari jutaan pengguna akun jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya online setiap saat. Semua informasi tentang pribadi yang tersimpan dan terekam secara online adalah catatan dari hubungan sosial dengan orang lain, ketertarikan & hobi, serta kepercayaan. Itulah siapa kita yang sesungguhnya. Seorang kepala pelayanan perangkat lunak untuk sebuah merek telpon genggam di San Francisco, Hans-Peter Brondmo, menyebut itu semua koleksi data dari ‘jiwa digital’.

Terima kasih kepada sistem penyimpanan dan easy copying, jiwa digital kita berpotensi untuk sesungguhnya abadi. Tetapi apakah benar bahwa segala sesuatu yang kita lakukan secara online berupa komentar-komentar, status, foto-foto memalukan disimpan untuk anak cucu ? Hal ini tentu menjadi pilihan. Kaum ‘preservationist’ percaya bahwa kita memiliki kewajiban kepada anak cucu (berupa menyimpan segala informasi terkait pribadi). Di sisi lain, kaum ‘deletionist’ memahami bahwa beberapa hal seharusnya dilupakan dan dijauhkan dari konsumsi publik.

Akan tetapi, sebagaimana internet telah secara sukses dan mulus terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, lagi dan lagi aktivitas kita terdokumentasi secara online. Kantor catatan sipil mungkin nantinya tidak lagi memerlukan berkas berupa kertas bertumpuk-tumpuk. Mereka hanya membutuhkan sebuah komputer dengan daya simpan yang besar, dan sebuah search engine untuk memudahkan memanggil kembali file yang dibutuhkan.

Pada masa sekarang ini, data digital dikelola dan ditimbun oleh perusahaan-perusahaan besar di internet, seperti Yahoo, Google dan Facebook. Mereka semakin memudahkan kita semua untuk menyimpan data dalam jumlah besar dan dalam waktu tak terbatas. Terkadang kita menjadi sasaran iklan yang tidak kita kenal, masuk ke dalam inbox email.

Yang menarik, data tersebut akan menjadi bukti & sasaran pembelajaran menarik untuk para sosiolog, arkeolog dan antropolog, mengenai fajar era digital. Bayangkan sebuah era di masa yang akan datang, dimana para arkeolog tidak lagi bekerja di tanah lapang, menggunakan kuas dan berlumpur untuk mencari fosil. Sebuah era dimana ‘fosil digital’ menjadi lebih penting.

Akan tetapi, tidak semua definitif bukan ? Saat ini, semua informasi digital tersebut lebih bersifat seperti kebiasaan oral dibandingkan dokumentasi secara tradisional (print-out, buku, laporan). Yaitu bahwa jika kita tidak mengulang-ulang pesan digital tersebut, secara mudah mereka hilang. Pertanyaan sederhana, ingatkah anda status Facebook yang anda tuliskan di wall setahun yang lalu ?

Dan semua kembali kepada pribadi yang menggunakan. Seyogyanya tidak melupakan bahwa digitalisme adalah sebuah alat, sebuah era mempermudah hidup manusia. Tenggelam bersama dunia digital mungkin erotis, akan tetapi tidak pernah akan bisa menggantikan kehidupan indah manusia yang sebenar-benarnya.

Semoga kita lebih bijak mensikapi.

Riza-Arief Putranto, 8 Mei 2011.


Bacaan disarankan :

1 Choudhury, P. 2011. Digital legacy : The fate of your online soul. New Science Magazine : 2809

2 Choudhury, P. 2011. Digital legacy : Archaeology of the future. New Science Magazine : 2809

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s